Sunday, December 30, 2012

La Nostra Notte

Sebaris cerita. Sebuah malam milik kita.

Tutorial

Mungkin ada sebuah sistem baru di FK Unpad yang saya dapatkan sangat berbeda dengan sistem-sistem yang pernah saya jalani semua ini.

Sistem itu bernama TUTORIAL

Tutorial adalah sebuah sistem yang mengutamakan diskusi, keproaktifan, kerjasama sekaligus kemandirian, juga kevalidan.

Sistemnya begini, kami dibagi ke 24 kelompok kecil, masing-masing beranggotakan kurang lebih 12 orang. Lalu, kami diberi case-case yang nantinya akan kami bahas juga diskusikan langsung di tempat juga di luar ruangan.

Sejauh ini sudah 3 kasus yang kami dapatkan yaitu Anorexia Nervosa, Lactose Intolerance dan yang malam ini sedang saya kerjakan, Obesity. Ketiga kasus tersebut pada dasarnya sama, berlandaskan FBS (Fundamental Biomedical Science)yang sama yaitu biokimia dan nutrisi.

Hal positif yang bisa diambil dari sistem ini tentunya adalah menuntut kerjasama sekaligus kemandirian. Kita dituntut bisa bekerja sama sebagai kelompok, tapi juga memutuskan apa yang perlu kita pelajari sendiri, karena di dalam tutorial kita tidak boleh bertanya pada tutor, kita harus mencari tahu sendiri segala yang tidak kita ketahui. Sistem ini juga menuntut keaktifan dalam level yang sangat tinggi. Kemampuan untuk menilai keabsahan dari suatu informasi juga sangat dilatih di sini, yang tentunya akan sangat berguna di masa depan mengingat ganasnya media massa juga sistem informasi saat ini.

Tapi ada beberapa hal yang mungkin biarpun tidak tepat disebut kekurangan, tapi bisa dibilang cukup merepotkan. Karena tidak boleh bertanya saat tutorial, banyak tanda tanya yang muncul di kepala dan terkadang kita kesulitan mendapatkan informasi tersebut, hingga akhirnya banyak informasi yang masuk dan kita tidak tahu yang mana yang pasti benar. Akhirnya dalam belajar penuh keragu-raguan.
Tutorial ini adalah bagian yang sangat penting dari kehidupan di FK Unpad ini, dan di sinilah semuanya bermula, daya analisis juga pengetahuan, sebagai seseorang yang akan menjadi dokter di masa depan. Di sinilah kami diuji seberapa pantas kami duduk di FK Unpad ini.

Banyak sekali hal yang saya dapatkan dalam waktu yang sangat singkat ini, tapi satu hal yang pasti, pertarungan baru saja dimulai.

Dokter?

Halo! Hari ini saya mau cerita sedikit nih!

Gak kerasa setaun perjuangan di bangku kelas 3 SMA sudah terlewati, banyak banget rintangan dan tantangan selama setaun kemarin. Satu tahun di mana saya benar-benar belajar. Nerdy abis pokoknya.
Well,ada beberapa hal yang pengen saya ungkapkan. Terutama soal cita-cita saya.

Waktu kecil cita-cita pertama saya adalah menjadi astronot. Kenapa? Simpel aja, karena saya pikir astronot itu keren, bisa pergi jauh melebihi siapapun di dunia ini. Bisa menjelajahi tempat-tempat yang gak pernah dijamah oleh siapa pun. Lalu entah kenapa saya hilang interest terhadap astronot dan beralih ke bidang fisika. Mungkin kayak sebagian besar anak sd juga yang paling banter tau rumus fisika itu E=mc2. Yah, paling enggak waktu itu saya udah nyoba cari tau kalo itu artinya Energi sama dengan massa dikali kecepatan cahaya yang dikuadratkan, biarpun belum terbayang apa arti semua itu.

Ternyata seiring waktu berlalu, saya menemukan hati saya dalam bidang kimia. Ini adalah sebuah penemuan yang cukup berharga bagi diri saya sendiri. karena saya menemukan passion saya dalam bidang itu. Tabel periodik dan sifat-sifatnya bukan masalah sama sekali, karena saya sangat menikmati setiap detik dari pelajaran kimia itu. Bahkan, hal ini berlanjut sampai saya SMA. Di kelas 2, saya mengikuti Olimpiade Kimia biarpun hanya tembus tingkat wilayah dan kota, itu pengalaman yang cukup berharga.

Awalnya saya sudah memutuskan kalau kimia lah bidang yang bakal saya ambil di kuliah nanti. Entah itu Teknik Kimia, atau Farmasi, atau bahkan FMIPA Kimia. Tapi ternyata ada satu hal yang saya renungkan lagi. Biarpun saya benar-benar tertarik dalam dunia kimia, ada satu hal yang kurang, saya ingin mengabdi secara langsung kepada masyarakat.

Ya, mungkin biarpun saya tidak bisa dibilang social butterfly, tapi saya adalah orang yang cukup menikmati pekerjaan sosial yang dekat dengan masyarakat. Melayani juga menolong sesama memberikan kepuasan tersendiri dibandingkan hanya menghasilkan kesuksesan atas nama diri sendiri. Pengalaman kecil saat PROSPEK (Program Sepekan Pengabdian Masyarakat) di SMP Salman Al Farisi dulu selalu mengingatkan saya betapa berharganya sebuah senyuman juga kata terima kasih dari orang-orang yang kita tolong. Dan di momen ini lah saya memutuskan bahwa saya ingin menjadi seorang dokter.

Pada awalnya, sekali pun banyak orang yang menganggap profesi dokter adalah profesi yang sangat mulia, ternyata pilihan ini juga mengundang komentar buruk dari beberapa orang. Pilihan Fakultas Kedokteran yang selalu menjadi pilihan favorit di SNMPTN menjadikan dokter seakan puncak dari kepintaran seseorang, sehingga banyak orang yang sebenarnya tidak terlalu berminat atau memiliki kemampuan di bidang lain malah mengambil Fakultas Kedokteran.

Bukan hanya sekali saya mendengar teman saya berkata, “Kenapa sih semua pengen jadi dokter?”, dan tentunya sangat sering juga saya mendengar kata dokter di sekolah dan di tempat bimbel saya.
Tapi, untuk saya pribadi, pilihan menjadi dokter bukanlah sebuah pilihan yang didasarkan gengsi atau penilaian orang lain. Pengalaman-pengalaman di masa lalu membuat saya sangat kagum terhadap dokter. Selain jawaban klise seperti “ingin menolong sesama” atau “ingin berguna bagi orang lain”, alasan saya ingin menjadi dokter juga karena saya memiliki janji pada almarhum kakek saya, yang saat ia sakit dulu ia bertanya apakah saya ingin menjadi seorang dokter, dan saya mengiyakan. Dan saat beliau meninggal, saya berada di suatu tempat yang sangat jauh. Dan saya berjanji akan memenuhinya.

Tapi selain itu juga, satu hal yang membuat saya kagum terhadap ilmu kedokteran juga adalah karena ilmu kedokteran mempelajari kemampuan untuk mempertahankan sesuatu yang paling berharga yang paling dimiliki umat manusia. Bukan harta atau pun jabatan, melainkan nyawa. Ya, saat kita kehilangan nyawa kita, kita kehilangan segala-galanya yang kita miliki di dunia itu. Dan memiliki kemampuan itu, pastinya merupakan sesuatu yang sangat membanggakan. Dan tentu saja passion sangat penting saat kita memilih sebuah profesi, dan di sinilah saya menemukan passion saya.
Dunia kedokteran belum dimulai sama sekali untuk saya, tapi saya mempunyai visi untuk masa depan. Saya ingin menjadi dokter yang mengabdi pada masyarakat, dan bukan hanya berperan untuk membantu menyembuhkan masyarakat, tetapi saya juga ingin mendidik masyarakat agar mereka dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Saya ingin memperbaiki sistem kesehatan yang kacau balau di negeri kita ini. Karena pendidikan juga kesehatan pastinya adalah fondasi kemajuan suatu bangsa.

Terlalu muluk? Mungkin. Tapi bukan berarti tidak bisa. Ini negara kita dan ini tanggung jawab kita. Dan ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Karena masa depan yang cerah membutuhkan keringat dan air mata. So ask yourself, how do you want to be remembered?

Be the change you wish to see in the world
-Mahatma Gandhi-