Friday, April 26, 2013
The Reds coming on July!
![]() |
Setelah penantian yang cukup lama. Setelah terombang-ambing dalam ketidakpastian. Akhirnya Indonesia mendapatkan kepastian bahwa Liverpool FC akan melakukan tur ke Indonesia!
Pertandingan melawan Indonesia XI ini bakal dilaksanain tanggal 20 Juli 2013 di Stadion Gelora Bung Karno.
![]() |
| Skrtel memegang bendera Indonesia |
Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung cek di
www.big-reds.org
So, can't wait for them to come and watch them!
See you on July, Liverpool!
Wednesday, April 10, 2013
March 2nd, 2003
It was one day that changed means of days for me
Waktu itu hari Minggu yang tenang, terasa seperti hari-hari biasa. Tapi hari ini saya memutuskan untuk menonton saluran yang tidak biasa. Karena sedang tidak ada kartun atau sejenisnya (waktu itu saya masih umur 10 tahun) makanya saya berhenti di channel yang sedang menyiarkan sepakbola.
Nah, waktu itu saya sama sekali gak ada minat sama sepakbola. Saya bukan anak yang sering main bola bareng temen, atau sejenisnya. Tapi entah kenapa hari itu saya coba buat nonton pertandingan yang baru aja dimulai itu.
Terlihat kedua kesebelasan memasuki lapangan, satu berbaju merah dengan tulisan Carlsberg di bagian dada, satu lagi mengenakan baju putih dengan tulisan Vodafone.
Pertandingan pun dimulai, kedua tim menyerang dan bertahan dengan cukup baik. Baik umpan-umpan jauh maupun tusukan ke tengah banyak terjadi. Namun setelah pertandingan berjalan beberapa puluh menit masih belum saja ada tim yang berhasil mencetak gol.
Akhirnya tim yang berseragam merah berhasil memecah kebuntuan pada menit ke 39. Sebuah chip shot dari luar kotak penalti yang tidak terlalu kencang tapi sangat terarah dilepaskan oleh pemain bernomor punggung 17 dan melambung ke sisi tiang jauh sehingga tidak dapat diantisipasi oleh kiper.
Pemain tersebut langsung berlari dan melepas bajunya, disambut oleh rekan-rekannya yang lain.
Di saat tim yang berseragam putih berusaha menyamakan kedudukan sepanjanga pertandingan. Ternyata harapan mereka menyamakan kedudukan lenyap sudah pada menit ke 86 saat pemain belakang mereka melakukan kesalahan saat menerima bola. Bola direbut oleh pemain berbaju merah lalu diteruskan ke pemain bernomor 10 yang kemudian berlari sangat kencang dan mencetak gol yang memastikan kemenangan.
Pemain tersebut melepaskan kepalan ke arah penonton disambut dengan komentar meriah dari komentator dan penonton yang bahagia karena kemenangan sudah hampir dipastikan.
Akhirnya, tim yang berkostum merah lah yang memenangkan pertandingan.
Selama pertandingan berjalan saya tidak tahu siapa yang bertanding, dan siapa yang mencetak gol. Hingga akhirnya komentator berkata di setelah peluit panjang berbunyi, "Liverpool won the Worthington Cup against Manchester United!!!". Barulah terpecahkan ternyata pertandingan final itu adalah pertandingan antara Liverpool melawan Manchester United memperebutkan Piala Liga Inggris (saat itu Worthington Cup) yang dilangsungkan di Millenium Stadium, Cardiff. Dan ternyata pencetak gol pertama bernama Steven Gerrard, dan pemain bernomor 10 adalah Michael Owen.
Di situ lah muncul ketertarikan saya terhadap sepakbola. Khususnya terhadap tim yang baru saja memenangkan pertandingan tersebut, Liverpool. Mulai dari situ setiap kali saya membeli FIFA atau Winning Eleven saya selalu memainkan Liverpool. Juga sering sekali saya jadi menonton pertandingan Liverpool selanjutnya.
Itulah tadi sedikit cerita bagaimana saya pertama kali mengenal Liverpool dan menjadi supporter dari tim bola yang dilihat dari jumlah trofi masih menjadi tim nomor satu di Inggris ini. Kedua pemain yang mencetak gol di pertandingan itu menjadi pemain favorit saya sepanjang masa, sekalipun Michael Owen sudah berpindah-pindah klub, bahkan ke klub rival yaitu Manchester United.
Tapi itulah arti dari sebuah kenangan. Itulah arti dari sebuah rasa cinta. Yang entah berawal dari mana, tapi terkadang datang tanpa permisi dan tak pernah mau pergi. Sekalipun performa Liverpool tidak selalu baik dan sering naik turun, tidak pernah sekalipun saya berhenti mendukungnya. Tidak pernah sekalipun saya berpikir untuk berpindah hati.
Mungkin itulah arti sesungguhnya dari cinta dan kesetiaan. Yang entah datang darimana, tapi selalu ada.
You'll Never Walk Alone
Notes.
We believe at least once before Gerrard retired, Liverpool will win the Premier League. We believe.
Waktu itu hari Minggu yang tenang, terasa seperti hari-hari biasa. Tapi hari ini saya memutuskan untuk menonton saluran yang tidak biasa. Karena sedang tidak ada kartun atau sejenisnya (waktu itu saya masih umur 10 tahun) makanya saya berhenti di channel yang sedang menyiarkan sepakbola.
Nah, waktu itu saya sama sekali gak ada minat sama sepakbola. Saya bukan anak yang sering main bola bareng temen, atau sejenisnya. Tapi entah kenapa hari itu saya coba buat nonton pertandingan yang baru aja dimulai itu.
Terlihat kedua kesebelasan memasuki lapangan, satu berbaju merah dengan tulisan Carlsberg di bagian dada, satu lagi mengenakan baju putih dengan tulisan Vodafone.
Pertandingan pun dimulai, kedua tim menyerang dan bertahan dengan cukup baik. Baik umpan-umpan jauh maupun tusukan ke tengah banyak terjadi. Namun setelah pertandingan berjalan beberapa puluh menit masih belum saja ada tim yang berhasil mencetak gol.
Akhirnya tim yang berseragam merah berhasil memecah kebuntuan pada menit ke 39. Sebuah chip shot dari luar kotak penalti yang tidak terlalu kencang tapi sangat terarah dilepaskan oleh pemain bernomor punggung 17 dan melambung ke sisi tiang jauh sehingga tidak dapat diantisipasi oleh kiper.
Pemain tersebut langsung berlari dan melepas bajunya, disambut oleh rekan-rekannya yang lain.
Di saat tim yang berseragam putih berusaha menyamakan kedudukan sepanjanga pertandingan. Ternyata harapan mereka menyamakan kedudukan lenyap sudah pada menit ke 86 saat pemain belakang mereka melakukan kesalahan saat menerima bola. Bola direbut oleh pemain berbaju merah lalu diteruskan ke pemain bernomor 10 yang kemudian berlari sangat kencang dan mencetak gol yang memastikan kemenangan.
Pemain tersebut melepaskan kepalan ke arah penonton disambut dengan komentar meriah dari komentator dan penonton yang bahagia karena kemenangan sudah hampir dipastikan.
Akhirnya, tim yang berkostum merah lah yang memenangkan pertandingan.
Selama pertandingan berjalan saya tidak tahu siapa yang bertanding, dan siapa yang mencetak gol. Hingga akhirnya komentator berkata di setelah peluit panjang berbunyi, "Liverpool won the Worthington Cup against Manchester United!!!". Barulah terpecahkan ternyata pertandingan final itu adalah pertandingan antara Liverpool melawan Manchester United memperebutkan Piala Liga Inggris (saat itu Worthington Cup) yang dilangsungkan di Millenium Stadium, Cardiff. Dan ternyata pencetak gol pertama bernama Steven Gerrard, dan pemain bernomor 10 adalah Michael Owen.
Di situ lah muncul ketertarikan saya terhadap sepakbola. Khususnya terhadap tim yang baru saja memenangkan pertandingan tersebut, Liverpool. Mulai dari situ setiap kali saya membeli FIFA atau Winning Eleven saya selalu memainkan Liverpool. Juga sering sekali saya jadi menonton pertandingan Liverpool selanjutnya.
Itulah tadi sedikit cerita bagaimana saya pertama kali mengenal Liverpool dan menjadi supporter dari tim bola yang dilihat dari jumlah trofi masih menjadi tim nomor satu di Inggris ini. Kedua pemain yang mencetak gol di pertandingan itu menjadi pemain favorit saya sepanjang masa, sekalipun Michael Owen sudah berpindah-pindah klub, bahkan ke klub rival yaitu Manchester United.
Tapi itulah arti dari sebuah kenangan. Itulah arti dari sebuah rasa cinta. Yang entah berawal dari mana, tapi terkadang datang tanpa permisi dan tak pernah mau pergi. Sekalipun performa Liverpool tidak selalu baik dan sering naik turun, tidak pernah sekalipun saya berhenti mendukungnya. Tidak pernah sekalipun saya berpikir untuk berpindah hati.
Mungkin itulah arti sesungguhnya dari cinta dan kesetiaan. Yang entah datang darimana, tapi selalu ada.
You'll Never Walk Alone
Notes.
We believe at least once before Gerrard retired, Liverpool will win the Premier League. We believe.
Friday, April 5, 2013
MDE
Lagi-lagi
saya dapet beberapa perenungan di tengah lamunan sebelum tidur saya. Kali ini
tentang ujian.
Ya,
saat ini FK Unpad sedang menghadapi UTS, yang seperti kita semua tahu, untuk
kebanyakan orang, kurang menyenangkan. Di UTS ini ada beberapa mata kuliah yang
diuji, antara lain CRP (research), BHP (etika kedokteran), PHOP (kesehatan
masyarakat), dan tentunya tak ketinggalan yang paling besar porsinya adalah
MDE, yaitu materi medis itu sendiri.
Dulu
waktu masih sekolah, SMA apalagi SMP atau SD, rasanya setiap menghadapi ujian
itu tenang. Karena konsekuensi yang akan kita dapat saat ujian adalah, antara
nilai baik atau buruk. Saat kita mendapat nilai baik ya berarti kita mendapatkan
kebanggaan dan rasa puas. Saat nilai kita buruk? Mungkin kita bakal kecewa,
ditertawai teman-teman, dimarahi orangtua, atau paling parah tidak naik kelas. Saat
kita ujian masuk perguruan tinggi? Konsekuensi terparah adalah kita tidak
lulus.
Tetapi
ada yang berbeda di sini. Saat kita disodorkan pertanyaannya. Mungkin sebagian
besar teman-teman tidak menyadari, tapi sebenernya kita disodorkan 200 nyawa
orang saat itu. Ya, semua pilihan yang kita jawab pada lembar jawaban akan
diminta pertanggung jawabannya saat kita menjadi dokter nanti. Pilihan yang
salah, bisa berarti nyawa yang hilang. Salah melingkari, bisa berarti kita
membunuh satu orang, bahkan lebih. Berlebihan? Coba kita bahas yang satu ini.
Anggaplah
kita mempunyai pertanyaan sebagai berikut:
Which
of the following antihypertension is contraindicated in pregnant woman?
a.
Hidrochlorthiazid
b. Nifedipine
c.
Hidralazin
d.
Captropil
e.
Methyldopa
Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah (D) yaitu captopril. Anggap kita memilih (E) yang
berarti menganggap (D) aman. Lalu kita berikan kepada seorang wanita hamil.
Captopril adalah obat antihipertensi yang masuk kategori pregnancy D yang
berarti HANYA boleh digunakan dalam LIFE-THREATENING
condition. Penggunaan obat ini dalam masa kehamilan dapat menyebabkan cacat
janin bahkan kematian.
Ini
hanya satu dari 200 soal MDE yang dihadapi. MDE juga tidak hanya datang sekali,
tapi berkali-kali. Setiap jawaban yang salah akan mengarahkan kita ke treatment atau kesimpulan yang salah
suatu saat nanti. Keputusan yang salah berarti kita menghancurkan seseorang
yang sudah menaruh kepercayaannya di tangan kita. Pantaskah kita sebagai calon
dokter untuk melakukan itu?
Banyak
yang
tidak sadar akan hal ini. Bahkan saya sendiri pun baru saja
menyadarinya.
Kami terlalu banyak hanya berpatokan untuk mendapat nilai sekedar lulus
saja. Kami terlalu sibuk mengurusi urusan kami sendiri dengan segala
kegiatan dan kesibukan yang menuntut seluruh pikiran juga tenaga.
Padahal seharusnya, ilmu lah yang jauh lebih penting dibandingkan nilai.
Ilmu lah yang akan membawa kita melaksanakan ibadah ini, melakukan
kebaikan ini untuk orang banyak.
Mudah-mudahan
ini dapat menjadi renungan kita semua bahwa kita belajar bukan hanya untuk diri
kita sendiri, bukan untuk harta, bukan hanya untuk keluarga atau orang-orang
terdekat kita.
We study for the sake
of humanity...
Subscribe to:
Posts (Atom)




