Sunday, April 28, 2013

Untukmu Yang Tak Lagi Sama



Ada masa di mana aku begitu memahamimu
Saat kau memberiku apa yang kau punya
Kau selalu ada untukku
Saatku membutuhkanmu
Saatku meringis menginginkanmu
Kau ada, kau selalu ada
Di situ, untukku, kapanpun
Jiwa maupun ragamu
Menemani
Kau takkan terganti

Ada masa di mana kita habiskan waktu berdua
Kugenggam erat kau dan tak pernah kulepaskan
Kita lalui hari bersama, sepanjang hari
Tak hanya siang, tapi hingga senja berganti malam
Kau ada saat aku memejamkan mata
Kau pun ada saat ku membuka mata
Tak sadar selama itu kudekap erat tubuhmu
Rasanya begitu hangat, begitu nyata
Tak ingin kulepaskan rasa itu walau hanya sekejap mata

Ada masa di mana kita saling melengkapi
Aku ada karena kau ada
Memberiku harapan
Menerangi hidupku yang gelap dan mendung
Dan kau pun ada karena ku ada
Karena ku menjagamu
Karena ku melindungimu
Karena tak kubiarkan seorang pun menyentuhmu
Melukaimu, atau menggoresmu

Aku mencintaimu, sungguh
Sekalipun tak sering kau mengucapkan kata yang sama padaku
Aku mencintaimu seperti cinta api kepada friksi yang menjadikannya ada
Seperti cinta tanah kepada hujan yang menjadikannya subur
Aku menyayangimu
Sepenuh jiwaku, setulus hatiku

Tapi
Ada masa di mana aku tak dapat mengerti
Aku tak bisa memahami
Aku tak bisa lagi membaca isi hatimu
Membaca apa yang kau berikan, yang kau tunjukkan padaku
Tak bisa aku dan kamu berbagi lagi
Tak peduli seberapa keras aku mencoba
Tak peduli berkali-kali aku mencoba dan mencoba
Selalu sama
Selalu saja
Sia-sia

Aku menyayangimu
Karena kamu adalah bagian dari hidupku
Maka izinkan aku mengerti
Izinkan aku memahami
Apa yang tertera padamu
Apa yang tercantum dalam lembaran-lembaranmu
Mungkin karena kau tak lagi sama
Mungkin karena kau bukan lagi lembaran-lembaran berisikan gambar lucu dan menarik
Tipis, singkat, padat dan menyenangkan
Melainkan hanya barisan kata-kata dengan ejaan yang sulit
Hanya jejeran paragraf tak ber-margin
Tak berwarna, tebal, dan kaku
Bahkan mungkin dipenuhi kepalsuan
Karena ku tak mampu membeli dirimu yang asli

Mungkin karena kau tak lagi sama
Atau memang aku lelah memahami
Maafkan aku
Tapi kuingin kau mengerti
Aku membutuhkanmu

Dari orang yang kesulitan memahamimu yang tebal-tebal dan berjejer di bagian atas rak bukuku.

Friday, April 26, 2013

Special for Big Reds Indonesia


The Reds coming on July!



Finally!

Setelah penantian yang cukup lama. Setelah terombang-ambing dalam ketidakpastian. Akhirnya Indonesia mendapatkan kepastian bahwa Liverpool FC akan melakukan tur ke Indonesia!

Pertandingan melawan Indonesia XI ini bakal dilaksanain tanggal 20 Juli 2013 di Stadion Gelora Bung Karno.

Skrtel memegang bendera Indonesia
Buat saya (kalau mereka jadi dateng dan saya berhasil beli tiket) ini adalah kesempatan kedua buat saya nonton mereka setelah yang pertama kali tanggal 26 Juli 2009 di Singapore. Tapi kali ini ada yang spesial! Saya bisa nonton mereka sebagai bagian resmi dari Big Reds Indonesia, yang merupakan supporter resmi dari Liverpool FC di Indonesia. Dan juga tentunya karena ini adalah kunjungan pertama mereka ke Indonesia, tentunya bakal jadi sesuatu yang istimewa baik untuk seluruh supporter maupun para pemain Liverpool sendiri.

Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung cek di
www.big-reds.org

So, can't wait for them to come and watch them!
See you on July, Liverpool!

Wednesday, April 10, 2013

March 2nd, 2003

It was one day that changed means of days for me

 Waktu itu hari Minggu yang tenang, terasa seperti hari-hari biasa. Tapi hari ini saya memutuskan untuk menonton saluran yang tidak biasa. Karena sedang tidak ada kartun atau sejenisnya (waktu itu saya masih umur 10 tahun) makanya saya berhenti di channel yang sedang menyiarkan sepakbola.

Nah, waktu itu saya sama sekali gak ada minat sama sepakbola. Saya bukan anak yang sering main bola bareng temen, atau sejenisnya. Tapi entah kenapa hari itu saya coba buat nonton pertandingan yang baru aja dimulai itu.

Terlihat kedua kesebelasan memasuki lapangan, satu berbaju merah dengan tulisan Carlsberg di bagian dada, satu lagi mengenakan baju putih dengan tulisan Vodafone.

Pertandingan pun dimulai, kedua tim menyerang dan bertahan dengan cukup baik. Baik umpan-umpan jauh maupun tusukan ke tengah banyak terjadi. Namun setelah pertandingan berjalan beberapa puluh menit masih belum saja ada tim yang berhasil mencetak gol.

Akhirnya tim yang berseragam merah berhasil memecah kebuntuan pada menit ke 39. Sebuah chip shot dari luar kotak penalti yang tidak terlalu kencang tapi sangat terarah dilepaskan oleh pemain bernomor punggung 17 dan melambung ke sisi tiang jauh sehingga tidak dapat diantisipasi oleh kiper.

Pemain tersebut langsung berlari dan melepas bajunya, disambut oleh rekan-rekannya yang lain.

Di saat tim yang berseragam putih berusaha menyamakan kedudukan sepanjanga pertandingan. Ternyata harapan mereka menyamakan kedudukan lenyap sudah pada menit ke 86 saat pemain belakang mereka melakukan kesalahan saat menerima bola. Bola direbut oleh pemain berbaju merah lalu diteruskan ke pemain bernomor 10 yang kemudian berlari sangat kencang dan mencetak gol yang memastikan kemenangan.

Pemain tersebut melepaskan kepalan ke arah penonton disambut dengan komentar meriah dari komentator dan penonton yang bahagia karena kemenangan sudah hampir dipastikan.

Akhirnya, tim yang berkostum merah lah yang memenangkan pertandingan.

Selama pertandingan berjalan saya tidak tahu siapa yang bertanding, dan siapa yang mencetak gol. Hingga akhirnya komentator berkata di setelah peluit panjang berbunyi, "Liverpool won the Worthington Cup against Manchester United!!!". Barulah terpecahkan ternyata pertandingan final itu adalah pertandingan antara Liverpool melawan Manchester United memperebutkan Piala Liga Inggris (saat itu Worthington Cup) yang dilangsungkan di Millenium Stadium, Cardiff. Dan ternyata pencetak gol pertama bernama Steven Gerrard, dan pemain bernomor 10 adalah Michael Owen.


Di situ lah muncul ketertarikan saya terhadap sepakbola. Khususnya terhadap tim yang baru saja memenangkan pertandingan tersebut, Liverpool. Mulai dari situ setiap kali saya membeli FIFA atau Winning Eleven saya selalu memainkan Liverpool. Juga sering sekali saya jadi menonton pertandingan Liverpool selanjutnya.

Itulah tadi sedikit cerita bagaimana saya pertama kali mengenal Liverpool dan menjadi supporter dari tim bola yang dilihat dari jumlah trofi masih menjadi tim nomor satu di Inggris ini. Kedua pemain yang mencetak gol di pertandingan itu menjadi pemain favorit saya sepanjang masa, sekalipun Michael Owen sudah berpindah-pindah klub, bahkan ke klub rival yaitu Manchester United.

Tapi itulah arti dari sebuah kenangan. Itulah arti dari sebuah rasa cinta. Yang entah berawal dari mana, tapi terkadang datang tanpa permisi dan tak pernah mau pergi. Sekalipun performa Liverpool tidak selalu baik dan sering naik turun, tidak pernah sekalipun saya berhenti mendukungnya. Tidak pernah sekalipun saya berpikir untuk berpindah hati.

Mungkin itulah arti sesungguhnya dari cinta dan kesetiaan. Yang entah datang darimana, tapi selalu ada.

You'll Never Walk Alone

Notes.
We believe at least once before Gerrard retired, Liverpool will win the Premier League. We believe.

Friday, April 5, 2013

MDE


             
   Lagi-lagi saya dapet beberapa perenungan di tengah lamunan sebelum tidur saya. Kali ini tentang ujian.

                Ya, saat ini FK Unpad sedang menghadapi UTS, yang seperti kita semua tahu, untuk kebanyakan orang, kurang menyenangkan. Di UTS ini ada beberapa mata kuliah yang diuji, antara lain CRP (research), BHP (etika kedokteran), PHOP (kesehatan masyarakat), dan tentunya tak ketinggalan yang paling besar porsinya adalah MDE, yaitu materi medis itu sendiri. 

                Dulu waktu masih sekolah, SMA apalagi SMP atau SD, rasanya setiap menghadapi ujian itu tenang. Karena konsekuensi yang akan kita dapat saat ujian adalah, antara nilai baik atau buruk. Saat kita mendapat nilai baik ya berarti kita mendapatkan kebanggaan dan rasa puas. Saat nilai kita buruk? Mungkin kita bakal kecewa, ditertawai teman-teman, dimarahi orangtua, atau paling parah tidak naik kelas. Saat kita ujian masuk perguruan tinggi? Konsekuensi terparah adalah kita tidak lulus.

                Tetapi ada yang berbeda di sini. Saat kita disodorkan pertanyaannya. Mungkin sebagian besar teman-teman tidak menyadari, tapi sebenernya kita disodorkan 200 nyawa orang saat itu. Ya, semua pilihan yang kita jawab pada lembar jawaban akan diminta pertanggung jawabannya saat kita menjadi dokter nanti. Pilihan yang salah, bisa berarti nyawa yang hilang. Salah melingkari, bisa berarti kita membunuh satu orang, bahkan lebih. Berlebihan? Coba kita bahas yang satu ini.

                Anggaplah kita mempunyai pertanyaan sebagai berikut:

Which of the following antihypertension is contraindicated in pregnant woman?
a.       Hidrochlorthiazid
b.      Nifedipine
c.       Hidralazin
d.      Captropil
e.      Methyldopa

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah (D) yaitu captopril. Anggap kita memilih (E) yang berarti menganggap (D) aman. Lalu kita berikan kepada seorang wanita hamil. Captopril adalah obat antihipertensi yang masuk kategori pregnancy D yang berarti HANYA boleh digunakan dalam LIFE-THREATENING condition. Penggunaan obat ini dalam masa kehamilan dapat menyebabkan cacat janin bahkan kematian.

                Ini hanya satu dari 200 soal MDE yang dihadapi. MDE juga tidak hanya datang sekali, tapi berkali-kali. Setiap jawaban yang salah akan mengarahkan kita ke treatment atau kesimpulan yang salah suatu saat nanti. Keputusan yang salah berarti kita menghancurkan seseorang yang sudah menaruh kepercayaannya di tangan kita. Pantaskah kita sebagai calon dokter untuk melakukan itu?

                Banyak yang tidak sadar akan hal ini. Bahkan saya sendiri pun baru saja menyadarinya. Kami terlalu banyak hanya berpatokan untuk mendapat nilai sekedar lulus saja. Kami terlalu sibuk mengurusi urusan kami sendiri dengan segala kegiatan dan kesibukan yang menuntut seluruh pikiran juga tenaga. Padahal seharusnya, ilmu lah yang jauh lebih penting dibandingkan nilai. Ilmu lah yang akan membawa kita melaksanakan ibadah ini, melakukan kebaikan ini untuk orang banyak.
Mudah-mudahan ini dapat menjadi renungan kita semua bahwa kita belajar bukan hanya untuk diri kita sendiri, bukan untuk harta, bukan hanya untuk keluarga atau orang-orang terdekat kita. 

We study for the sake of humanity...