Showing posts with label Life's Story. Show all posts
Showing posts with label Life's Story. Show all posts

Monday, February 18, 2013

Medis!




Hari ini saya baru saja menggapai salah satu mimpi-mimpi kecil saya. Mimpi itu bernama Divisi Medis Asy-Syifaa!
                Medis adalah singkatan dari Medical Islam. Divisi Medisi ini memilliki fokus melakukan pengkajian yang bersifat medis yang berorientasi pada islam. Memasuki divisi ini adalah salah satu cita-cita saya sejak saya memasuki FK Unpad. Bahkan jauh sebelum itu, melakukan kajian terhadap hubungan agama dengan science adalah cita-cita saya sejak dulu. Banyak sekali misteri yang tidak terpecahkan dan tidak terjawabkan bagi saya, seperti mengapa babi haram, mengapa kita tidak boleh memelihara anjing, mengapa kita sebaiknya tidur miring ke kanan, mengapa kita tidak boleh makan sambil berdiri, dan masih banyak sekali misteri agama yang masih belum terpecahkan oleh akal logika kita.
 Tentunya, yang menjaga semua itu untuk kita tetap percayai kebenarannya adalah iman. Imanlah yang menjaga kepercayaan kita terhadap segala sesuatu yang Islam ajarkan pada kita. Tentunya banyak sekali orang yang tidak setuju dengan pernyataan ini. Banyak sekali scientist yang seiring dengan bertambahnya pengetahuan yang ia miliki, makin jauh ia dari Sang Pencipta. Alasannya tentu saja tidak jauh dari, “tidak logis”, atau, “tidak ada bukti”. Mungkin kita bisa mengingat beberapa orang pendahulu kita, sebut saja Semmelweis. Beliau adalah orang yang pertama menyatakan bahwa mencuci tangan itu penting selama melakukan prosedur medis untuk menjaga situasi tetap aseptik. Saat beliau mengemukakan hal tersebut, banyak sekali ilmuwan yang menertawakannya, mencemooh, bahkan menghina. Bahkan ia harus menghabiskan sebagian waktunya di rumah sakit jiwa dan meninggal dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Beberapa waktu setelah ia meninggal, Joseph Lister menemukan kembali hasil kerjanya dan memopulerkannya. Dan ternyata, terbuktilah tingkat infeksi di rumah sakit turun sangat drastis setelah para klinisi mencuci tangan, yang juga ditambah dengan sterilisasi alat-alat.
Intinya adalah, hanya karena tidak ada buktinya dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa membuktikannya atau mengalaminya, tidak menjadikan sebuah hal salah. Akan datang suatu hari di mana semua rahasia yang kita pertanyakan dan kita ragukan selama ini diungkapkan. Dan saat hari itu tiba, seperti apakah diri yang akan engkau bawa? Akankah engkau membawa keangkuhan juga kejeniusan karena ribuan penelitian dan jutaan pemecahan ilmiah yang kau lakukan? Ataukah kau akan membawa kerendahan hati bahwa ilmu yang kau miliki hanyalah setetes air di tengah samudera lautan yang Allah miliki?
Hari ini adalah sebuah titik, titik awal. Titik awal dari sebuah cerita, sebuah kontribusi, yang tidak hanya akan menjadi omong kosong belaka. Medis adalah titik awal dari jutaan pertanyaan yang tidak pernah terjawab selama ini. Dan saya benar-benar tidak bisa berhenti untuk bersyukur dan bergerak untuk melakukan sesuatu. So, once again, ask yourself, how do you want to be remembered?

Sunday, December 30, 2012

Dokter?

Halo! Hari ini saya mau cerita sedikit nih!

Gak kerasa setaun perjuangan di bangku kelas 3 SMA sudah terlewati, banyak banget rintangan dan tantangan selama setaun kemarin. Satu tahun di mana saya benar-benar belajar. Nerdy abis pokoknya.
Well,ada beberapa hal yang pengen saya ungkapkan. Terutama soal cita-cita saya.

Waktu kecil cita-cita pertama saya adalah menjadi astronot. Kenapa? Simpel aja, karena saya pikir astronot itu keren, bisa pergi jauh melebihi siapapun di dunia ini. Bisa menjelajahi tempat-tempat yang gak pernah dijamah oleh siapa pun. Lalu entah kenapa saya hilang interest terhadap astronot dan beralih ke bidang fisika. Mungkin kayak sebagian besar anak sd juga yang paling banter tau rumus fisika itu E=mc2. Yah, paling enggak waktu itu saya udah nyoba cari tau kalo itu artinya Energi sama dengan massa dikali kecepatan cahaya yang dikuadratkan, biarpun belum terbayang apa arti semua itu.

Ternyata seiring waktu berlalu, saya menemukan hati saya dalam bidang kimia. Ini adalah sebuah penemuan yang cukup berharga bagi diri saya sendiri. karena saya menemukan passion saya dalam bidang itu. Tabel periodik dan sifat-sifatnya bukan masalah sama sekali, karena saya sangat menikmati setiap detik dari pelajaran kimia itu. Bahkan, hal ini berlanjut sampai saya SMA. Di kelas 2, saya mengikuti Olimpiade Kimia biarpun hanya tembus tingkat wilayah dan kota, itu pengalaman yang cukup berharga.

Awalnya saya sudah memutuskan kalau kimia lah bidang yang bakal saya ambil di kuliah nanti. Entah itu Teknik Kimia, atau Farmasi, atau bahkan FMIPA Kimia. Tapi ternyata ada satu hal yang saya renungkan lagi. Biarpun saya benar-benar tertarik dalam dunia kimia, ada satu hal yang kurang, saya ingin mengabdi secara langsung kepada masyarakat.

Ya, mungkin biarpun saya tidak bisa dibilang social butterfly, tapi saya adalah orang yang cukup menikmati pekerjaan sosial yang dekat dengan masyarakat. Melayani juga menolong sesama memberikan kepuasan tersendiri dibandingkan hanya menghasilkan kesuksesan atas nama diri sendiri. Pengalaman kecil saat PROSPEK (Program Sepekan Pengabdian Masyarakat) di SMP Salman Al Farisi dulu selalu mengingatkan saya betapa berharganya sebuah senyuman juga kata terima kasih dari orang-orang yang kita tolong. Dan di momen ini lah saya memutuskan bahwa saya ingin menjadi seorang dokter.

Pada awalnya, sekali pun banyak orang yang menganggap profesi dokter adalah profesi yang sangat mulia, ternyata pilihan ini juga mengundang komentar buruk dari beberapa orang. Pilihan Fakultas Kedokteran yang selalu menjadi pilihan favorit di SNMPTN menjadikan dokter seakan puncak dari kepintaran seseorang, sehingga banyak orang yang sebenarnya tidak terlalu berminat atau memiliki kemampuan di bidang lain malah mengambil Fakultas Kedokteran.

Bukan hanya sekali saya mendengar teman saya berkata, “Kenapa sih semua pengen jadi dokter?”, dan tentunya sangat sering juga saya mendengar kata dokter di sekolah dan di tempat bimbel saya.
Tapi, untuk saya pribadi, pilihan menjadi dokter bukanlah sebuah pilihan yang didasarkan gengsi atau penilaian orang lain. Pengalaman-pengalaman di masa lalu membuat saya sangat kagum terhadap dokter. Selain jawaban klise seperti “ingin menolong sesama” atau “ingin berguna bagi orang lain”, alasan saya ingin menjadi dokter juga karena saya memiliki janji pada almarhum kakek saya, yang saat ia sakit dulu ia bertanya apakah saya ingin menjadi seorang dokter, dan saya mengiyakan. Dan saat beliau meninggal, saya berada di suatu tempat yang sangat jauh. Dan saya berjanji akan memenuhinya.

Tapi selain itu juga, satu hal yang membuat saya kagum terhadap ilmu kedokteran juga adalah karena ilmu kedokteran mempelajari kemampuan untuk mempertahankan sesuatu yang paling berharga yang paling dimiliki umat manusia. Bukan harta atau pun jabatan, melainkan nyawa. Ya, saat kita kehilangan nyawa kita, kita kehilangan segala-galanya yang kita miliki di dunia itu. Dan memiliki kemampuan itu, pastinya merupakan sesuatu yang sangat membanggakan. Dan tentu saja passion sangat penting saat kita memilih sebuah profesi, dan di sinilah saya menemukan passion saya.
Dunia kedokteran belum dimulai sama sekali untuk saya, tapi saya mempunyai visi untuk masa depan. Saya ingin menjadi dokter yang mengabdi pada masyarakat, dan bukan hanya berperan untuk membantu menyembuhkan masyarakat, tetapi saya juga ingin mendidik masyarakat agar mereka dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Saya ingin memperbaiki sistem kesehatan yang kacau balau di negeri kita ini. Karena pendidikan juga kesehatan pastinya adalah fondasi kemajuan suatu bangsa.

Terlalu muluk? Mungkin. Tapi bukan berarti tidak bisa. Ini negara kita dan ini tanggung jawab kita. Dan ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Karena masa depan yang cerah membutuhkan keringat dan air mata. So ask yourself, how do you want to be remembered?

Be the change you wish to see in the world
-Mahatma Gandhi-