Monday, December 7, 2015

HIV/AIDS Tanpa Pertambahan Infeksi dan Tanpa Diskriminasi, Bukanlah Sebuah Mimpi

HIV/AIDS Tanpa Pertambahan Infeksi dan Tanpa Diskriminasi,
Bukanlah Sebuah Mimpi

            “HIV? Buat apa? Kita kan keluarga baik-baik!”
            Begitulah sebuah penggalan iklan layanan masyarakat yang belum lama ini dirilis. HIV/AIDS merupakan singkatan dari dua hal yang berkaitan. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus golongan lentivirus yang dapat menyebabkan penyakit kepada manusia. Orang yang terkena infeksi HIV belum tentu menimbulkan gejala. Seringkali dalam hitungan tahun barulah muncul gejala dari infeksi HIV tersebut. Pada tahap lanjut, infeksi ini dapat berkembang dan menimbulkan kondisi yang disebut Acquired Immundeficiency Virus (AIDS). AIDS membuka gerbang besar bagi infeksi oportunistik oleh bakteri, virus, parasit, bahkan jamur.
            Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia hingga September 2014, mayoritas kasus AIDS terjadi pada golongan usia 20-29 tahun dengan angka 18.352 orang. Sedangkan untuk pembagian menurut jenis kelamin, lebih dari setengah penderitanya adalah laki-laki. Berdasarkan pembagian wilayah, DKI Jakarta menduduki peringkat teratas angka kumulatif HIV/AIDS dengan 40.259 orang. Jawa Timur menyusul setelahnya dengan 28.225 orang, Papua 26.235 orang, dan Jawa Barat 17.698 orang.


Permasalahan dalam HIV/AIDS

            Permasalahan yang paling pertama muncul tentunya adalah masalah kesehatan. Kondisi dengan tingkat imun yang rendah menyebabkan seseorang rentan terkena penyakit. Infeksi-infeksi, bahkan yang umumnya tidak berbahaya, dapat menyerang orang dengan AIDS dan menyebabkan respon yang fatal. Hal ini tentunya terjadi karena tubuh tidak memiliki pertahanan terhadap infeksi yang masuk.
            Dari segi ekonomi, seseorang yang terkena AIDS tingkat lanjut dapat kehilangan produktivitas. Kehilangan produktivitas dapat menyebabkan gangguan finansial bagi keluarga atau orang yang ditanggung. Gangguan finansial ini dapat berujung kepada kriminalitas yang dapat menyebabkan masalah sosial, yang akan kita bahas lebih lanjut.
            Dari segi sosial, mungkin di sinilah letak sebagian besar masalah. Masalah pertama adalah penyebab penyakit itu sendiri. Perilaku berganti pasangan seksual adalah salah satunya.Tentunya  kebiasaan tersebut dapat menyebabkan keretakan dalam keluarga. Hasilnya, anak menjadi korban dari ketidakharmonisan keluarga. Dalam jangka panjang, anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bermasalah dapat tumbuh menjadi orang yang memiliki gangguan emosional.
            Salah satu penularan HIV juga melalui penggunaan jarum yang bergantian. Perilaku ini didorong oleh berbagai faktor, antara lain pergaulan, krisis kepercayaan diri, tingkat stress yang tinggi, krisis kepribadian dan lain-lain. Faktor risiko tersebut adalah faktor risiko yang melekat dalam sosok pemuda, menjadikannya begitu rentan tertular HIV. Penderita HIV/AIDS juga hingga saat ini masih mendapat pengucilan dari masyarakat. Banyak masyarakat yang takut untuk berada dekat dengan penderita HIV/AIDS. Berbicara saja rasanya segan, apalagi jika ada kontak fisik. Penderita HIV/AIDS seringkali mendapat pengucilan berupa pemecatan, larangan mengikuti kegiatan umum, dan sebagainya. Padahal, banyak sekali penderita HIV yang dapat memiliki kehidupan normal layaknya orang sehat dan berkeluarga.          


Idealisme dan potensi pemuda

            Sebagai seorang mahasiswa kedokteran, saya merasakan betapa besar potensi yang dimiliki seorang mahasiswa. Seorang mahasiswa pada umumnya memiliki pandangan yang sangat ideal terhadap tatanan kemasyarakatan. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, seringkali idealismenya terkikis oleh realita dunia kerja. Karena itu, alangkah baiknya langkah yang dilakukan organisasi pemuda maupun pemerintah adalah bagaimana cara agar idealisme yang dimiliki pemuda dapat tertanam untuk waktu yang lama.
            Dalam pandangan saya, pemuda adalah mereka yang berani memiliki mimpi dan punya semangat untuk meraihnya. Di negara maju, banyak orang yang berusia lanjut tetapi masih memiliki jiwa pemuda. Mereka masih berani bermimpi dan punya semangat untuk mencapai mimpi tersebut. Semangat besar yang dimiliki pemuda membuat mereka yang berpikiran positif cocok untuk menggerakkan hati dan pikiran banyak orang. Sayangnya, belum banyak gerakan dalam skala besar yang dilakukan oleh pemuda. Memang sudah ada program-program yang dilakukan oleh beberapa organisasi mahasiswa, tapi jarang yang memberikan efek jangka panjang. Gerakan-gerakan sosial yang berhubungan dengan kegiatan HIV/AIDS secara signifikan sejauh ini lebih banyak dilakukan oleh organisasi sosial atau pemerintah.
            Kita perlu mengambil contoh dari luar agar bisa melangkah ke depan. Mari kita tengok Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) yang menggerakkan 12 organisasi pemuda global dan regional yang bekerja dalam bidang kesehatan reproduksi serta 16 komunitas pemuda yang terbentuk dalam UNAIDS Youth Advisory Forum. Dengan prinsip think global but act local, forum ini bertujuan untuk menentukan arah yang jelas bagi para pemuda untuk bergerak bersama dalam membasmi HIV/AIDS. Fokus mereka sebagai pemuda terpelajar adalah advokasi kepada pemerintah dengan mengajukan sebuah kerangka strategis (framework) melalui advokasi. Prinsip yang layak kita anut bersama juga dalam pemberantasan HIV adalah prinsip zero new HIV infections, zero discrimination and zeri AIDS-related deaths.Suatu visi yang layak diperjuangkan.
           

Peran keluarga

            Keluarga memiliki peranan penting dalam penanggulangan HIV/AIDS di masyarakat. Kita dapat melihat dari 4 pendekatan kesehatan.
            Dari sisi preventif dan promotif, keluarga merupakan garis terdepan pertahanan terhadap HIV/AIDS. Perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba dapat dicegah dengan memberikan pendidikan dini kepada anak, serta melakukan pengawasan yang diperlukan. Keluarga yang tidak harmonis dapat menjadi sumber gangguan perilaku pada anak dan remaja. Penularan HIV/AIDS pada bayi juga dapat dicegah dengan melakukan deteksini pada ibu hamil. Jawa Barat adalah salah satu provinsi yang mewajibkan deteksi HIV pada ibu hamil. Deteksi ini bertujuan agar penularan secara maternal dapat dihindari sehingga bayi lahir bebas HIV. Keluarga juga menjadi sarana pendidikan kehidupan yang sangat penting bagi anak dan remaja. Orangtua memiliki kewajiban mendidik anaknya agar tidak salah dalam pergaulan dan kemasyarakatan.
            Dari segi kuratif, belum banyak jurnal yang memberikan data pasti mengenai terapi untuk kesembuhan total dari HIV/AIDS. Untuk infeksi HIV, penggunaan jangka panjang dari highly active antiretroviral therapy (HAART) terbukti dapat menghambat perkembangan HIV, terutama jika dimulai dini. Untuk AIDS, Timothy Ray Brown, adalah salah satu atau mungkin satu-satunya orang yang sembuh total dari AIDS. Brown berhasil sembuh dengan melakukan bone marrow transplant dari seseorang dengan gen bawaan yang resisten terhadap HIV.
            Dari segi rehabilitatif, keluarga memiliki peran vital. Mulai dari hal yang paling dasar yaitu dukungan. Dukungan keluarga bisa jadi menjadi motivasi paling utama bagi seorang penderita HIV/AIDS untuk tetap hidup. Dukungan finansial juga menjadi penyokong yang penting dalam kelangsungan hidup penderita HIV/AIDS.


HIV/AIDS dalam masyarakat

            Satu hal yang paling penting adalah, penderita HIV/AIDS adalah manusia. Manusia memiliki hak hidup dan potensi yang masih dapat diberikan, sekalipun dia dalam kondisi sakit sekalipun.
            Andrew Pulsipher adalah salah satunya. Mengetahui dirinya HIV sejak berusia 8 tahun, Andrew kini sudah memiliki istri dan 3 orang anak yang semuanya HIV negatif. Andrew adalah bukti bahwa penderita HIV memiliki potensi dan hak kehidupan yang sama dengan manusia normal, hanya saja dengan usaha yang lebih. Andrew harus menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin untuk mensupresi penyebaran virus di tubuhnya. Tetapi dengan semua perjuangan itu, Andrew dapat menjalankan kehidupan sehari-hari, bekerja, memiliki keluarga, dan beraktivitas sebagaimana biasanya. Andrew bahkan kini sudah berani untuk membuka diri terhadap penyakitnya, dengan alasan dia ingin mengajak masyarakat untuk lebih paham mengenai HIV/AIDS.
            Lain ceritanya dengan LJ, di usia 7 tahun dia sudah harus dipanggil oleh Sang Pencipta dalam kondisi memprihatinkan. Kedua orangtua LJ sudah meninggal pada tahun 2012, sehingga LJ dirawat seorang diri oleh kakaknya, VC (24). VC, LJ sudah beberapa kali diusir warga dari tempat tinggal mereka saat diketahui bahwa LJ terkena HIV. Oleh anak-anak dan tetangga juga, mereka dikucilkan dan sering diolok-olok. Untungnya masih ada rumah sakit yang menerima saat LJ jatuh sakit. Pegawai rumah sakit tersebut bahkan mengumpulkan uang agar LJ dapat tetap makan. Tetapi akhirnya LJ tidak tertolong dan meninggal dalam usia dini.
            Pelajaran di atas menunjukkan kita betapa besar peran masyarakat dalam penanganan masalah HIV/AIDS. Keluarga adalah lini pertama dalam penanganan, mulai dari tempat berteduh, dukungan finansial, dan yang paling penting dukungan emosional. Keluarga bagi sebagian besar orang adalah alasan utama untuk  tetap bertahan hidup. Lebih jauh, pemuda memiliki peran dan potensi besar dalam penanganan HIV/AIDS. Dimulai dengan menjaga diri sendiri agar tidak tertular, juga menjadi inspirasi positif bagi pemuda lainnya. Ilmu agama yang kuat perlu dimiliki oleh seorang pemuda sebagai pondasi dalam bergaul di masyarakat. Pondasi yang kuat akan mempertahankan kegigihan pemuda dalam menahan gelombangan negatif yang datang dari pergaulan bebas di masyarakat.
            Pemuda sesungguhnya adalah tonggak bangsa yang memiliki kekuatan perubahan. Visi zero new HIV infections, zero discrimination and zeri AIDS-related deaths bukanlah susunan kata tanpa arti di hadapan pemuda. Pemuda memiliki potensi ledakan  perubahan saat mereka mau bersatu menggandengkan tangan dan berkolaborasi. Seperti yang bapak bangsa kita, Ir. Soekarno, pernah serukan, “Berikan aku 1000 orangtua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!”
            Hidup pemuda Indonesia!

Dokter Indonesia : Siapkah Kita Menghadapi Era Masyarakat Ekonomi ASEAN?

Dokter Indonesia : Siapkah Kita Menghadapi
Era Masyarakat Ekonomi ASEAN?

Pendahuluan

            Singapura, 12 November 2007. Negara-negara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) menyepakati sebuah cetak biru deklarasi yang kini kita sebut sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kesepakatan ini antara lain muncul karena ada keinginan untuk mencapai level dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di negara-negara ASEAN. Kebijakan seperti ini memiliki kesamaan dengan European Union (EU) yang menerapkan kebijakan free-trade area dalam wilayahnya.
            MEA sendiri merupakan bagian dari proses perwujudan ASEAN Vision 2020 yang mengharapkan wilayah ASEAN pada tahun 2020 akan menjadi “Zone of Peace, Freedom and Neutrality” sebagaimana digambarkan dalam Deklarasi Kuala Lumpur tahun 1971. (2008)
Melihat kesiapan dokter Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN
            Jika kita melirik pada sistem pendidikan kedokteran, tentunya kita tidak kalah dengan negara ASEAN lainnya. Dilihat dari sisi jangka waktu, rata-rata 5-6 tahun adalah waktu yang juga diperlukan untuk menjadi seorang dokter di negara-negara ASEAN. Ada beberapa kendala yang dikeluhkan baik dari pihak mahasiswa kedokteran maupun dokter. Tidak meratanya tenaga pengajar serta fasilitas menyebabkan ada kesenjangan dalam pendidikan kedokteran. Masalah lain juga muncul terutama dari para dokter muda di daerah yang padat, seperti Jakarta atau Jawa Barat. Banyaknya dokter muda, perawat, bidan, bahkan residen berebut pasien yang datang menyebabkan suasana kurang kondusif untuk mendapatkan pengalaman klinis yang mumpuni.
            Dari segi non-medis, ada beberapa hal yang bisa disoroti dari dokter Indonesia. Biarpun pendidikan kedokteran menekankan tindakan promotif yang baik dalam bentuk edukasi, pada praktiknya dokter-dokter terutama di puskesmas dan daerah padat cenderung jarang melakukannya dalam lingkup klinik. Memang penyuluhan rutin dilakukan, tetapi edukasi saat menangani pasien masih minim. Hal tersebut terjadi karena jumlah pasien yang membludak setiap harinya. Kebiasaan tersebut tentunya perlu diperbaiki.
            Isu lain yang penting dibahas adalah perihal bahasa. Hingga saat ini ujian kompetensi untuk dokter Indonesia menggunakan Bahasa Indonesia. Tentunya hal ini sangat penting, mengingat praktik dilakukan di Indonesia. Tetapi, Bahasa Inggris yang mumpuni juga diperlukan untuk dapat bersaing secara internasional. Hal ini tentunya perlu menjadi pertimbangan bagi institusi pendidikan kedokteran ke depannya.


Pentingnya regulasi yang tidak merugikan warga negara Indonesia

            Keterbukaan dalam bisnis regional memerlukan regulasi yang sesuai. Presiden Indonesia Joko Widodo mengemukakan dalam KTT ke-25 ASEAN di Nay Pyi Taw, Myanmar, bahwa Indonesia di bawah pemerintahannya terbuka untuk bisnis. Namun, Indonesia, seperti negara berdaulat manapun, harus memastikan kepentingan nasional tidak dirugikan. (2014)
            Kita dapat melihat ke belakang hubungan bilateral antara Indonesia-Tiongkok yang sudah berjalan puluhan tahun lamanya. Baik investor maupun pekerja dari Tiongkok datang berbondong-bondong menanamkan modal dan bekerja di Indonesia. Sementara itu regulasi pemerintah yang tidak tegas dalam mengatur kerjasama dengan luar negeri mengakibatkan perekonomian dikuasai oleh warga negara asing. Jangan sampai era liberalisasi ini membuka kesempatan bagi neo-kolonialisme.
            Dilihat dari sisi kesehatan, regulasi mengenai praktik kedokteran merupakan isu utama yang harus diselesaikan sebelum kita dihempas oleh gelombang pekerja asing dari luar negeri. Indonesia selama ini banyak bekerjasama dengan investor asing dalam berbagai bidang. Tanpa regulasi yang kuat, jelas, dan konsisten, tenaga kesehatan Indonesia akan menjadi bulan-bulanan tenaga kesehatan asing yang datang dari luar.
            Pembaruan regulasi pun perlu dilakukan juga dalam bidang pendidikan kedokteran. Saat ini ada kendala dalam pendidikan profesi kedokteran, salah satunya adalah internship dengan interval yang lama setelah kelulusan menyebabkan para dokter terlambat memasuki dunia kerja. Hal ini berpotensi menurunkan daya saing para dokter yang sudah Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).
            Sejauh ini blueprint MEA terkait dengan  perdagangan jasa mencakup 4 modes of supply, yaitu cross-border supply, consumption abroad, commercial presence, dan movement of natural person. (2008)
            Mode 1, Cross-border supply, adalah pasokan lintas batas jasa, contohnya saat WNI membeli jasa dari luar negeri tanpa harus meninggalkan tempat tinggalnya melalui telemedicine. Mode 2, Consumption abroad, adalah jasa yang diberikan oleh penyedia jasa kepada warga negara asing. Mode 3, Commercial presence adalah jasa yang diberikan oleh penyedia jasa luar negeri di negara konsumen, misalnya perusahaan asing mendirikan rumah sakit di Indonesia. Mode 4, Movement of natural person adalah tenaga kerja asing yang menyediakan jasa keahlian tertentu dan datang ke negara konsumen, misalnya dokter asing praktik di Indonesia. (Sunaria, 2015)
            Mekanisme penjadwalan penghapusan hambatan perdagangan jasa diatur dalam ASEAN Framework Agreement on Service (AFAS). Sejak disepakatinya AFAS, liberalisasi jasa dilakukan secara bertahap dengan membuat paket Schedule on Commitments (SoC) untuk setiap putaran. Komitmen tersebut tidak boleh ditarik kembali. Hingga saat ini, Indonesia belum memberikan komitmen  untuk Mode 4. Untuk Mode 1 dan 2 disepakati tanpa limitasi. Untuk Mode 3 disepakati dengan ketentuan: penyertaan modal asing sampai dengan 70%, kecuali di Makasar dan Manado sampai dengan 51%; tenaga kesehatan wajib merupakan warga negara Indonesia; pendirian terbatas di ibukota provinsi di wilayah Indonesia Timur. (Sunaria, 2015)
            Dari uraian di atas dapat kita simpulkan, hingga saat ini pemerintah masih belum membuka pintu secara bebas bagi tenaga asing, dan jika dilihat dari pernyataan Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan, pemerintah akan tetap mempertahankan komitmen tersebut. Kita harus realistis bahwa daya saing warga negara Indonesia masih belum cukup dibandingkan dengan negara-negara tetangga, sehingga harus sangat berhati-hati dalam membuka pintu untuk tenaga asing.


Strategi negara dalam berkompetisi dengan negara asing

            Dalam kondisi persaingan yang sangat ketat, sangat diperlukan kesadaran untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing. Mantan Menteri Kesehatan Indonesia, Nafsiah Mboi pernah mengutarakan pentingnya menjaga serta meningkatkan mutu dan daya saing SDM Kesehatan Indonesia serta meningkatkan pengawasan tenaga kesehatan warga negara asing yang bekerja di Indonesia. Upaya pengembangan SDM kesehatan ini salah satu wujudnya adalah dengan mengesahkan undang-undang yang berkaitan dengan kesehatan.
            Dalam bidang ketenagakerjaan, satu hal utama yang perlu diatur adalah jumlah tenaga asing yang akan masuk. Jumlah dokter umum di Indonesia berdasarkan Konsil Kedokteran Indonesia per 21 April 2015 ada di angka 104.772 yang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk ada di angInveka 1 dokter untuk sekitar 2.400 penduduk. Angka ini sebenarnya sudah memenuhi standar WHO yang memberikan rekomendasi 1 dokter untuk 2500 penduduk. Tapi ternyata sebagian  besar dokter tersebut terpusat di bagian barat Indonesia. Pulau Jawa begitu padat dengan dokter sementara wilayah Indonesia timur masih sangat kekurangan. Masuknya tenaga asing ke dalam negeri bisa kita gunakan untuk daerah-daerah yang kekurangan peminat tenaga kesehatan. Jika regulasi ini dapat diimplementasikan, kita dapat memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di daerah yang kekurangan. Jika mereka menolak, berarti kita dapat mengontrol jumlah tenaga asing yang masuk ke Indonesia
            Dalam bidang investasi, kita harus berhati-hati dalam membuat kesepakatan. Seringkali dalam investasi yang masuk, terlampir syarat-syarat terselubung. Misalnya saat investor dari suatu negara menanamkan modal, mereka memberi syarat tenaga kerja proyek tersebut harus didatangkan dari negara mereka. Hal ini justru malah mengambil porsi lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Seharusnya dalam setiap investasi atau masuknya tenaga asing, ada kerjasama bahwa mereka harus mempekerjakan orang Indonesia atau melibatkan orang Indonesia dalam proses. Hal ini dapat meningkatkan lapangan pekerjaan serta mengembangkan kualitas SDM dari Indonesia. Sebenarnya regulasi ketenagakerjaan mengatur tentang hal ini, tapi pada praktiknya warga negara Indonesia hanya menjadi buruh, tanpa ada transfer ilmu.
            Dalam bidang pendidikan, Indonesia perlu untuk meningkatkan jumlah pelajar yang menimba ilmu di negeri asing. Berdasarkan Webometrics, saat ini hanya Universitas Gadjah Mada saja yang masuk ke peringkat 10 besar Asia Tenggara. Sisanya didominasi oleh Singapura, Thailand, dan Malaysia. Saat ini MEA belum mencantumkan regulasi lebih lanjut mengenai kerjasama pendidikan antarnegara. Jika kita dapat mewujudkan kerjasama dalam dunia pendidikan di era MEA ini, kita dapat meningkatkan kualitas SDM Indonesia untuk nantinya bersaing dengan warga negara asing.


Medical Tourism

            Salah satu bentuk spesifik pelayanan kesehatan yang bisa kita kembangkan adalah medical tourism. Medical tourism ini adalah sesuatu yang lazim dilakukan orang negara kita sendiri khususnya di Malaysia dan Singapura. Tidak kurang dari lima ratus orang per tahun datang ke negara tetangga untuk berobat. WNI yang berobat di luar negeri adalah kalangan menengah ke atas yang menganggap fasilitas medis maupun tenaga kesehatan di Indonesia masih di bawah standar kelayakan sehingga mayoritas mereka pergi berobat di luar negeri.
            Pertanyaan selanjutnya, mengapa WNI lebih senang untuk berobat ke Malaysia atau Singapura? Jawabannya adalah : pelayanan, fasilitas, dan harga. Pelayanan rumah sakit dan dokter di Malaysia terkenal jauh lebih ramah. Dokter menyisihkan banyak waktu untuk menjadi pendengar yang baik dan memberikan edukasi dengan lengkap kepada pasien. Hal ini tentunya sulit dilaksanakan di Indonesia dengan jumlah pasien yang membludak. Di fasilitas layanan primer, pasien dalam satu hari paling tidak menyentuh angka lima puluh orang. Dalam hal fasilitas, Indonesia masih belum bisa menyediakan alat medis untuk terapi dan diagnosis sebaik Malaysia. Hal ini tentu saja menjadi tanda tanya besar, karena Indonesia dan Malaysia sama-sama bergantung pada impor dari luar negeri. Ternyata hal ini berhubungan erat dengan pajak yang dikenakan pada alat-alat medis dan obat. Di malaysia alat medis dan obat tidak dikenakan pajak lagi oleh pemerintah, sehingga harga barang bisa lebih murah sekitar 40% dari Indonesia. Hal itu tentunya berimbas pada pasien, yang harus membayar mahal untuk pelayanan kesehatan. Ditambah lagi angka anggaran kesehatan kita yang masih berkisar sekitar 2-4%, padahal negara-negara lain rata-rata 10% dari APBN. (Wirawijaya, 2014)
            Dari masalah-masalah tersebut, momentum MEA ini dapat menjadi pertimbangan kembali bagi pemerintah untuk mengatur arus investasi dalam bidang kesehatan. Jika tenaga kesehatan asing dirasa masih perlu dibatasi, investasi seharusnya mendapat tempat yang pantas di dalam sektor kesehatan. Investasi dari luar dalam bentuk pelayanan dan fasilitas kesehatan berupa rumah sakit yang berkualitas, laboratorium yang lengkap, infrastruktur yang nyaman dan indah, dapat menjadi dorongan bagi Indonesia untuk bersaing dengan negara-negara tetangga dalam bidang medical tourism.
            Tentunya sebelum memanfaatkan investor asing, komitmen dari dalam negeri perlu dibangun terlebih dahulu. Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada tahun 2013 pernah membuat kerjasama tentang pengembangan wisata kesehatan. Hal ini perlu diwujudkan nyata dalam bentuk peningkatan anggaran kesehatan dan pariwisata bagi medical tourism.
            Dari seluruh pemaparan-pemaran di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa saat ini tenaga kesehatan Indonesia belum memiliki daya saing yang cukup untuk dapat bersaing langsung dengan tenaga asing. Masih perlu peningkatan sikap serta kualitas kerja. Dalam menghadapi MEA ini juga, Indonesia masih perlu meningkatkan kualitas pendidikan kedokteran sebagai modal untuk bersaing dalam MEA. Kemudian sektor-sektor potensial dalam bidang kesehatan seperti medical tourism harus ditingkatkan dalam MEA ini untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam kompetisi internasional.
            Doa kita semua, semoga pemerintah dapat mengambil kebijakan yang sebaik-baiknya dan warga negara Indonesia punya kesadaran tinggi untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Semoga warga negara dan pemerintah bisa lebih sadar betapa pentingnya maju bersama-sama dan berkolaborasi. Seperti kata Walikota Bandung, Ridwan Kamil, “Kini bukan zamannya mengubah zaman sendirian. Kita perlu bersama-sama, kita perlu berkolaborasi. Kolaborasi itu ibarat kunci pintu rumah yang bernama masyarakat madani”.


Referensi


Essay ini memenangkan Juara 1 Essay Competition Kajian Luar Biasa dalam Indonesia Englightenment Exhibition dengan tema "Regulasi Tenaga Kesehatan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN"

Saturday, January 11, 2014

Small Step in 2013, Big Leap for 2014

Rupanya seperti biasa, setahun kembali berlalu. Waktunya untuk kembali merenung sejenak untuk beristirahat dari tekanan rutinitas yang begitu melelahkan, untuk duduk tenang, mengambil laptop kesayangan, dan refleksi. Refleksi di sini bukan massage atau reflexology. Refleksi di sini maksudnya adalah bercermin. Melihat diri kita dari pantulan yang kita fasilitasi. Pantulan yang jujur, apa adanya, tanpa kepalsuan apa-apa.


College
2013 ini saya melalui semester 3 kehidupan di FK Unpad yang sebenarnya cukup banyak tantangan! Sulit, rumit, tetapi menyenangkan dan menantang! Suasana perkuliahan banyak sekali yang membuat saya begitu betah di sini. Detailnya mungkin saya ceritakan di cerita masing-masing :D


Subject & Grade
Harapan saya di 2013 adalah, saya bisa naik tingkat 2 dan IP di atas 3.5.

Sayangnya harapan itu belum tercapai, dan sepertinya tidak akan tercapai dalam waktu dekat. Semester 3 ini menjadi semester yang cukup suram untuk dunia akademik saya. Entah saya yang masih belum mendapatkan metode belajar yang pas, atau saya terlalu asyik dengan dunia organisasi, atau saya belum bisa konsisten dalam belajar. Yang jelas, nilai saya tidak bagus. Saya harus mendapat D di beberapa pelajaran, serta remedial di SOOCA, ujian yang selama ini selalu menjadi penyelamat nilai saya. Alhasil, dipastikan remedial menunggu saya di penghujung tahun. 

Sesuatu yang miris, tapi tidak akan membuat saya patah semangat. Akademik bukan nomor satu untuk saya. Tapi saat saya tidak mendapatkan ilmu juga dari itu, itu menjadi sebuah masalah yang sangat besar. Saya benar-benar ingin 2014 nanti saya bisa mencicil perlahan pelajaran, serta tidak pernah terputus konsistensi dalam belajarnya. IP di atas 3.5 harus segera tercapai. Harus!

Organization
Ibarat reksa dana saham, organisasi ini adalah suatu produk yang memberikan keuntungan tertinggi, tapi dengan risiko yang sangat tinggi pula. Naik turun pun bukan sesuatu yang aneh, pasti terjadi.

Organisasi menjadi salah satu landmark besar di tahun 2013 ini. Keaktifan saya di Hubungan Luar PH Kema FK Unpad, Asy-Syifaa FK Unpad, Medical Music Symphony, Pingpong, Medicalympic, dan masih banyak lagi, menjadi hal-hal yang memberikan 2013 memiliki arti.

Saya menyadari bahwa begitu saya mencintai berorganisasi dan membangun sesuatu bersama-sama dengan orang lain. Hal ini sepertinya adalah sesuatu yang akan saya jaga terus sampai kapanpun.

Harapan saya, di 2014 ini, saya bisa memasuki sebuah organisasi yang sudah saya impikan sejak lama, Atlas Medical Pioneer. Satu organisasi yang telah membuat saya menolak berbagai macam amanah lain. Saya berharap ini bukan pilihan yang salah. Karena bagaimanapun, hati saya tak pernah mengatakan untuk memilih yang lain. Saya juga berharap bisa memberikan kontribusi besar di ISMKI Nasional sebagai bagian dari International Affairs. Tahun yang akan cukup menarik sepertinya :)

Activity
Kalau ada aktivitas baru, mungkin itu adalah lari! Ya, olahraga satu ini adalah olahraga yang paling saya benci pada awalnya. Tapi karena tuntutan AMP yang membutuhkan kekuatan lari yang prima, mau tidak mau saya harus melakukan persiapan. Aktivitas lain yang juga sangat meningkat intensitasnya di tahun ini adalah menonton film dan masak! Mungkin ini efek tinggal di Pinewood, yang memberikan ruang masak yang cukup, dan internet yang kencang untuk men-download film-film yang asyik. Hasilnya, waktu banyak terhabiskan untuk hal-hal seperti itu :D

Mudah-mudahan 2014 bisa diisi dengan lebih banyak olahraga dan hal-hal positif lainnya :)


Achievement
Pencapaian ya. Saking banyaknya yang terjadi di 2013, saya sampai bingung pencapaian terbesar yang saya raih di tahun ini apa. Mungkin boleh dibilang 2013  kemarin itu adalah tahun di mana saya meletakkan dasar-dasar karakter juga tujuan yang akan saya raih. Jadi mungkin hasil besarnya masih akan terlihat di kemudian hari, tidak di tahun tersebut.

Ada beberapa pencapaian yang saya inginkan di 2014. Yaitu, berhasil diterima sebagai Anggota Muda AMP XXII, serta mengikuti March Meeting atau August Meeting IFMSA. Mudah-mudahan dipermudah jalannya :)
  
Love
Kalau saya baca resolusi awal tahun 2013, saya bilang bahwa beberapa tahun ke depan saya belum ada rencana buat deket sama siapa-siapa lagi. Ya, itu karena saya nulisnya bulan Januari. Tapi ternyata sekitar bulan Maret, Allah berkata lain. Ternyata biarpun tidak pernah terpikirkan sebelumnya, saya bisa dekat kembali dengan seseorang :) Dan kali ini, hubungannya jauh lebih serius dan lebih terencana dari sebelumnya. Mungkin faktor paling besar kenapa bisa berhasil sejauh ini adalah karena saya tidak membutuhkan adaptasi sama sekali, hampir tidak perlu. Mungkin memang kesalahan-kesalahan di masa lalu adalah pelajaran untuk saya agar mencapai titik ini, di mana saya sudah cukup baik secara pikiran untuk menjalani sesuatu.

Di 2014 ini, mudah-mudahan yang kami rencanakan untuk tahun ini, dan tahun-tahun ke depan berjalan dengan baik, sesuai dengan rencana. Kalaupun tidak sesuai, mudah-mudahan diberikan rencana yang lebih baik :) 

Friendship
Teman adalah keran. Mungkin filosofi yang aneh, tapi teman adalah sebuah diafragma yang seringkali mengatur kehidupan kita dengan baik. Kapan kita harus mengeluarkan sedikit dari diri kita, kapan kita harus mengeluarkan banyak dari diri kita. Bukan hanya terlempar dengan liar dan sia-sia. 

Di 2013 ini saya belajar untuk mendapatkan teman-teman berkualitas. Kalau tahun-tahun sebelumnya saya mendapatkan teman dengan kuantitas yang tinggi, tapi dengan kedekatan yang dangkal. Tahun ini saya belajar untuk mendapatkan teman tidak terlalu banyak, tapi sangat dekat dan sangat mengerti.

Mudah-mudahan di 2014 ini saya bisa menjadi teman bahkan sahabat untuk orang-orang yang membutuhkan saya. Dan semoga saya pun memiliki orang-orang yang selalu tersenyum saat tahu bahwa saya butuh mereka.

Knowledge
Mencari pengetahuan itu bagaikan meminum air laut. Semakin banyak yang diminum, semakin haus kita akan hal tersebut. Banyak hal yang saya dapatkan, pengetahuan-pengetahuan organisasi dan antropologi yang sangat menarik. Serta yang tak lepas adalah pengetahuan agama. Semakin banyak saya membaca dan mencari tahu, semakin haus saya akan hal itu. Tapi ternyata waktu dan pikiran menyatakan saya perlu memberikan ruang untuk hal-hal lain.

Pengetahuan umum merupakan sesuatu yang menurun dengan drastis di 2013 kemarin. Pengetahuan umum yang biasanya merupakan sesuatu yang saya senangi, tiba-tiba menghilang seiring dengan isolasi saya di Jatinangor tercinta ini.

Di 2014 nanti saya ingin lebih banyak mengetahui isu-isu global yang terjadi di dunia ini, dan bagaimana sikap saya seharusnya menghadapi hal itu untuk masa kini dan masa depan.

Behaviour
Sikap sekali lagi adalah sesuatu yang sangat penting dijaga. Cara bicara, gesture, serta pilihan kata merupakan hal-hal yang sangat saya perhatikan. Semakin dewasa seseorang, katanya, semakin sensitif ia terhadap kata-kata yang menyinggungnya. Mungkin memang begitulah orang dewasa, punya ego yang jauh lebih besar sehingga harga dirinya mudah terluka dengan kata-kata kecil yang sebenarnya tidak terlalu signifikan. 

Sikap adalah sesuatu yang ingin saya improve lagi di 2014 ini, terutama bagaimana saya menempatkan posisi sebagai orang yang sejajar dengan orang lain, tidak di atas atau di bawah, tapi berdiri berdampingan.
 
Kedewasaan
Soal kedewasaan, seperti biasa tidak banyak berubah. Betapa pentingnya menjaga keseimbangan antara kekanak-kanakan dan dewasa. Betapa pentingnya menjaga semangat anak kecil dalam tubuh dan pikiran orang dewasa. Betapa pentingnya menjaga excitement anak kecil dalam ketenangan orang dewasa.

Keuangan
Nah, ini baru sesuatu yang fresh! Kalau selama ini saya tidak terlalu berpikir panjang soal keuangan, tahun ini menjadi tahun onset untuk perencanaan keuangan masa depan!

Di 2014 ini saya ingin memulai untuk belajar mengelola uang dengan baik, mengatur keuangan dengan baik, juga memulai investasi jangka menengah dan panjang. Mungkin ini didasari dari keinginan membangun keluarga, yang sepertinya tidak akan lama lagi :D mudah-mudahan di 2014 ini peletakan dasar-dasar keuangan bisa dimulai dengan baik :)

Kesehatan
Sehat sepertinya kalimat yang cukup mewakili 2013. Kondisi fisik yang meningkat karena latihan yang rutin juga asupan gizi yang lebih seimbang memberikan resultan yang sangat baik untuk diri saya. Sebagai calon dokter sepertinya sudah seharusnya memang saya menjaga tubuh dengan sebaik-baiknya :)
  
Kesan 2013
2013 adalah tahun organisasi. Mulai dari awal hingga akhir, 2013 dipenuhi dengan organisasi serta kepanitiaan. Benar-benar tahun di mana saya diperkenalkan dengan orang-orang baru, yang mempunyai pandangan baru serta kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tahun di mana saya disadarkan bahwa pada akhirnya saya harus memilih beberapa spesialisasi kehidupan yang harus saya pilih. Karena pada akhirnya masing-masing manusia mempunyai role masing-masing di masyarakat. Kita tidak harus menjadi segalanya, cukup menjadi apa yang kita cintai saja :)

2013 pun tentunya tidak lengkap tanpa kehadiran sahabat-sahabat saya. Mulai dari sahabat lama yang tak pernah hilang, serta sahabat-sahabat baru yang berdatangan dan mengisi ruang di hati di 2013 ini. Dan tentunya, satu sahabat, yang selalu menemani dalam segala aspek kehidupan, yang mudah-mudahan bisa selalu menjadi sahabat hidup saya. 2013 tentu tidak akan menjadi 2013 tanpa dia. My entire life would be different if I hadn't meet her. 

Jadi ternyata, segala kesedihan selalu ada agar kita mengerti bahwa ada rencana yang lebih baik, dan semoga 2013 ini menjadi sebuah halaman baru, awal dari sebuah buku baru yang kosong dan bisa dituliskan dengan apapun yang kita ingin. Semoga saya bisa menyimpan dengan baik buku-buku 1993-2013 dengan baik, di tempat yang aman, dan menulis dengan tenang 2014 dan lembaran-lembaran selanjutnya.

Yang mesti diperbaiki di 2014
Kalau saya boleh meramal, sepertinya tahun 2014 ini akan penuh dengan kegiatan AMP. Ya, karena memang itu adalah sebuah organisasi yang sudah menjadi passion saya, dan saya ingin serius serta prepared dalam menjalaninya. Mudah-mudahan AMP menjadi pilihan yang tepat dan saya bisa menjalaninya dengan sepenuh hati tanpa keraguan sedikitpun

2013 pun menyadarkan saya betapa saya harus memilih fokus dalam hidup saya, tidak bisa lagi saya memilih begitu banyak dan akhirnya hanya bisa setengah-setengah dalam menjalankan semuanya. Di 2014 ini saya ingin menetapkan fokus sehingga saya bisa menjalani semuanya dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin.

Saya juga ingin memiliki teman-teman yang lebih dekat, serta menjaga hubungan dengan teman-teman yang lama selama ini. Saya perlu membangun kembali hubungan dengan sahabat-sahabat yang terputus karena kesibukan selama di FK Unpad ini.

Mungkin di 2014 ini pertama kalinya saya merasa hidup serasa begitu banyak misteri. Mungkin karena terlalu banyak pilihan, terlalu banyak spekulasi, terlalu banyak variasi dalam kehidupan. Tapi mungkin itulah yang menjadikan hidup kita menarik. Itulah yang menjadikan hari kita menyenangkan. Saat kita membuka mata, dan tahu bahwa hari ini kita akan mendapatkan sesuatu yang baru. Itulah saat-saat di mana saya selalu bisa menjalani hari dengan senyuman. Menjalani hari dengan positif. Berjalan dengan langkah lebar, dengan postur yang tegap, dan tangan yang mengayun dengan pasti. Tantangan lah yang menjadikan hidup itu nyaman dan berarti. It is not about staying in your comfort zone, it's about expanding your comfort zone.

Banyak hal menarik dan kejutan menarik menunggu saya di 2014. And I can happily say, I can't wait for it :)


"Work for a cause, not for applause. Live life to express
not to impress. Don't strive to make your presence noticed,
just make your absence felt."

Semoga 2014 menjadi tahun yang berarti.

Jatinangor, 11 Januari 2014
Aditya Nugraha Nurtantijo

Tuesday, August 13, 2013

One little soundtrack for today...

Mungkin aku, bukan pujangga
Yang pandai merangkai kata
Ku tak selalu, kirimkan bunga
Tuk ungkapkan hatiku

Mungkin aku, takkan pernah
Memberi intan permata
Mungkin aku, takkan selalu
Ada di dekatmu

Kuingin kau tahu... Isi di hatiku...
Ku tak akan lelah jaga hati ini
Hingga dunia tak bermentari

Satu yang kupinta
Yakini dirimu
Hati ini milikmu
Semua yang kulakukan untukmu
Lebih dari sebuah
Kata cinta untukmu
Diriku...

Monday, August 12, 2013

Surga Kolektor!

Halo!
Jadi hari ini saya mau bicara sebagai kolektor jersey yang masih newbie banget.
Mungkin sejak setahunan ini ada benda baru yang bener-bener saya gemari yaitu jersey.

Kenapa benda ini begitu spesial?

Saya bukan orang yang begitu terlalu suka shopping atau fashion, mungkin hampir bisa dibilang buta soal fashion, tapi satu baju ini terasa begitu spesial. Sejak dulu saya punya prinsip kalau baju yang saya kenakan bukan hanya supaya nyaman dan enak dilihat, tapi unsur yang tidak kalah penting adalah nilai atau arti dari apa yang kita pakai. Itu yang membuat saya sangat senang saat memakai sesuatu yang beratribut institusi saya berada, misalnya sekolah, kampus, organisasi, dsb. You are what you wear mungkin bisa dipakai dalam situasi ini :D

Jersey punya arti khusus. Benda ini bukan hanya selembar kain 100% Polyester. Benda ini mempunyai arti loyalitas dan sejarah bagi orang-orang yang mengerti. Bukan hanya sekedar kain berpola garis-garis atau warna-warni. Benda ini dapat membawa nostalgia bahkan menggetarkan hati. Tentunya bagi mereka yang mengerti :)

Saya tentunya sebagai penggemar Liverpool jersey utama yang yang saya kumpulkan adalah jersey-jersey Liverpool. Selain itu juga saya mengumpulkan jersey Michael Owen (tentunya kecuali saat dia sedang ada di MU). Ini sebagian dari koleksi Liverpool.

Liverpool FC


Nah, sebenernya benda ini yang original, ready stock dan pilihannya banyak itu susah susah gampang mencarinya di Indonesia. Di Jakarta memang banyak yang menjual jersey original, tetapi kita harus mencari di keramaian mal. Itu pun biasanya tokonya tidak terlalu besar dan tidak terlalu banyak pilihannya. Kebanyakan seller di Indonesia biasanya melayani pre-order dari situs-situs yang terpercaya seperti ebay atau CFS.

Tapi kebetulan saja, di negeri tetangga kita, Singapore, rupanya cukup banyak tempat yang menjual jersey-jersey yang langka di Indonesia. Tokonya pun cukup besar dan harganya variatif. Jika pintar memilih momen kita bisa mendapat jersey yang bagus dengan harga yang agak miring. Salah satu favorit saya adalah Weston Corporation yang terletak di Peninsula Plaza.

Weston Corporation
Jersey sale @ Weston

 Weston ini mempunyai sistem penjualan yang bagus, karena di Peninsula Plaza ini dia membagi tokonya menjadi dua. Satu toko menjual jersey yang cenderung baru atau langka, yang harganya lebih mahal. Kisarannya mulai 65 SGD hingga ke atas. Sementara satu lantai di bawahnya mereka mempunyai cabang yang menjual khusus jersey-jersey yang sale. Jadi tentunya saya mendatangi yang sale terlebih dahulu, hahaha. Untuk Weston yang sale, harganya lebih miring. Dimulai dari 19 SGD. Tentunya harus pintar memilih kondisi dan ukuran karena terkadang ada yang sponsornya sudah lengket atau sejenisnya.

Koleksi yang dimiliki Weston ini sangat lengkap. Kalau saya pribadi saya sangat suka berburu jersey 3rd dari Liverpool, karena cukup sulit ditemukan di gerai-gerai Indonesia. Tetapi selain menjual jersey-jersey liga utama, kita dapat menemukan juga jersey liga yang cukup aneh. Misalnya liga Jepang, Rusia, Korea, USA, dsb. Jersey timnas juga dapat ditemukan di toko ini.

Selain toko itu juga ada 2 toko lainnya di Peninsula Plaza. Satu toko bernama Champion yang terletak tepat di depan Weston. Saya sangat menyukai toko ini karena menjual banyak jersey Liverpool. Sementara toko satu lagi berada di lantai yang sama dengan Weston sale tapi saya lupa apa namanya.

Nah, jadi buat para kolektor yang kebetulan berada di Singapura, sempetin mampir ke Peninsula Plaza. Dijamin, ngiler. Tapi hati-hati aja, kantong jebol kalo keasikan. Selamat berburu!



Tuesday, June 25, 2013

Puncak Manglayang



Langit terlihat sangat cerah, hari pemilihan walikota Bandung. Saya tidak ikut memilih, bukan karena apatis atau malas, tapi karena digolputkan oleh administrasi. Pagi itu saya sibuk di rumah saat orang lain masih tidur, menyiapkan barang-barang yang akan dibawa hari ini. Hari ini saya dan teman-teman akan mendaki Gunung Manglayang. Sleeping bag, carrier bag, tenda, webbing, semuanya sudah ketemu. Sayangnya saya belum juga bisa menemukan syal angkatan kesayangan yang biasanya selalu saya bawa setiap kali naik gunung.


                Akhirnya saya pergi ke Jatinangor dari Bandung. Waktu itu sekitar pukul 8 pagi. Semua orang masih bersiap-siap. Rencananya kami akan berangkat jam 1 siang. Sampai di Bale, teman-teman ada yang sudah siap, ada juga yang masih tidur. Kami mencoba dulu berlatih mendirikan tenda karena tenda yang ini baru dan cukup besar, sepertinya cukup untuk menampung 9-10 orang. Kami memastikan lagi siapa saja yang akan ikut hari ini, karena tentunya itu sangat penting untuk mempertimbangkan berapa banyak tenda dan sleeping bag yang perlu kita sewa. Kami pun menyewa 2 buah angkot untuk mengantarkan kami ke Kaki Gunung manglayang. Hari ini yang akan pergi adalah kami ber-14, mahasiswa FK Unpad 2012. Saya, Irfan, Arvin, Irham, Mushlih, Adi, Fadhil, Idon, Surya, Pavan, Syes, Naga, JJ, dan Indirran. Nama 5 orang terakhir adalah mahasiswa KPBI yang berasal dari Malaysia. Setelah mengecek lagi semua peralatan, siaplah kami untuk pergi! Mari kita mulai dengan membaca basmallah


Para petualang Nostra


 Bismillahirrahmanirrahim...


                Peralatan yang kami bawa lengkap, tapi tentunya tidak terlalu banyak juga berhubung kami hanya akan pergi selama semalam. Peralatan yang perlu dibawa jika ingin menginap di Manglayang adalah sebagai berikut:

WAJIB
  • ·         Tas (diutamakan tas carrier karena akan lebih nyaman)
  • ·         Pakaian ganti 1 set
  • ·         Jaket tebal
  • ·         Ponco atau jas hujan
  • ·         Celana panjang (yang nyaman saja, disarankan tidak memakai jeans)
  • ·         Sarung tangan (medannya menuntut menggunakan kedua tangan)
  • ·         Kaus kaki
  • ·         Sepatu + sandal
  • ·         Sleeping bag
  • ·         Makanan berat untuk 2 kali makan
  • ·         Makanan ringan secukupnya (usahakan yang banyak energi seperti cokelat,gula merah, dsb)
  • ·         Tenda
  • ·         Uang secukupnya (sewa pickup kurang lebih 150ribu sampai ke Jalan Raya Bandung-Sumedang)
  • ·         Senter + baterai cadangan
  • ·         Obat-obatan pribadi
  • ·         Tenda
  • ·         Tisu
  • ·         Garam (ditaburkan di sekitar tenda untuk menjauhkan binatang melata)
  • ·         Kamera (tentunya tidak mau kehilangan momen kan?)
  • ·         Golok (berguna untuk menebas ranting, atau melindungi dari babi hutan)
Optional
  • ·         Topi atau kupluk
  • ·         Korek api
  • ·         Kayu bakar
  • ·         Handuk
  • ·         Kartu
Akhirnya perjalanan dimulai jam 2 siang! Kami ber-14 pergi menggunakan angkot terlebih dahulu untuk mencapai Kaki Gunung Manglayang. Puncak Manglayang ini dapat dicapai melalui 2 rute, yaitu Batu Kuda atau Baru Bereum. Saya sudah melalui rute Batu Kuda dan yang saya ingat medannya tidak terlalu curam tetapi panjang. Kali ini kami akan melalui rute Baru Bereum. Berhentilah angkot tepat di jalan yang sudah mulai berbatu-batu saja dan menanjak. Setelah turun kami membawa seluruh barang bawaan kami dan mulai berjalan.


Pukul 2 lebih itu untungnya matahari tidak terlalu terik dan udara terasa sejuk, tidak menyulitkan kami lebih jauh untuk berjalan naik. Jalanan yang berbatu terkadang menyulitkan beberapa teman yang memakai sepatu olahraga yang sol-nya tidak terlalu bergerigi. Kami beristirahat beberapa kali. Kami juga sempat mampir ke sebuah warung dan meminjam teko untuk membuat kopi serta golok untuk menebas ranting dan lain-lain. Kurang lebih 30 menit kemudian kami berhasil sampai ke Kaki Gunung.
Kaki Gunung rute Baru Bereum


Di situ kami melepas lelah sebentar, ternyata kami baru sampai kakinya saja, perjalanan bahkan belum dimulai. Karena ada warung, kami minum sebentar dan juga salat asar. Kami melanjutkan perjalanan lagi pada pukul 4. Ekspektasi kami adalah dengan 2 jam kami sudah sampai puncak, jadi seharusnya sebelum gelap kami sudah sampai dan bisa segera mendirikan tenda.


Akhirnya perjalanan pun dimulai. Jujur saya sangat excited karena mendaki ini adalah hobi saya dan ini adalah impian saya untuk bisa naik gunung bersama-sama teman-teman dari FK Unpad. Akhirnya di akhir tahun pelajaran ini, bisa juga direalisasikan. Mudah-mudahan ini hanyalah perjalanan pertama yang akan diikuti dengan perjalanan-perjalanan yang tidak kalah seru selanjutnya!


Langkah pertama pendakian
Langkah awal kami bertemu dengan sungai kecil yang airnya sangat jernih, kami melewati sungai itu cukup dengan 1 langkah lebar saja. Medan selanjutnya masih belum terlalu sulit, hanya jalan setapak yang di sekitarnya masih rerumputan saja bukan jurang. Seiring kami berjalan, jalan setapak

itu semakin curam, untungnya karena semalam tidak hujan maka jalanan yang kami lewati hanya sedikit licin saja. Nah, setelah berjalan kurang lebih 30 menit, mulailah medannya cukup sulit. Kami mulai dihadang dengan jalan tanah dengan tingkat kemiringan 45-50 derajat. Untungnya di setiap jalan tersebut sudah ada pijakan-pijakan yang dibuat oleh para pendahulu. Kemudian kami melanjutkan lagi, masuklah kami ke sebuah daerah yang penuh dengan bambu di sekitarnya sehingga beberapa kali tas saya menyangkut dan kami harus sedikit menunduk. Setelah melewati beberapa medan yang cukup curam, 45 menit sudah berlalu, kami berhenti di daerah yang sedikit luas, kami berhenti sejenak di sana.


Fadhil yakin saat mencapai puncak akan kurus
Tidak semua dari kami sering mendaki gunung, beberapa sangat jarang. Salah satu teman kami, Fadhil, mengalami kesulitan selama perjalanan ini. Mungkin karena memang badannya cukup besar dan tidak terlalu sering berolahraga, ditambah medan yang memang cukup berat pasti sangat menguras tenaga sekali. Tapi di balik itu saya melihat semangat juang yang sangat besar yang ditunjukkan olehnya, sekalipun dia berkali-kali minta berhenti juga mengeluh karena capek, tidak pernah dia menyerah. Teman-teman menempatkan diri di belakangnya dan menyemangatinya tanpa lelah. Bahkan salah satu teman kami, Idon, tidak berhenti berteriak-teriak sepanjang perjalanan. Memang sih dia itu orangnya kerjaannya ngomong terus. Saya melihat banyak sekali rasa perjuangan dan rasa persahabatan yang ditunjukkan, hanya dengan berjalan melalui jalan setapak ini. 


Setelah istirahat beberapa menit, waktu sudah menunjukkan pukul 4.50. Kami punya waktu satu jam lebih sedikit untuk mencapai puncak sebelum gelap menutupi langkah kami. Mulailah kami berjalan kembali. Medan yang kami hadapi sekarang sudah jauh lebih sulit dari yang pertama. Sangat curam. Hampir semua medan yang kami lalui kemiringannya lebih dari 60 derajat, hanya ada beberapa jalan pendek yang cukup datar. Sekarang juga tidak hanya tanah, tetapi batuan juga mulai muncul sehingga kami harus mendaki dan memanjat, dengan membawa seluruh barang-barang. Kami juga harus berhati-hati saat menarik tumbuhan untuk membantu naik, karena banyak juga tumbuhan yang berduri di sini. Sebenarnya medan seperti ini adalah medan favorit saya karena membutuhkan kekuatan tangan serta fleksibilitas yang tinggi untuk melaluinya sehingga sangat menantang!


Medan yang cukup menantang
Semakin jauh kami berjalan, udara semakin segar menerpa kami. Kabut mulai muncul dan gemuruh awan terdengar dari kejauhan. Kami harus berjalan lebih cepat. Kami mempercepat langkah kami hingga akhirnya kami melewati daerah curam tadi. Kami mulai bertemu lagi dengan jalan setapak yang kemiringannya 30-40 derajat. Langkah kami terasa lebih ringan dari tadi. Maju, dan maju terus. Hingga akhirnya puncak gunung tidak terlihat lagi jika kami menengok ke depan, yang artinya, kami sudah dekat! Tetapi jika mungkin ada yang pernah mendengar sebuah quote bahwa orang yang berniat menjelajahi 100 desa, akan berhenti di desa ke-90. Begitulah hukumnya berlaku. Seiring kami mendengar kata-kata, “Puncak sudah dekat!”, saat itu pula langkah kami terasa semakin berat. Lutut serasa bergetar, pijakan sudah tidak lagi benar. Keringat bercucuran dan tubuh terasa lemas untuk dibawa naik dan naik lagi. Jalan licin, beberapa pohon menghadang kami kembali. Undakan-undakan tanah yang tadi saya lewati hanya dengan satu langkah, sekarang saya harus menaruh lutut terlebih dahulu barulah bisa naik. Sekali lagi saya menaruh lutut dan mendorong tubuh lagi. Dan saat saya baru akan memijakkan kaki sekali lagi ke undakan selanjutnya, saya baru sadar tidak ada undakan selanjutnya. Pandangan yang dari tadi mengarah ke bawah, supaya tidak melihat seberapa jauh lagi ke depan, sekarang menengok tepat lurus ke depan. 


Tidak ada pohon, tidak ada gunung, yang ada hanyalah sebidang tanah kosong yang cukup luas yang dikelilingi oleh jurang. Hamparan pemandangan membentang di depan kami, sayangnya kabut yang tebal menutupinya sehingga keindahannya masih belum terasa. Tepat sebelum hari  gelap, kami berhasil mencapai puncak! Kaki terasa sangat lemas, napas pun terengah-engah, semua orang terduduk dengan tasnya di bawah, mencoba mengumpulkan lagi tenaga yang sudah habis karena dikeluarkan semuanya di akhir. Tetapi kami tidak bisa terlalu lama beristirahat, kabut sudah datang dan gelap juga semakin menutup matahari. Waktunya mendirikan tenda. Segera kami keluarkan kedua tenda yang kami bawa dan kami mendirikan tenda di dua tempat yang terpisah agak jauh, karena sebenarnya tempat ini sangat kecil dan dikelilingi oleh jurang. Ada tempat lain di mana kami bisa mendirikan tenda juga, tetapi pemandangannya tentu tidak seindah tempat ini. Waktu menunjukkan pukul 5.59, tepat sekali sesuai jadwal. 


Akhirnya dalam waktu kurang lebih 30 menit kami berhasil mendirikan kedua tenda, tenda yang cukup besar dan sangat nyaman. Kami masukkan semua tas ke dalam tenda. Setelah beristirahat sejenak, ternyata sudah memasuki waktu Isya. Kami salat berjamaah lalu dilanjutkan dengan makan nasi bungkus yang kami bawa. Sebagian besar dari kami membawa nasi dari Katineung, saya sendiri membawa Nasi Padang yang berisi rendang, terong, perkedel kentang, serta telur dadar. Ini adalah makanan kami sehari-hari, tapi entah kenapa hari ini terasa lebih nikmat, jauh lebih nikmat. Makan bersama yang disertai tawa juga cerita, entah mengapa malam ini begitu berharga. 


Tidak terlalu banyak yang kami lakukan malam itu, kami berusaha menyalakan api unggun. Tapi rupanya, letaknya yang tidak ditutupi pohon sama sekali, serta ranting yang masih basah karena hujan beberapa hari yang lalu, menyulitkan kami untuk menyalakan api unggun tersebut. Akhirnya kami kembali ke tenda masing-masing dan mengobrol sambil melahap makanan ringan. Malam itu entah mengapa terasa sangat hangat. Belum pernah rasanya saya merasa sehangat itu saat naik gunung. Apa mungkin karena banyak orang di tenda ini? Tapi ternyata saat saya membuka pintu tenda, udara dingin menusuk tulang. Ternyata kemampuan menahan dingin tenda ini sangat baik, tidak sia-sia saya membelinya! Udara yang sangat dingin di luar ternyata tidak terasa sedikitpun di dalam. Saya juga menengok ke bawah, kabut tebal masih menutupi pemandangan. 


Suara sudah makin sedikit terdengar, satu per satu teman-teman pun tertidur. Karena tadi meminum kopi saya jadi kesulitan tidur. Akhirnya sekitar pukul 00.30 barulah saya bisa tertidur. Ternyata, seperti biasanya yang terjadi di tengah alam, udara menjadi lebih dingin pada pukul 2-3 pagi. Udara dingin mulai terasa. Saya yang tadinya hanya memakai kaus dan celana pendek dan tidak menggunakan sleeping bag saya, akhirnya mulai masuk ke dalam sleeping bag. Dingin mulai terasa, untungnya masih bisa teratasi. Kami pun melanjutkan tidur.

Terdengar suara azan dari kejauhan, ternyata azan pun masih terdengar sangat jelas di tempat ini. Beberapa orang terbangun. Kami berjalan keluar dan kabut yang sejak kemarin menutupi pemandangan di depan kami akhirnya tersingkap. Hamparan lampu-lampu dari bagian timur Bandung memenuhi pemandangan di depan kami. Terlihat dari sini stadion baru kebanggaan warga kota Bandung, Gelora Bandung Lautan Api. Pemandangan ini terlihat sangat indah dari tempat ini. Kurang lebih 300 derajat pemandangan kami merupakan hamparan kota serta pegunungan. Sisanya di belakang kami masih ada beberapa pohon yang menutupi. Bulan yang penuh masih terlihat di atas. Angin kencang menggoyangkan tenda kami beberapa kali. 


Dalam hati saya menyadari, betapa rasa dingin ini menyatu dengan tubuh saya. Rasa dingin ini adalah kenangan masa kecil saat seringkali orangtua saya membawa kemping, juga saya bersama sekolah pergi kemping dan naik gunung bersama-sama. Angin dingin serta udara sejuk inilah yang membuat saya selalu merindukan tempat ini, selalu merindukan alam. Perasaan ini yang menjadikan saya satu dengan mereka. Bernapas dengan mereka, dan bergerak seiring dengan gerakan mereka. Betapa indahnya dan betapa rindunya saya dengan perasaan ini.


Semua orang keluar dengan celana panjang dan jaket tebalnya. Saya masih dengan celana pendek dan kaus, dengan kamera tentunya. Berusaha mengabadikan pemandangan yang luar biasa di hadapan ini. Tapi ternyata setelah beberapa lama cukup dingin juga, jadi saya mengganti pakaian dengan celana panjang serta jaket FK Unpad Unite.

Me with Bendera Nostra



Matahari mulai muncul, menyingkap lebih jauh pemandangan tadi. Awan-awan bergerak membentuk barisan dihiasi warna jingga dan merah muda yang terbiaskan dari fajar yang menyingsing. Sangat indah. Kami mulai mengambil beberapa foto, lalu beberapa lagi, dan beberapa lagi, dan ternyata sangat banyak foto yang kami ambil. Kami mengeluarkan bendera angkatan kami, FK Unpad 2012 Nostra. Kami buka dan kibarkan di puncak ini. Kami akan mengibarkannya di setiap perjalanan kami. Itu adalah janji bahwa kami akan selalu membawanya ke tempat tertinggi. Itu pun adalah janji bahwa sejauh apapun kita pergi, kita tak boleh lupa tempat kita kembali dan berjuang. 
Fajar dari perkemahan kami

Para petualang dengan bendera Nostra


Matahari sudah naik, dingin tergantikan oleh panas. Gelap tergantikan oleh cahaya terang. Kami semua mulai membuka jaket. Setelah kami mulai bersantai kembali, ternyata ada satu hal. Tempat ini bukanlah puncak tertinggi.


Ya, ternyata ini bukanlah puncak sesungguhnya dari Gunung Manglayang, masih ada puncak satu lagi, puncak sejati. Maka kami tentunya tidak mau setengah-setengah, saat kami mendaki sebuah gunung, puncak adalah tempat yang harus dicapai. Kami segera membereskan tenda serta barang-barang, berkemas menuju Puncak “Sejati” Manglayang. 


Waktu menunjukkan pukul  7.30. Kami menargetkan agar sebelum tengah hari kami sudah berada di kaki gunung kembali. Perjalanan hari ini dimulai dengan berjalan turun. Cukup jauh turunan yang kami lewati, lalu kami kembali naik. Puncak Manglayang ini terlihat dari tempat kami berkemah kemarin. Agak terpisah sedikit saja. Medan yang kami lalui hari ini tidak terlalu sulit, hanya beberapa tempat kami harus sedikit memanjat seperti kemarin. Tapi selain itu, banyak jalan yang cukup landai. Hari itu kami menghirup udara yang jauh lebih segar. Mungkin karena saat itu pagi hari, sementara kemarin kami mendaki pada siang hari. Kalau seperti kata Dekan kami, oksigennya terasa manis. Tidak memakan waktu terlalu lama, 1 jam kemudian kami berhasil mencapai puncak sesungguhnya. Ada papan bertuliskan “Puncak Manglayang”, serta tanah kosong yang cukup luas. Bedanya, tempat ini dikelilingi oleh pepohonan sehingga pemandangannya tidak seindah tempat kemarin. Tanahnya dipenuh dedaunan dan ada bekas api unggun. Sayangnya kami menemukan banyak sampah di tempat ini, sampah yang ditinggalkan oleh para pendaki yang tidak bertanggung jawab. Selain itu ada papan yang menunjukkan arah ke Batu Kuda. 


Seperti biasa, kami menikmati sebentar tempat ini, berfoto-foto, dilanjutkan dengan makan makanan yang masih ada. Di papan yang menunjukkan Puncak Manglayang, tertulis bahwa tempat ini berada 1818 mdpl. Kaki gunung berada pada 1195 mdpl. Berarti kami menempuh perjalanan melewati ketinggian 623 meter. 

Puncak "Sejati" Manglayang

Bendera Nostra @ Puncak Manglayang


Setelah puas bermain-main di puncak, sudah waktunya pulang. Waktu sudah pukul setengah sembilan dan sebelum zuhur kami harus sudah di kaki gunung. Kembalilah kami turun, sambil menyempatkan ziarah ke sebuah makam yang entah makam siapa tetapi sepertinya leluhur di daerah situ. Perjalanan turun pastinya terbayang oleh siapapun lebih cepat. Benar. Tapi ternyata tidak lebih mudah. Kalau naik membutuhkan tenaga yang sangat besar, turun membutuhkan konsentrasi yang sangat besar. Kalau naik banyak menggunakan tenaga kaki, turun jauh lebih menggunakan tenaga tangan. Banyak tempat terutama yang curam kami lalui dengan sliding. Sangat seru, sampai saking serunya saya menabrak teman yang di depan. Saat mencapai tempat berkemah kemarin, kami mengambil trash bag serta teko yang kami tinggalkan sementara di sana. Lalu kami melanjutkan perjalanan turun. Total perjalanan untuk sampai ke Puncak Manglayang menghabiskan waktu 3 jam. Saya memperkirakan untuk turun kita akan membutuhkan waktu 2 jam 15 menit. Turun jauh lebih cepat dari naik, kami tidak terlalu banyak beristirahat. Dan tidak terasa sampailah sudah di kaki gunung, 2 jam seperempat sesuai perkiraan. Sebagian teman kami masih ada yang di belakang. Saat naik kami menunggu supaya tidak terpisah, tapi saat turun tidak menjadi terlalu masalah karena semua sudah tahu jalannya, dan kami harus menghubungi kendaraan yang akan kami tumpangi terlebih dahulu.


Di kaki gunung kami singgah sebentar di warung. Sebagian yang lain membersihkan diri di sungai kecil yang sangat jernih. Kami melahap gorengan serta minuman yang ada di warung. Saya sempat mengobrol dengan ibu warung yang biasa dipanggil Emak. Emak bercerita bahwa tempat ini tidak pernah sepi, setiap hari pasti selalu ada yang naik, terutama dari Unpad. Di akhir minggu tempat ini lebih ramai lagi dengan orang-orang paling tidak dari Bandung, dan tempat lain. Saya juga bertanya apakah Emak punya nomor telepon angkot untuk dihubungi. Dan ternyata Emak punya nomor pickup yang bisa disewa dengan harga 150 ribu, yang berarti harganya sama dengan dua angkot kemarin. Langsung saja kami ambil pickup tersebut. Beberapa lama kemudian datanglah pickup tersebut dan berangkatlah kami ke kembali ke Bale. Sampai Bale kami membayar biaya sewa pickup tersebut dan menurunkan barang-barang. 


Perjalanan ini adalah sebuah cerita. Badan kami terasa sangat pegal, tapi hati kami terasa sangat segar. Terisi oleh kebahagiaan dan kepuasan. Pendakian gunung bukanlah kegiatan berjalan biasa, itu adalah sebuah petualangan. Alam adalah tempat di mana kita dapat menghapuskan kompleksitas hidup sejenak dan kembali kepada sejatinya kita sebagai manusia, yang bergantung kepada alam. Tempat di mana akan terlihat sifat asli dari seseorang. Tempat di mana manusia akan saling bertarung dan saling berbagi. Perjalanan ini adalah perjalanan kecil, untuk sebuah awal yang besar. Sebuah kekuatan, sebuah perjuangan, yang pastinya akan terkenang di hati orang-orang yang menjalaninya. Sebuah pengalaman yang manis, yang tak akan terlupakan. Sebuah waktu, yang akan menyatukan hati kita. 


Ingatlah teman, Manglayang hanyalah batu pijakan kecil. Petualangan besar menantikan orang-orang besar untuk menjadikannya ada. Mereka menantikan kita. 


Manglayang, 23-24 Juni 2013
Aditya Nugraha Nurtantijo
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran