Monday, December 7, 2015

HIV/AIDS Tanpa Pertambahan Infeksi dan Tanpa Diskriminasi, Bukanlah Sebuah Mimpi

HIV/AIDS Tanpa Pertambahan Infeksi dan Tanpa Diskriminasi,
Bukanlah Sebuah Mimpi

            “HIV? Buat apa? Kita kan keluarga baik-baik!”
            Begitulah sebuah penggalan iklan layanan masyarakat yang belum lama ini dirilis. HIV/AIDS merupakan singkatan dari dua hal yang berkaitan. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus golongan lentivirus yang dapat menyebabkan penyakit kepada manusia. Orang yang terkena infeksi HIV belum tentu menimbulkan gejala. Seringkali dalam hitungan tahun barulah muncul gejala dari infeksi HIV tersebut. Pada tahap lanjut, infeksi ini dapat berkembang dan menimbulkan kondisi yang disebut Acquired Immundeficiency Virus (AIDS). AIDS membuka gerbang besar bagi infeksi oportunistik oleh bakteri, virus, parasit, bahkan jamur.
            Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia hingga September 2014, mayoritas kasus AIDS terjadi pada golongan usia 20-29 tahun dengan angka 18.352 orang. Sedangkan untuk pembagian menurut jenis kelamin, lebih dari setengah penderitanya adalah laki-laki. Berdasarkan pembagian wilayah, DKI Jakarta menduduki peringkat teratas angka kumulatif HIV/AIDS dengan 40.259 orang. Jawa Timur menyusul setelahnya dengan 28.225 orang, Papua 26.235 orang, dan Jawa Barat 17.698 orang.


Permasalahan dalam HIV/AIDS

            Permasalahan yang paling pertama muncul tentunya adalah masalah kesehatan. Kondisi dengan tingkat imun yang rendah menyebabkan seseorang rentan terkena penyakit. Infeksi-infeksi, bahkan yang umumnya tidak berbahaya, dapat menyerang orang dengan AIDS dan menyebabkan respon yang fatal. Hal ini tentunya terjadi karena tubuh tidak memiliki pertahanan terhadap infeksi yang masuk.
            Dari segi ekonomi, seseorang yang terkena AIDS tingkat lanjut dapat kehilangan produktivitas. Kehilangan produktivitas dapat menyebabkan gangguan finansial bagi keluarga atau orang yang ditanggung. Gangguan finansial ini dapat berujung kepada kriminalitas yang dapat menyebabkan masalah sosial, yang akan kita bahas lebih lanjut.
            Dari segi sosial, mungkin di sinilah letak sebagian besar masalah. Masalah pertama adalah penyebab penyakit itu sendiri. Perilaku berganti pasangan seksual adalah salah satunya.Tentunya  kebiasaan tersebut dapat menyebabkan keretakan dalam keluarga. Hasilnya, anak menjadi korban dari ketidakharmonisan keluarga. Dalam jangka panjang, anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bermasalah dapat tumbuh menjadi orang yang memiliki gangguan emosional.
            Salah satu penularan HIV juga melalui penggunaan jarum yang bergantian. Perilaku ini didorong oleh berbagai faktor, antara lain pergaulan, krisis kepercayaan diri, tingkat stress yang tinggi, krisis kepribadian dan lain-lain. Faktor risiko tersebut adalah faktor risiko yang melekat dalam sosok pemuda, menjadikannya begitu rentan tertular HIV. Penderita HIV/AIDS juga hingga saat ini masih mendapat pengucilan dari masyarakat. Banyak masyarakat yang takut untuk berada dekat dengan penderita HIV/AIDS. Berbicara saja rasanya segan, apalagi jika ada kontak fisik. Penderita HIV/AIDS seringkali mendapat pengucilan berupa pemecatan, larangan mengikuti kegiatan umum, dan sebagainya. Padahal, banyak sekali penderita HIV yang dapat memiliki kehidupan normal layaknya orang sehat dan berkeluarga.          


Idealisme dan potensi pemuda

            Sebagai seorang mahasiswa kedokteran, saya merasakan betapa besar potensi yang dimiliki seorang mahasiswa. Seorang mahasiswa pada umumnya memiliki pandangan yang sangat ideal terhadap tatanan kemasyarakatan. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, seringkali idealismenya terkikis oleh realita dunia kerja. Karena itu, alangkah baiknya langkah yang dilakukan organisasi pemuda maupun pemerintah adalah bagaimana cara agar idealisme yang dimiliki pemuda dapat tertanam untuk waktu yang lama.
            Dalam pandangan saya, pemuda adalah mereka yang berani memiliki mimpi dan punya semangat untuk meraihnya. Di negara maju, banyak orang yang berusia lanjut tetapi masih memiliki jiwa pemuda. Mereka masih berani bermimpi dan punya semangat untuk mencapai mimpi tersebut. Semangat besar yang dimiliki pemuda membuat mereka yang berpikiran positif cocok untuk menggerakkan hati dan pikiran banyak orang. Sayangnya, belum banyak gerakan dalam skala besar yang dilakukan oleh pemuda. Memang sudah ada program-program yang dilakukan oleh beberapa organisasi mahasiswa, tapi jarang yang memberikan efek jangka panjang. Gerakan-gerakan sosial yang berhubungan dengan kegiatan HIV/AIDS secara signifikan sejauh ini lebih banyak dilakukan oleh organisasi sosial atau pemerintah.
            Kita perlu mengambil contoh dari luar agar bisa melangkah ke depan. Mari kita tengok Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) yang menggerakkan 12 organisasi pemuda global dan regional yang bekerja dalam bidang kesehatan reproduksi serta 16 komunitas pemuda yang terbentuk dalam UNAIDS Youth Advisory Forum. Dengan prinsip think global but act local, forum ini bertujuan untuk menentukan arah yang jelas bagi para pemuda untuk bergerak bersama dalam membasmi HIV/AIDS. Fokus mereka sebagai pemuda terpelajar adalah advokasi kepada pemerintah dengan mengajukan sebuah kerangka strategis (framework) melalui advokasi. Prinsip yang layak kita anut bersama juga dalam pemberantasan HIV adalah prinsip zero new HIV infections, zero discrimination and zeri AIDS-related deaths.Suatu visi yang layak diperjuangkan.
           

Peran keluarga

            Keluarga memiliki peranan penting dalam penanggulangan HIV/AIDS di masyarakat. Kita dapat melihat dari 4 pendekatan kesehatan.
            Dari sisi preventif dan promotif, keluarga merupakan garis terdepan pertahanan terhadap HIV/AIDS. Perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba dapat dicegah dengan memberikan pendidikan dini kepada anak, serta melakukan pengawasan yang diperlukan. Keluarga yang tidak harmonis dapat menjadi sumber gangguan perilaku pada anak dan remaja. Penularan HIV/AIDS pada bayi juga dapat dicegah dengan melakukan deteksini pada ibu hamil. Jawa Barat adalah salah satu provinsi yang mewajibkan deteksi HIV pada ibu hamil. Deteksi ini bertujuan agar penularan secara maternal dapat dihindari sehingga bayi lahir bebas HIV. Keluarga juga menjadi sarana pendidikan kehidupan yang sangat penting bagi anak dan remaja. Orangtua memiliki kewajiban mendidik anaknya agar tidak salah dalam pergaulan dan kemasyarakatan.
            Dari segi kuratif, belum banyak jurnal yang memberikan data pasti mengenai terapi untuk kesembuhan total dari HIV/AIDS. Untuk infeksi HIV, penggunaan jangka panjang dari highly active antiretroviral therapy (HAART) terbukti dapat menghambat perkembangan HIV, terutama jika dimulai dini. Untuk AIDS, Timothy Ray Brown, adalah salah satu atau mungkin satu-satunya orang yang sembuh total dari AIDS. Brown berhasil sembuh dengan melakukan bone marrow transplant dari seseorang dengan gen bawaan yang resisten terhadap HIV.
            Dari segi rehabilitatif, keluarga memiliki peran vital. Mulai dari hal yang paling dasar yaitu dukungan. Dukungan keluarga bisa jadi menjadi motivasi paling utama bagi seorang penderita HIV/AIDS untuk tetap hidup. Dukungan finansial juga menjadi penyokong yang penting dalam kelangsungan hidup penderita HIV/AIDS.


HIV/AIDS dalam masyarakat

            Satu hal yang paling penting adalah, penderita HIV/AIDS adalah manusia. Manusia memiliki hak hidup dan potensi yang masih dapat diberikan, sekalipun dia dalam kondisi sakit sekalipun.
            Andrew Pulsipher adalah salah satunya. Mengetahui dirinya HIV sejak berusia 8 tahun, Andrew kini sudah memiliki istri dan 3 orang anak yang semuanya HIV negatif. Andrew adalah bukti bahwa penderita HIV memiliki potensi dan hak kehidupan yang sama dengan manusia normal, hanya saja dengan usaha yang lebih. Andrew harus menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin untuk mensupresi penyebaran virus di tubuhnya. Tetapi dengan semua perjuangan itu, Andrew dapat menjalankan kehidupan sehari-hari, bekerja, memiliki keluarga, dan beraktivitas sebagaimana biasanya. Andrew bahkan kini sudah berani untuk membuka diri terhadap penyakitnya, dengan alasan dia ingin mengajak masyarakat untuk lebih paham mengenai HIV/AIDS.
            Lain ceritanya dengan LJ, di usia 7 tahun dia sudah harus dipanggil oleh Sang Pencipta dalam kondisi memprihatinkan. Kedua orangtua LJ sudah meninggal pada tahun 2012, sehingga LJ dirawat seorang diri oleh kakaknya, VC (24). VC, LJ sudah beberapa kali diusir warga dari tempat tinggal mereka saat diketahui bahwa LJ terkena HIV. Oleh anak-anak dan tetangga juga, mereka dikucilkan dan sering diolok-olok. Untungnya masih ada rumah sakit yang menerima saat LJ jatuh sakit. Pegawai rumah sakit tersebut bahkan mengumpulkan uang agar LJ dapat tetap makan. Tetapi akhirnya LJ tidak tertolong dan meninggal dalam usia dini.
            Pelajaran di atas menunjukkan kita betapa besar peran masyarakat dalam penanganan masalah HIV/AIDS. Keluarga adalah lini pertama dalam penanganan, mulai dari tempat berteduh, dukungan finansial, dan yang paling penting dukungan emosional. Keluarga bagi sebagian besar orang adalah alasan utama untuk  tetap bertahan hidup. Lebih jauh, pemuda memiliki peran dan potensi besar dalam penanganan HIV/AIDS. Dimulai dengan menjaga diri sendiri agar tidak tertular, juga menjadi inspirasi positif bagi pemuda lainnya. Ilmu agama yang kuat perlu dimiliki oleh seorang pemuda sebagai pondasi dalam bergaul di masyarakat. Pondasi yang kuat akan mempertahankan kegigihan pemuda dalam menahan gelombangan negatif yang datang dari pergaulan bebas di masyarakat.
            Pemuda sesungguhnya adalah tonggak bangsa yang memiliki kekuatan perubahan. Visi zero new HIV infections, zero discrimination and zeri AIDS-related deaths bukanlah susunan kata tanpa arti di hadapan pemuda. Pemuda memiliki potensi ledakan  perubahan saat mereka mau bersatu menggandengkan tangan dan berkolaborasi. Seperti yang bapak bangsa kita, Ir. Soekarno, pernah serukan, “Berikan aku 1000 orangtua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!”
            Hidup pemuda Indonesia!

Dokter Indonesia : Siapkah Kita Menghadapi Era Masyarakat Ekonomi ASEAN?

Dokter Indonesia : Siapkah Kita Menghadapi
Era Masyarakat Ekonomi ASEAN?

Pendahuluan

            Singapura, 12 November 2007. Negara-negara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) menyepakati sebuah cetak biru deklarasi yang kini kita sebut sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Kesepakatan ini antara lain muncul karena ada keinginan untuk mencapai level dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di negara-negara ASEAN. Kebijakan seperti ini memiliki kesamaan dengan European Union (EU) yang menerapkan kebijakan free-trade area dalam wilayahnya.
            MEA sendiri merupakan bagian dari proses perwujudan ASEAN Vision 2020 yang mengharapkan wilayah ASEAN pada tahun 2020 akan menjadi “Zone of Peace, Freedom and Neutrality” sebagaimana digambarkan dalam Deklarasi Kuala Lumpur tahun 1971. (2008)
Melihat kesiapan dokter Indonesia dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN
            Jika kita melirik pada sistem pendidikan kedokteran, tentunya kita tidak kalah dengan negara ASEAN lainnya. Dilihat dari sisi jangka waktu, rata-rata 5-6 tahun adalah waktu yang juga diperlukan untuk menjadi seorang dokter di negara-negara ASEAN. Ada beberapa kendala yang dikeluhkan baik dari pihak mahasiswa kedokteran maupun dokter. Tidak meratanya tenaga pengajar serta fasilitas menyebabkan ada kesenjangan dalam pendidikan kedokteran. Masalah lain juga muncul terutama dari para dokter muda di daerah yang padat, seperti Jakarta atau Jawa Barat. Banyaknya dokter muda, perawat, bidan, bahkan residen berebut pasien yang datang menyebabkan suasana kurang kondusif untuk mendapatkan pengalaman klinis yang mumpuni.
            Dari segi non-medis, ada beberapa hal yang bisa disoroti dari dokter Indonesia. Biarpun pendidikan kedokteran menekankan tindakan promotif yang baik dalam bentuk edukasi, pada praktiknya dokter-dokter terutama di puskesmas dan daerah padat cenderung jarang melakukannya dalam lingkup klinik. Memang penyuluhan rutin dilakukan, tetapi edukasi saat menangani pasien masih minim. Hal tersebut terjadi karena jumlah pasien yang membludak setiap harinya. Kebiasaan tersebut tentunya perlu diperbaiki.
            Isu lain yang penting dibahas adalah perihal bahasa. Hingga saat ini ujian kompetensi untuk dokter Indonesia menggunakan Bahasa Indonesia. Tentunya hal ini sangat penting, mengingat praktik dilakukan di Indonesia. Tetapi, Bahasa Inggris yang mumpuni juga diperlukan untuk dapat bersaing secara internasional. Hal ini tentunya perlu menjadi pertimbangan bagi institusi pendidikan kedokteran ke depannya.


Pentingnya regulasi yang tidak merugikan warga negara Indonesia

            Keterbukaan dalam bisnis regional memerlukan regulasi yang sesuai. Presiden Indonesia Joko Widodo mengemukakan dalam KTT ke-25 ASEAN di Nay Pyi Taw, Myanmar, bahwa Indonesia di bawah pemerintahannya terbuka untuk bisnis. Namun, Indonesia, seperti negara berdaulat manapun, harus memastikan kepentingan nasional tidak dirugikan. (2014)
            Kita dapat melihat ke belakang hubungan bilateral antara Indonesia-Tiongkok yang sudah berjalan puluhan tahun lamanya. Baik investor maupun pekerja dari Tiongkok datang berbondong-bondong menanamkan modal dan bekerja di Indonesia. Sementara itu regulasi pemerintah yang tidak tegas dalam mengatur kerjasama dengan luar negeri mengakibatkan perekonomian dikuasai oleh warga negara asing. Jangan sampai era liberalisasi ini membuka kesempatan bagi neo-kolonialisme.
            Dilihat dari sisi kesehatan, regulasi mengenai praktik kedokteran merupakan isu utama yang harus diselesaikan sebelum kita dihempas oleh gelombang pekerja asing dari luar negeri. Indonesia selama ini banyak bekerjasama dengan investor asing dalam berbagai bidang. Tanpa regulasi yang kuat, jelas, dan konsisten, tenaga kesehatan Indonesia akan menjadi bulan-bulanan tenaga kesehatan asing yang datang dari luar.
            Pembaruan regulasi pun perlu dilakukan juga dalam bidang pendidikan kedokteran. Saat ini ada kendala dalam pendidikan profesi kedokteran, salah satunya adalah internship dengan interval yang lama setelah kelulusan menyebabkan para dokter terlambat memasuki dunia kerja. Hal ini berpotensi menurunkan daya saing para dokter yang sudah Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).
            Sejauh ini blueprint MEA terkait dengan  perdagangan jasa mencakup 4 modes of supply, yaitu cross-border supply, consumption abroad, commercial presence, dan movement of natural person. (2008)
            Mode 1, Cross-border supply, adalah pasokan lintas batas jasa, contohnya saat WNI membeli jasa dari luar negeri tanpa harus meninggalkan tempat tinggalnya melalui telemedicine. Mode 2, Consumption abroad, adalah jasa yang diberikan oleh penyedia jasa kepada warga negara asing. Mode 3, Commercial presence adalah jasa yang diberikan oleh penyedia jasa luar negeri di negara konsumen, misalnya perusahaan asing mendirikan rumah sakit di Indonesia. Mode 4, Movement of natural person adalah tenaga kerja asing yang menyediakan jasa keahlian tertentu dan datang ke negara konsumen, misalnya dokter asing praktik di Indonesia. (Sunaria, 2015)
            Mekanisme penjadwalan penghapusan hambatan perdagangan jasa diatur dalam ASEAN Framework Agreement on Service (AFAS). Sejak disepakatinya AFAS, liberalisasi jasa dilakukan secara bertahap dengan membuat paket Schedule on Commitments (SoC) untuk setiap putaran. Komitmen tersebut tidak boleh ditarik kembali. Hingga saat ini, Indonesia belum memberikan komitmen  untuk Mode 4. Untuk Mode 1 dan 2 disepakati tanpa limitasi. Untuk Mode 3 disepakati dengan ketentuan: penyertaan modal asing sampai dengan 70%, kecuali di Makasar dan Manado sampai dengan 51%; tenaga kesehatan wajib merupakan warga negara Indonesia; pendirian terbatas di ibukota provinsi di wilayah Indonesia Timur. (Sunaria, 2015)
            Dari uraian di atas dapat kita simpulkan, hingga saat ini pemerintah masih belum membuka pintu secara bebas bagi tenaga asing, dan jika dilihat dari pernyataan Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan, pemerintah akan tetap mempertahankan komitmen tersebut. Kita harus realistis bahwa daya saing warga negara Indonesia masih belum cukup dibandingkan dengan negara-negara tetangga, sehingga harus sangat berhati-hati dalam membuka pintu untuk tenaga asing.


Strategi negara dalam berkompetisi dengan negara asing

            Dalam kondisi persaingan yang sangat ketat, sangat diperlukan kesadaran untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing. Mantan Menteri Kesehatan Indonesia, Nafsiah Mboi pernah mengutarakan pentingnya menjaga serta meningkatkan mutu dan daya saing SDM Kesehatan Indonesia serta meningkatkan pengawasan tenaga kesehatan warga negara asing yang bekerja di Indonesia. Upaya pengembangan SDM kesehatan ini salah satu wujudnya adalah dengan mengesahkan undang-undang yang berkaitan dengan kesehatan.
            Dalam bidang ketenagakerjaan, satu hal utama yang perlu diatur adalah jumlah tenaga asing yang akan masuk. Jumlah dokter umum di Indonesia berdasarkan Konsil Kedokteran Indonesia per 21 April 2015 ada di angka 104.772 yang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk ada di angInveka 1 dokter untuk sekitar 2.400 penduduk. Angka ini sebenarnya sudah memenuhi standar WHO yang memberikan rekomendasi 1 dokter untuk 2500 penduduk. Tapi ternyata sebagian  besar dokter tersebut terpusat di bagian barat Indonesia. Pulau Jawa begitu padat dengan dokter sementara wilayah Indonesia timur masih sangat kekurangan. Masuknya tenaga asing ke dalam negeri bisa kita gunakan untuk daerah-daerah yang kekurangan peminat tenaga kesehatan. Jika regulasi ini dapat diimplementasikan, kita dapat memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di daerah yang kekurangan. Jika mereka menolak, berarti kita dapat mengontrol jumlah tenaga asing yang masuk ke Indonesia
            Dalam bidang investasi, kita harus berhati-hati dalam membuat kesepakatan. Seringkali dalam investasi yang masuk, terlampir syarat-syarat terselubung. Misalnya saat investor dari suatu negara menanamkan modal, mereka memberi syarat tenaga kerja proyek tersebut harus didatangkan dari negara mereka. Hal ini justru malah mengambil porsi lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Seharusnya dalam setiap investasi atau masuknya tenaga asing, ada kerjasama bahwa mereka harus mempekerjakan orang Indonesia atau melibatkan orang Indonesia dalam proses. Hal ini dapat meningkatkan lapangan pekerjaan serta mengembangkan kualitas SDM dari Indonesia. Sebenarnya regulasi ketenagakerjaan mengatur tentang hal ini, tapi pada praktiknya warga negara Indonesia hanya menjadi buruh, tanpa ada transfer ilmu.
            Dalam bidang pendidikan, Indonesia perlu untuk meningkatkan jumlah pelajar yang menimba ilmu di negeri asing. Berdasarkan Webometrics, saat ini hanya Universitas Gadjah Mada saja yang masuk ke peringkat 10 besar Asia Tenggara. Sisanya didominasi oleh Singapura, Thailand, dan Malaysia. Saat ini MEA belum mencantumkan regulasi lebih lanjut mengenai kerjasama pendidikan antarnegara. Jika kita dapat mewujudkan kerjasama dalam dunia pendidikan di era MEA ini, kita dapat meningkatkan kualitas SDM Indonesia untuk nantinya bersaing dengan warga negara asing.


Medical Tourism

            Salah satu bentuk spesifik pelayanan kesehatan yang bisa kita kembangkan adalah medical tourism. Medical tourism ini adalah sesuatu yang lazim dilakukan orang negara kita sendiri khususnya di Malaysia dan Singapura. Tidak kurang dari lima ratus orang per tahun datang ke negara tetangga untuk berobat. WNI yang berobat di luar negeri adalah kalangan menengah ke atas yang menganggap fasilitas medis maupun tenaga kesehatan di Indonesia masih di bawah standar kelayakan sehingga mayoritas mereka pergi berobat di luar negeri.
            Pertanyaan selanjutnya, mengapa WNI lebih senang untuk berobat ke Malaysia atau Singapura? Jawabannya adalah : pelayanan, fasilitas, dan harga. Pelayanan rumah sakit dan dokter di Malaysia terkenal jauh lebih ramah. Dokter menyisihkan banyak waktu untuk menjadi pendengar yang baik dan memberikan edukasi dengan lengkap kepada pasien. Hal ini tentunya sulit dilaksanakan di Indonesia dengan jumlah pasien yang membludak. Di fasilitas layanan primer, pasien dalam satu hari paling tidak menyentuh angka lima puluh orang. Dalam hal fasilitas, Indonesia masih belum bisa menyediakan alat medis untuk terapi dan diagnosis sebaik Malaysia. Hal ini tentu saja menjadi tanda tanya besar, karena Indonesia dan Malaysia sama-sama bergantung pada impor dari luar negeri. Ternyata hal ini berhubungan erat dengan pajak yang dikenakan pada alat-alat medis dan obat. Di malaysia alat medis dan obat tidak dikenakan pajak lagi oleh pemerintah, sehingga harga barang bisa lebih murah sekitar 40% dari Indonesia. Hal itu tentunya berimbas pada pasien, yang harus membayar mahal untuk pelayanan kesehatan. Ditambah lagi angka anggaran kesehatan kita yang masih berkisar sekitar 2-4%, padahal negara-negara lain rata-rata 10% dari APBN. (Wirawijaya, 2014)
            Dari masalah-masalah tersebut, momentum MEA ini dapat menjadi pertimbangan kembali bagi pemerintah untuk mengatur arus investasi dalam bidang kesehatan. Jika tenaga kesehatan asing dirasa masih perlu dibatasi, investasi seharusnya mendapat tempat yang pantas di dalam sektor kesehatan. Investasi dari luar dalam bentuk pelayanan dan fasilitas kesehatan berupa rumah sakit yang berkualitas, laboratorium yang lengkap, infrastruktur yang nyaman dan indah, dapat menjadi dorongan bagi Indonesia untuk bersaing dengan negara-negara tetangga dalam bidang medical tourism.
            Tentunya sebelum memanfaatkan investor asing, komitmen dari dalam negeri perlu dibangun terlebih dahulu. Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada tahun 2013 pernah membuat kerjasama tentang pengembangan wisata kesehatan. Hal ini perlu diwujudkan nyata dalam bentuk peningkatan anggaran kesehatan dan pariwisata bagi medical tourism.
            Dari seluruh pemaparan-pemaran di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa saat ini tenaga kesehatan Indonesia belum memiliki daya saing yang cukup untuk dapat bersaing langsung dengan tenaga asing. Masih perlu peningkatan sikap serta kualitas kerja. Dalam menghadapi MEA ini juga, Indonesia masih perlu meningkatkan kualitas pendidikan kedokteran sebagai modal untuk bersaing dalam MEA. Kemudian sektor-sektor potensial dalam bidang kesehatan seperti medical tourism harus ditingkatkan dalam MEA ini untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam kompetisi internasional.
            Doa kita semua, semoga pemerintah dapat mengambil kebijakan yang sebaik-baiknya dan warga negara Indonesia punya kesadaran tinggi untuk menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Semoga warga negara dan pemerintah bisa lebih sadar betapa pentingnya maju bersama-sama dan berkolaborasi. Seperti kata Walikota Bandung, Ridwan Kamil, “Kini bukan zamannya mengubah zaman sendirian. Kita perlu bersama-sama, kita perlu berkolaborasi. Kolaborasi itu ibarat kunci pintu rumah yang bernama masyarakat madani”.


Referensi


Essay ini memenangkan Juara 1 Essay Competition Kajian Luar Biasa dalam Indonesia Englightenment Exhibition dengan tema "Regulasi Tenaga Kesehatan dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN"