Tuesday, August 13, 2013

One little soundtrack for today...

Mungkin aku, bukan pujangga
Yang pandai merangkai kata
Ku tak selalu, kirimkan bunga
Tuk ungkapkan hatiku

Mungkin aku, takkan pernah
Memberi intan permata
Mungkin aku, takkan selalu
Ada di dekatmu

Kuingin kau tahu... Isi di hatiku...
Ku tak akan lelah jaga hati ini
Hingga dunia tak bermentari

Satu yang kupinta
Yakini dirimu
Hati ini milikmu
Semua yang kulakukan untukmu
Lebih dari sebuah
Kata cinta untukmu
Diriku...

Monday, August 12, 2013

Surga Kolektor!

Halo!
Jadi hari ini saya mau bicara sebagai kolektor jersey yang masih newbie banget.
Mungkin sejak setahunan ini ada benda baru yang bener-bener saya gemari yaitu jersey.

Kenapa benda ini begitu spesial?

Saya bukan orang yang begitu terlalu suka shopping atau fashion, mungkin hampir bisa dibilang buta soal fashion, tapi satu baju ini terasa begitu spesial. Sejak dulu saya punya prinsip kalau baju yang saya kenakan bukan hanya supaya nyaman dan enak dilihat, tapi unsur yang tidak kalah penting adalah nilai atau arti dari apa yang kita pakai. Itu yang membuat saya sangat senang saat memakai sesuatu yang beratribut institusi saya berada, misalnya sekolah, kampus, organisasi, dsb. You are what you wear mungkin bisa dipakai dalam situasi ini :D

Jersey punya arti khusus. Benda ini bukan hanya selembar kain 100% Polyester. Benda ini mempunyai arti loyalitas dan sejarah bagi orang-orang yang mengerti. Bukan hanya sekedar kain berpola garis-garis atau warna-warni. Benda ini dapat membawa nostalgia bahkan menggetarkan hati. Tentunya bagi mereka yang mengerti :)

Saya tentunya sebagai penggemar Liverpool jersey utama yang yang saya kumpulkan adalah jersey-jersey Liverpool. Selain itu juga saya mengumpulkan jersey Michael Owen (tentunya kecuali saat dia sedang ada di MU). Ini sebagian dari koleksi Liverpool.

Liverpool FC


Nah, sebenernya benda ini yang original, ready stock dan pilihannya banyak itu susah susah gampang mencarinya di Indonesia. Di Jakarta memang banyak yang menjual jersey original, tetapi kita harus mencari di keramaian mal. Itu pun biasanya tokonya tidak terlalu besar dan tidak terlalu banyak pilihannya. Kebanyakan seller di Indonesia biasanya melayani pre-order dari situs-situs yang terpercaya seperti ebay atau CFS.

Tapi kebetulan saja, di negeri tetangga kita, Singapore, rupanya cukup banyak tempat yang menjual jersey-jersey yang langka di Indonesia. Tokonya pun cukup besar dan harganya variatif. Jika pintar memilih momen kita bisa mendapat jersey yang bagus dengan harga yang agak miring. Salah satu favorit saya adalah Weston Corporation yang terletak di Peninsula Plaza.

Weston Corporation
Jersey sale @ Weston

 Weston ini mempunyai sistem penjualan yang bagus, karena di Peninsula Plaza ini dia membagi tokonya menjadi dua. Satu toko menjual jersey yang cenderung baru atau langka, yang harganya lebih mahal. Kisarannya mulai 65 SGD hingga ke atas. Sementara satu lantai di bawahnya mereka mempunyai cabang yang menjual khusus jersey-jersey yang sale. Jadi tentunya saya mendatangi yang sale terlebih dahulu, hahaha. Untuk Weston yang sale, harganya lebih miring. Dimulai dari 19 SGD. Tentunya harus pintar memilih kondisi dan ukuran karena terkadang ada yang sponsornya sudah lengket atau sejenisnya.

Koleksi yang dimiliki Weston ini sangat lengkap. Kalau saya pribadi saya sangat suka berburu jersey 3rd dari Liverpool, karena cukup sulit ditemukan di gerai-gerai Indonesia. Tetapi selain menjual jersey-jersey liga utama, kita dapat menemukan juga jersey liga yang cukup aneh. Misalnya liga Jepang, Rusia, Korea, USA, dsb. Jersey timnas juga dapat ditemukan di toko ini.

Selain toko itu juga ada 2 toko lainnya di Peninsula Plaza. Satu toko bernama Champion yang terletak tepat di depan Weston. Saya sangat menyukai toko ini karena menjual banyak jersey Liverpool. Sementara toko satu lagi berada di lantai yang sama dengan Weston sale tapi saya lupa apa namanya.

Nah, jadi buat para kolektor yang kebetulan berada di Singapura, sempetin mampir ke Peninsula Plaza. Dijamin, ngiler. Tapi hati-hati aja, kantong jebol kalo keasikan. Selamat berburu!



Tuesday, June 25, 2013

Puncak Manglayang



Langit terlihat sangat cerah, hari pemilihan walikota Bandung. Saya tidak ikut memilih, bukan karena apatis atau malas, tapi karena digolputkan oleh administrasi. Pagi itu saya sibuk di rumah saat orang lain masih tidur, menyiapkan barang-barang yang akan dibawa hari ini. Hari ini saya dan teman-teman akan mendaki Gunung Manglayang. Sleeping bag, carrier bag, tenda, webbing, semuanya sudah ketemu. Sayangnya saya belum juga bisa menemukan syal angkatan kesayangan yang biasanya selalu saya bawa setiap kali naik gunung.


                Akhirnya saya pergi ke Jatinangor dari Bandung. Waktu itu sekitar pukul 8 pagi. Semua orang masih bersiap-siap. Rencananya kami akan berangkat jam 1 siang. Sampai di Bale, teman-teman ada yang sudah siap, ada juga yang masih tidur. Kami mencoba dulu berlatih mendirikan tenda karena tenda yang ini baru dan cukup besar, sepertinya cukup untuk menampung 9-10 orang. Kami memastikan lagi siapa saja yang akan ikut hari ini, karena tentunya itu sangat penting untuk mempertimbangkan berapa banyak tenda dan sleeping bag yang perlu kita sewa. Kami pun menyewa 2 buah angkot untuk mengantarkan kami ke Kaki Gunung manglayang. Hari ini yang akan pergi adalah kami ber-14, mahasiswa FK Unpad 2012. Saya, Irfan, Arvin, Irham, Mushlih, Adi, Fadhil, Idon, Surya, Pavan, Syes, Naga, JJ, dan Indirran. Nama 5 orang terakhir adalah mahasiswa KPBI yang berasal dari Malaysia. Setelah mengecek lagi semua peralatan, siaplah kami untuk pergi! Mari kita mulai dengan membaca basmallah


Para petualang Nostra


 Bismillahirrahmanirrahim...


                Peralatan yang kami bawa lengkap, tapi tentunya tidak terlalu banyak juga berhubung kami hanya akan pergi selama semalam. Peralatan yang perlu dibawa jika ingin menginap di Manglayang adalah sebagai berikut:

WAJIB
  • ·         Tas (diutamakan tas carrier karena akan lebih nyaman)
  • ·         Pakaian ganti 1 set
  • ·         Jaket tebal
  • ·         Ponco atau jas hujan
  • ·         Celana panjang (yang nyaman saja, disarankan tidak memakai jeans)
  • ·         Sarung tangan (medannya menuntut menggunakan kedua tangan)
  • ·         Kaus kaki
  • ·         Sepatu + sandal
  • ·         Sleeping bag
  • ·         Makanan berat untuk 2 kali makan
  • ·         Makanan ringan secukupnya (usahakan yang banyak energi seperti cokelat,gula merah, dsb)
  • ·         Tenda
  • ·         Uang secukupnya (sewa pickup kurang lebih 150ribu sampai ke Jalan Raya Bandung-Sumedang)
  • ·         Senter + baterai cadangan
  • ·         Obat-obatan pribadi
  • ·         Tenda
  • ·         Tisu
  • ·         Garam (ditaburkan di sekitar tenda untuk menjauhkan binatang melata)
  • ·         Kamera (tentunya tidak mau kehilangan momen kan?)
  • ·         Golok (berguna untuk menebas ranting, atau melindungi dari babi hutan)
Optional
  • ·         Topi atau kupluk
  • ·         Korek api
  • ·         Kayu bakar
  • ·         Handuk
  • ·         Kartu
Akhirnya perjalanan dimulai jam 2 siang! Kami ber-14 pergi menggunakan angkot terlebih dahulu untuk mencapai Kaki Gunung Manglayang. Puncak Manglayang ini dapat dicapai melalui 2 rute, yaitu Batu Kuda atau Baru Bereum. Saya sudah melalui rute Batu Kuda dan yang saya ingat medannya tidak terlalu curam tetapi panjang. Kali ini kami akan melalui rute Baru Bereum. Berhentilah angkot tepat di jalan yang sudah mulai berbatu-batu saja dan menanjak. Setelah turun kami membawa seluruh barang bawaan kami dan mulai berjalan.


Pukul 2 lebih itu untungnya matahari tidak terlalu terik dan udara terasa sejuk, tidak menyulitkan kami lebih jauh untuk berjalan naik. Jalanan yang berbatu terkadang menyulitkan beberapa teman yang memakai sepatu olahraga yang sol-nya tidak terlalu bergerigi. Kami beristirahat beberapa kali. Kami juga sempat mampir ke sebuah warung dan meminjam teko untuk membuat kopi serta golok untuk menebas ranting dan lain-lain. Kurang lebih 30 menit kemudian kami berhasil sampai ke Kaki Gunung.
Kaki Gunung rute Baru Bereum


Di situ kami melepas lelah sebentar, ternyata kami baru sampai kakinya saja, perjalanan bahkan belum dimulai. Karena ada warung, kami minum sebentar dan juga salat asar. Kami melanjutkan perjalanan lagi pada pukul 4. Ekspektasi kami adalah dengan 2 jam kami sudah sampai puncak, jadi seharusnya sebelum gelap kami sudah sampai dan bisa segera mendirikan tenda.


Akhirnya perjalanan pun dimulai. Jujur saya sangat excited karena mendaki ini adalah hobi saya dan ini adalah impian saya untuk bisa naik gunung bersama-sama teman-teman dari FK Unpad. Akhirnya di akhir tahun pelajaran ini, bisa juga direalisasikan. Mudah-mudahan ini hanyalah perjalanan pertama yang akan diikuti dengan perjalanan-perjalanan yang tidak kalah seru selanjutnya!


Langkah pertama pendakian
Langkah awal kami bertemu dengan sungai kecil yang airnya sangat jernih, kami melewati sungai itu cukup dengan 1 langkah lebar saja. Medan selanjutnya masih belum terlalu sulit, hanya jalan setapak yang di sekitarnya masih rerumputan saja bukan jurang. Seiring kami berjalan, jalan setapak

itu semakin curam, untungnya karena semalam tidak hujan maka jalanan yang kami lewati hanya sedikit licin saja. Nah, setelah berjalan kurang lebih 30 menit, mulailah medannya cukup sulit. Kami mulai dihadang dengan jalan tanah dengan tingkat kemiringan 45-50 derajat. Untungnya di setiap jalan tersebut sudah ada pijakan-pijakan yang dibuat oleh para pendahulu. Kemudian kami melanjutkan lagi, masuklah kami ke sebuah daerah yang penuh dengan bambu di sekitarnya sehingga beberapa kali tas saya menyangkut dan kami harus sedikit menunduk. Setelah melewati beberapa medan yang cukup curam, 45 menit sudah berlalu, kami berhenti di daerah yang sedikit luas, kami berhenti sejenak di sana.


Fadhil yakin saat mencapai puncak akan kurus
Tidak semua dari kami sering mendaki gunung, beberapa sangat jarang. Salah satu teman kami, Fadhil, mengalami kesulitan selama perjalanan ini. Mungkin karena memang badannya cukup besar dan tidak terlalu sering berolahraga, ditambah medan yang memang cukup berat pasti sangat menguras tenaga sekali. Tapi di balik itu saya melihat semangat juang yang sangat besar yang ditunjukkan olehnya, sekalipun dia berkali-kali minta berhenti juga mengeluh karena capek, tidak pernah dia menyerah. Teman-teman menempatkan diri di belakangnya dan menyemangatinya tanpa lelah. Bahkan salah satu teman kami, Idon, tidak berhenti berteriak-teriak sepanjang perjalanan. Memang sih dia itu orangnya kerjaannya ngomong terus. Saya melihat banyak sekali rasa perjuangan dan rasa persahabatan yang ditunjukkan, hanya dengan berjalan melalui jalan setapak ini. 


Setelah istirahat beberapa menit, waktu sudah menunjukkan pukul 4.50. Kami punya waktu satu jam lebih sedikit untuk mencapai puncak sebelum gelap menutupi langkah kami. Mulailah kami berjalan kembali. Medan yang kami hadapi sekarang sudah jauh lebih sulit dari yang pertama. Sangat curam. Hampir semua medan yang kami lalui kemiringannya lebih dari 60 derajat, hanya ada beberapa jalan pendek yang cukup datar. Sekarang juga tidak hanya tanah, tetapi batuan juga mulai muncul sehingga kami harus mendaki dan memanjat, dengan membawa seluruh barang-barang. Kami juga harus berhati-hati saat menarik tumbuhan untuk membantu naik, karena banyak juga tumbuhan yang berduri di sini. Sebenarnya medan seperti ini adalah medan favorit saya karena membutuhkan kekuatan tangan serta fleksibilitas yang tinggi untuk melaluinya sehingga sangat menantang!


Medan yang cukup menantang
Semakin jauh kami berjalan, udara semakin segar menerpa kami. Kabut mulai muncul dan gemuruh awan terdengar dari kejauhan. Kami harus berjalan lebih cepat. Kami mempercepat langkah kami hingga akhirnya kami melewati daerah curam tadi. Kami mulai bertemu lagi dengan jalan setapak yang kemiringannya 30-40 derajat. Langkah kami terasa lebih ringan dari tadi. Maju, dan maju terus. Hingga akhirnya puncak gunung tidak terlihat lagi jika kami menengok ke depan, yang artinya, kami sudah dekat! Tetapi jika mungkin ada yang pernah mendengar sebuah quote bahwa orang yang berniat menjelajahi 100 desa, akan berhenti di desa ke-90. Begitulah hukumnya berlaku. Seiring kami mendengar kata-kata, “Puncak sudah dekat!”, saat itu pula langkah kami terasa semakin berat. Lutut serasa bergetar, pijakan sudah tidak lagi benar. Keringat bercucuran dan tubuh terasa lemas untuk dibawa naik dan naik lagi. Jalan licin, beberapa pohon menghadang kami kembali. Undakan-undakan tanah yang tadi saya lewati hanya dengan satu langkah, sekarang saya harus menaruh lutut terlebih dahulu barulah bisa naik. Sekali lagi saya menaruh lutut dan mendorong tubuh lagi. Dan saat saya baru akan memijakkan kaki sekali lagi ke undakan selanjutnya, saya baru sadar tidak ada undakan selanjutnya. Pandangan yang dari tadi mengarah ke bawah, supaya tidak melihat seberapa jauh lagi ke depan, sekarang menengok tepat lurus ke depan. 


Tidak ada pohon, tidak ada gunung, yang ada hanyalah sebidang tanah kosong yang cukup luas yang dikelilingi oleh jurang. Hamparan pemandangan membentang di depan kami, sayangnya kabut yang tebal menutupinya sehingga keindahannya masih belum terasa. Tepat sebelum hari  gelap, kami berhasil mencapai puncak! Kaki terasa sangat lemas, napas pun terengah-engah, semua orang terduduk dengan tasnya di bawah, mencoba mengumpulkan lagi tenaga yang sudah habis karena dikeluarkan semuanya di akhir. Tetapi kami tidak bisa terlalu lama beristirahat, kabut sudah datang dan gelap juga semakin menutup matahari. Waktunya mendirikan tenda. Segera kami keluarkan kedua tenda yang kami bawa dan kami mendirikan tenda di dua tempat yang terpisah agak jauh, karena sebenarnya tempat ini sangat kecil dan dikelilingi oleh jurang. Ada tempat lain di mana kami bisa mendirikan tenda juga, tetapi pemandangannya tentu tidak seindah tempat ini. Waktu menunjukkan pukul 5.59, tepat sekali sesuai jadwal. 


Akhirnya dalam waktu kurang lebih 30 menit kami berhasil mendirikan kedua tenda, tenda yang cukup besar dan sangat nyaman. Kami masukkan semua tas ke dalam tenda. Setelah beristirahat sejenak, ternyata sudah memasuki waktu Isya. Kami salat berjamaah lalu dilanjutkan dengan makan nasi bungkus yang kami bawa. Sebagian besar dari kami membawa nasi dari Katineung, saya sendiri membawa Nasi Padang yang berisi rendang, terong, perkedel kentang, serta telur dadar. Ini adalah makanan kami sehari-hari, tapi entah kenapa hari ini terasa lebih nikmat, jauh lebih nikmat. Makan bersama yang disertai tawa juga cerita, entah mengapa malam ini begitu berharga. 


Tidak terlalu banyak yang kami lakukan malam itu, kami berusaha menyalakan api unggun. Tapi rupanya, letaknya yang tidak ditutupi pohon sama sekali, serta ranting yang masih basah karena hujan beberapa hari yang lalu, menyulitkan kami untuk menyalakan api unggun tersebut. Akhirnya kami kembali ke tenda masing-masing dan mengobrol sambil melahap makanan ringan. Malam itu entah mengapa terasa sangat hangat. Belum pernah rasanya saya merasa sehangat itu saat naik gunung. Apa mungkin karena banyak orang di tenda ini? Tapi ternyata saat saya membuka pintu tenda, udara dingin menusuk tulang. Ternyata kemampuan menahan dingin tenda ini sangat baik, tidak sia-sia saya membelinya! Udara yang sangat dingin di luar ternyata tidak terasa sedikitpun di dalam. Saya juga menengok ke bawah, kabut tebal masih menutupi pemandangan. 


Suara sudah makin sedikit terdengar, satu per satu teman-teman pun tertidur. Karena tadi meminum kopi saya jadi kesulitan tidur. Akhirnya sekitar pukul 00.30 barulah saya bisa tertidur. Ternyata, seperti biasanya yang terjadi di tengah alam, udara menjadi lebih dingin pada pukul 2-3 pagi. Udara dingin mulai terasa. Saya yang tadinya hanya memakai kaus dan celana pendek dan tidak menggunakan sleeping bag saya, akhirnya mulai masuk ke dalam sleeping bag. Dingin mulai terasa, untungnya masih bisa teratasi. Kami pun melanjutkan tidur.

Terdengar suara azan dari kejauhan, ternyata azan pun masih terdengar sangat jelas di tempat ini. Beberapa orang terbangun. Kami berjalan keluar dan kabut yang sejak kemarin menutupi pemandangan di depan kami akhirnya tersingkap. Hamparan lampu-lampu dari bagian timur Bandung memenuhi pemandangan di depan kami. Terlihat dari sini stadion baru kebanggaan warga kota Bandung, Gelora Bandung Lautan Api. Pemandangan ini terlihat sangat indah dari tempat ini. Kurang lebih 300 derajat pemandangan kami merupakan hamparan kota serta pegunungan. Sisanya di belakang kami masih ada beberapa pohon yang menutupi. Bulan yang penuh masih terlihat di atas. Angin kencang menggoyangkan tenda kami beberapa kali. 


Dalam hati saya menyadari, betapa rasa dingin ini menyatu dengan tubuh saya. Rasa dingin ini adalah kenangan masa kecil saat seringkali orangtua saya membawa kemping, juga saya bersama sekolah pergi kemping dan naik gunung bersama-sama. Angin dingin serta udara sejuk inilah yang membuat saya selalu merindukan tempat ini, selalu merindukan alam. Perasaan ini yang menjadikan saya satu dengan mereka. Bernapas dengan mereka, dan bergerak seiring dengan gerakan mereka. Betapa indahnya dan betapa rindunya saya dengan perasaan ini.


Semua orang keluar dengan celana panjang dan jaket tebalnya. Saya masih dengan celana pendek dan kaus, dengan kamera tentunya. Berusaha mengabadikan pemandangan yang luar biasa di hadapan ini. Tapi ternyata setelah beberapa lama cukup dingin juga, jadi saya mengganti pakaian dengan celana panjang serta jaket FK Unpad Unite.

Me with Bendera Nostra



Matahari mulai muncul, menyingkap lebih jauh pemandangan tadi. Awan-awan bergerak membentuk barisan dihiasi warna jingga dan merah muda yang terbiaskan dari fajar yang menyingsing. Sangat indah. Kami mulai mengambil beberapa foto, lalu beberapa lagi, dan beberapa lagi, dan ternyata sangat banyak foto yang kami ambil. Kami mengeluarkan bendera angkatan kami, FK Unpad 2012 Nostra. Kami buka dan kibarkan di puncak ini. Kami akan mengibarkannya di setiap perjalanan kami. Itu adalah janji bahwa kami akan selalu membawanya ke tempat tertinggi. Itu pun adalah janji bahwa sejauh apapun kita pergi, kita tak boleh lupa tempat kita kembali dan berjuang. 
Fajar dari perkemahan kami

Para petualang dengan bendera Nostra


Matahari sudah naik, dingin tergantikan oleh panas. Gelap tergantikan oleh cahaya terang. Kami semua mulai membuka jaket. Setelah kami mulai bersantai kembali, ternyata ada satu hal. Tempat ini bukanlah puncak tertinggi.


Ya, ternyata ini bukanlah puncak sesungguhnya dari Gunung Manglayang, masih ada puncak satu lagi, puncak sejati. Maka kami tentunya tidak mau setengah-setengah, saat kami mendaki sebuah gunung, puncak adalah tempat yang harus dicapai. Kami segera membereskan tenda serta barang-barang, berkemas menuju Puncak “Sejati” Manglayang. 


Waktu menunjukkan pukul  7.30. Kami menargetkan agar sebelum tengah hari kami sudah berada di kaki gunung kembali. Perjalanan hari ini dimulai dengan berjalan turun. Cukup jauh turunan yang kami lewati, lalu kami kembali naik. Puncak Manglayang ini terlihat dari tempat kami berkemah kemarin. Agak terpisah sedikit saja. Medan yang kami lalui hari ini tidak terlalu sulit, hanya beberapa tempat kami harus sedikit memanjat seperti kemarin. Tapi selain itu, banyak jalan yang cukup landai. Hari itu kami menghirup udara yang jauh lebih segar. Mungkin karena saat itu pagi hari, sementara kemarin kami mendaki pada siang hari. Kalau seperti kata Dekan kami, oksigennya terasa manis. Tidak memakan waktu terlalu lama, 1 jam kemudian kami berhasil mencapai puncak sesungguhnya. Ada papan bertuliskan “Puncak Manglayang”, serta tanah kosong yang cukup luas. Bedanya, tempat ini dikelilingi oleh pepohonan sehingga pemandangannya tidak seindah tempat kemarin. Tanahnya dipenuh dedaunan dan ada bekas api unggun. Sayangnya kami menemukan banyak sampah di tempat ini, sampah yang ditinggalkan oleh para pendaki yang tidak bertanggung jawab. Selain itu ada papan yang menunjukkan arah ke Batu Kuda. 


Seperti biasa, kami menikmati sebentar tempat ini, berfoto-foto, dilanjutkan dengan makan makanan yang masih ada. Di papan yang menunjukkan Puncak Manglayang, tertulis bahwa tempat ini berada 1818 mdpl. Kaki gunung berada pada 1195 mdpl. Berarti kami menempuh perjalanan melewati ketinggian 623 meter. 

Puncak "Sejati" Manglayang

Bendera Nostra @ Puncak Manglayang


Setelah puas bermain-main di puncak, sudah waktunya pulang. Waktu sudah pukul setengah sembilan dan sebelum zuhur kami harus sudah di kaki gunung. Kembalilah kami turun, sambil menyempatkan ziarah ke sebuah makam yang entah makam siapa tetapi sepertinya leluhur di daerah situ. Perjalanan turun pastinya terbayang oleh siapapun lebih cepat. Benar. Tapi ternyata tidak lebih mudah. Kalau naik membutuhkan tenaga yang sangat besar, turun membutuhkan konsentrasi yang sangat besar. Kalau naik banyak menggunakan tenaga kaki, turun jauh lebih menggunakan tenaga tangan. Banyak tempat terutama yang curam kami lalui dengan sliding. Sangat seru, sampai saking serunya saya menabrak teman yang di depan. Saat mencapai tempat berkemah kemarin, kami mengambil trash bag serta teko yang kami tinggalkan sementara di sana. Lalu kami melanjutkan perjalanan turun. Total perjalanan untuk sampai ke Puncak Manglayang menghabiskan waktu 3 jam. Saya memperkirakan untuk turun kita akan membutuhkan waktu 2 jam 15 menit. Turun jauh lebih cepat dari naik, kami tidak terlalu banyak beristirahat. Dan tidak terasa sampailah sudah di kaki gunung, 2 jam seperempat sesuai perkiraan. Sebagian teman kami masih ada yang di belakang. Saat naik kami menunggu supaya tidak terpisah, tapi saat turun tidak menjadi terlalu masalah karena semua sudah tahu jalannya, dan kami harus menghubungi kendaraan yang akan kami tumpangi terlebih dahulu.


Di kaki gunung kami singgah sebentar di warung. Sebagian yang lain membersihkan diri di sungai kecil yang sangat jernih. Kami melahap gorengan serta minuman yang ada di warung. Saya sempat mengobrol dengan ibu warung yang biasa dipanggil Emak. Emak bercerita bahwa tempat ini tidak pernah sepi, setiap hari pasti selalu ada yang naik, terutama dari Unpad. Di akhir minggu tempat ini lebih ramai lagi dengan orang-orang paling tidak dari Bandung, dan tempat lain. Saya juga bertanya apakah Emak punya nomor telepon angkot untuk dihubungi. Dan ternyata Emak punya nomor pickup yang bisa disewa dengan harga 150 ribu, yang berarti harganya sama dengan dua angkot kemarin. Langsung saja kami ambil pickup tersebut. Beberapa lama kemudian datanglah pickup tersebut dan berangkatlah kami ke kembali ke Bale. Sampai Bale kami membayar biaya sewa pickup tersebut dan menurunkan barang-barang. 


Perjalanan ini adalah sebuah cerita. Badan kami terasa sangat pegal, tapi hati kami terasa sangat segar. Terisi oleh kebahagiaan dan kepuasan. Pendakian gunung bukanlah kegiatan berjalan biasa, itu adalah sebuah petualangan. Alam adalah tempat di mana kita dapat menghapuskan kompleksitas hidup sejenak dan kembali kepada sejatinya kita sebagai manusia, yang bergantung kepada alam. Tempat di mana akan terlihat sifat asli dari seseorang. Tempat di mana manusia akan saling bertarung dan saling berbagi. Perjalanan ini adalah perjalanan kecil, untuk sebuah awal yang besar. Sebuah kekuatan, sebuah perjuangan, yang pastinya akan terkenang di hati orang-orang yang menjalaninya. Sebuah pengalaman yang manis, yang tak akan terlupakan. Sebuah waktu, yang akan menyatukan hati kita. 


Ingatlah teman, Manglayang hanyalah batu pijakan kecil. Petualangan besar menantikan orang-orang besar untuk menjadikannya ada. Mereka menantikan kita. 


Manglayang, 23-24 Juni 2013
Aditya Nugraha Nurtantijo
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
                                                                                                                       

Sunday, April 28, 2013

Untukmu Yang Tak Lagi Sama



Ada masa di mana aku begitu memahamimu
Saat kau memberiku apa yang kau punya
Kau selalu ada untukku
Saatku membutuhkanmu
Saatku meringis menginginkanmu
Kau ada, kau selalu ada
Di situ, untukku, kapanpun
Jiwa maupun ragamu
Menemani
Kau takkan terganti

Ada masa di mana kita habiskan waktu berdua
Kugenggam erat kau dan tak pernah kulepaskan
Kita lalui hari bersama, sepanjang hari
Tak hanya siang, tapi hingga senja berganti malam
Kau ada saat aku memejamkan mata
Kau pun ada saat ku membuka mata
Tak sadar selama itu kudekap erat tubuhmu
Rasanya begitu hangat, begitu nyata
Tak ingin kulepaskan rasa itu walau hanya sekejap mata

Ada masa di mana kita saling melengkapi
Aku ada karena kau ada
Memberiku harapan
Menerangi hidupku yang gelap dan mendung
Dan kau pun ada karena ku ada
Karena ku menjagamu
Karena ku melindungimu
Karena tak kubiarkan seorang pun menyentuhmu
Melukaimu, atau menggoresmu

Aku mencintaimu, sungguh
Sekalipun tak sering kau mengucapkan kata yang sama padaku
Aku mencintaimu seperti cinta api kepada friksi yang menjadikannya ada
Seperti cinta tanah kepada hujan yang menjadikannya subur
Aku menyayangimu
Sepenuh jiwaku, setulus hatiku

Tapi
Ada masa di mana aku tak dapat mengerti
Aku tak bisa memahami
Aku tak bisa lagi membaca isi hatimu
Membaca apa yang kau berikan, yang kau tunjukkan padaku
Tak bisa aku dan kamu berbagi lagi
Tak peduli seberapa keras aku mencoba
Tak peduli berkali-kali aku mencoba dan mencoba
Selalu sama
Selalu saja
Sia-sia

Aku menyayangimu
Karena kamu adalah bagian dari hidupku
Maka izinkan aku mengerti
Izinkan aku memahami
Apa yang tertera padamu
Apa yang tercantum dalam lembaran-lembaranmu
Mungkin karena kau tak lagi sama
Mungkin karena kau bukan lagi lembaran-lembaran berisikan gambar lucu dan menarik
Tipis, singkat, padat dan menyenangkan
Melainkan hanya barisan kata-kata dengan ejaan yang sulit
Hanya jejeran paragraf tak ber-margin
Tak berwarna, tebal, dan kaku
Bahkan mungkin dipenuhi kepalsuan
Karena ku tak mampu membeli dirimu yang asli

Mungkin karena kau tak lagi sama
Atau memang aku lelah memahami
Maafkan aku
Tapi kuingin kau mengerti
Aku membutuhkanmu

Dari orang yang kesulitan memahamimu yang tebal-tebal dan berjejer di bagian atas rak bukuku.

Friday, April 26, 2013

Special for Big Reds Indonesia


The Reds coming on July!



Finally!

Setelah penantian yang cukup lama. Setelah terombang-ambing dalam ketidakpastian. Akhirnya Indonesia mendapatkan kepastian bahwa Liverpool FC akan melakukan tur ke Indonesia!

Pertandingan melawan Indonesia XI ini bakal dilaksanain tanggal 20 Juli 2013 di Stadion Gelora Bung Karno.

Skrtel memegang bendera Indonesia
Buat saya (kalau mereka jadi dateng dan saya berhasil beli tiket) ini adalah kesempatan kedua buat saya nonton mereka setelah yang pertama kali tanggal 26 Juli 2009 di Singapore. Tapi kali ini ada yang spesial! Saya bisa nonton mereka sebagai bagian resmi dari Big Reds Indonesia, yang merupakan supporter resmi dari Liverpool FC di Indonesia. Dan juga tentunya karena ini adalah kunjungan pertama mereka ke Indonesia, tentunya bakal jadi sesuatu yang istimewa baik untuk seluruh supporter maupun para pemain Liverpool sendiri.

Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung cek di
www.big-reds.org

So, can't wait for them to come and watch them!
See you on July, Liverpool!

Wednesday, April 10, 2013

March 2nd, 2003

It was one day that changed means of days for me

 Waktu itu hari Minggu yang tenang, terasa seperti hari-hari biasa. Tapi hari ini saya memutuskan untuk menonton saluran yang tidak biasa. Karena sedang tidak ada kartun atau sejenisnya (waktu itu saya masih umur 10 tahun) makanya saya berhenti di channel yang sedang menyiarkan sepakbola.

Nah, waktu itu saya sama sekali gak ada minat sama sepakbola. Saya bukan anak yang sering main bola bareng temen, atau sejenisnya. Tapi entah kenapa hari itu saya coba buat nonton pertandingan yang baru aja dimulai itu.

Terlihat kedua kesebelasan memasuki lapangan, satu berbaju merah dengan tulisan Carlsberg di bagian dada, satu lagi mengenakan baju putih dengan tulisan Vodafone.

Pertandingan pun dimulai, kedua tim menyerang dan bertahan dengan cukup baik. Baik umpan-umpan jauh maupun tusukan ke tengah banyak terjadi. Namun setelah pertandingan berjalan beberapa puluh menit masih belum saja ada tim yang berhasil mencetak gol.

Akhirnya tim yang berseragam merah berhasil memecah kebuntuan pada menit ke 39. Sebuah chip shot dari luar kotak penalti yang tidak terlalu kencang tapi sangat terarah dilepaskan oleh pemain bernomor punggung 17 dan melambung ke sisi tiang jauh sehingga tidak dapat diantisipasi oleh kiper.

Pemain tersebut langsung berlari dan melepas bajunya, disambut oleh rekan-rekannya yang lain.

Di saat tim yang berseragam putih berusaha menyamakan kedudukan sepanjanga pertandingan. Ternyata harapan mereka menyamakan kedudukan lenyap sudah pada menit ke 86 saat pemain belakang mereka melakukan kesalahan saat menerima bola. Bola direbut oleh pemain berbaju merah lalu diteruskan ke pemain bernomor 10 yang kemudian berlari sangat kencang dan mencetak gol yang memastikan kemenangan.

Pemain tersebut melepaskan kepalan ke arah penonton disambut dengan komentar meriah dari komentator dan penonton yang bahagia karena kemenangan sudah hampir dipastikan.

Akhirnya, tim yang berkostum merah lah yang memenangkan pertandingan.

Selama pertandingan berjalan saya tidak tahu siapa yang bertanding, dan siapa yang mencetak gol. Hingga akhirnya komentator berkata di setelah peluit panjang berbunyi, "Liverpool won the Worthington Cup against Manchester United!!!". Barulah terpecahkan ternyata pertandingan final itu adalah pertandingan antara Liverpool melawan Manchester United memperebutkan Piala Liga Inggris (saat itu Worthington Cup) yang dilangsungkan di Millenium Stadium, Cardiff. Dan ternyata pencetak gol pertama bernama Steven Gerrard, dan pemain bernomor 10 adalah Michael Owen.


Di situ lah muncul ketertarikan saya terhadap sepakbola. Khususnya terhadap tim yang baru saja memenangkan pertandingan tersebut, Liverpool. Mulai dari situ setiap kali saya membeli FIFA atau Winning Eleven saya selalu memainkan Liverpool. Juga sering sekali saya jadi menonton pertandingan Liverpool selanjutnya.

Itulah tadi sedikit cerita bagaimana saya pertama kali mengenal Liverpool dan menjadi supporter dari tim bola yang dilihat dari jumlah trofi masih menjadi tim nomor satu di Inggris ini. Kedua pemain yang mencetak gol di pertandingan itu menjadi pemain favorit saya sepanjang masa, sekalipun Michael Owen sudah berpindah-pindah klub, bahkan ke klub rival yaitu Manchester United.

Tapi itulah arti dari sebuah kenangan. Itulah arti dari sebuah rasa cinta. Yang entah berawal dari mana, tapi terkadang datang tanpa permisi dan tak pernah mau pergi. Sekalipun performa Liverpool tidak selalu baik dan sering naik turun, tidak pernah sekalipun saya berhenti mendukungnya. Tidak pernah sekalipun saya berpikir untuk berpindah hati.

Mungkin itulah arti sesungguhnya dari cinta dan kesetiaan. Yang entah datang darimana, tapi selalu ada.

You'll Never Walk Alone

Notes.
We believe at least once before Gerrard retired, Liverpool will win the Premier League. We believe.