Friday, April 26, 2013
The Reds coming on July!
![]() |
Setelah penantian yang cukup lama. Setelah terombang-ambing dalam ketidakpastian. Akhirnya Indonesia mendapatkan kepastian bahwa Liverpool FC akan melakukan tur ke Indonesia!
Pertandingan melawan Indonesia XI ini bakal dilaksanain tanggal 20 Juli 2013 di Stadion Gelora Bung Karno.
![]() |
| Skrtel memegang bendera Indonesia |
Untuk informasi lebih lanjut bisa langsung cek di
www.big-reds.org
So, can't wait for them to come and watch them!
See you on July, Liverpool!
Wednesday, April 10, 2013
March 2nd, 2003
It was one day that changed means of days for me
Waktu itu hari Minggu yang tenang, terasa seperti hari-hari biasa. Tapi hari ini saya memutuskan untuk menonton saluran yang tidak biasa. Karena sedang tidak ada kartun atau sejenisnya (waktu itu saya masih umur 10 tahun) makanya saya berhenti di channel yang sedang menyiarkan sepakbola.
Nah, waktu itu saya sama sekali gak ada minat sama sepakbola. Saya bukan anak yang sering main bola bareng temen, atau sejenisnya. Tapi entah kenapa hari itu saya coba buat nonton pertandingan yang baru aja dimulai itu.
Terlihat kedua kesebelasan memasuki lapangan, satu berbaju merah dengan tulisan Carlsberg di bagian dada, satu lagi mengenakan baju putih dengan tulisan Vodafone.
Pertandingan pun dimulai, kedua tim menyerang dan bertahan dengan cukup baik. Baik umpan-umpan jauh maupun tusukan ke tengah banyak terjadi. Namun setelah pertandingan berjalan beberapa puluh menit masih belum saja ada tim yang berhasil mencetak gol.
Akhirnya tim yang berseragam merah berhasil memecah kebuntuan pada menit ke 39. Sebuah chip shot dari luar kotak penalti yang tidak terlalu kencang tapi sangat terarah dilepaskan oleh pemain bernomor punggung 17 dan melambung ke sisi tiang jauh sehingga tidak dapat diantisipasi oleh kiper.
Pemain tersebut langsung berlari dan melepas bajunya, disambut oleh rekan-rekannya yang lain.
Di saat tim yang berseragam putih berusaha menyamakan kedudukan sepanjanga pertandingan. Ternyata harapan mereka menyamakan kedudukan lenyap sudah pada menit ke 86 saat pemain belakang mereka melakukan kesalahan saat menerima bola. Bola direbut oleh pemain berbaju merah lalu diteruskan ke pemain bernomor 10 yang kemudian berlari sangat kencang dan mencetak gol yang memastikan kemenangan.
Pemain tersebut melepaskan kepalan ke arah penonton disambut dengan komentar meriah dari komentator dan penonton yang bahagia karena kemenangan sudah hampir dipastikan.
Akhirnya, tim yang berkostum merah lah yang memenangkan pertandingan.
Selama pertandingan berjalan saya tidak tahu siapa yang bertanding, dan siapa yang mencetak gol. Hingga akhirnya komentator berkata di setelah peluit panjang berbunyi, "Liverpool won the Worthington Cup against Manchester United!!!". Barulah terpecahkan ternyata pertandingan final itu adalah pertandingan antara Liverpool melawan Manchester United memperebutkan Piala Liga Inggris (saat itu Worthington Cup) yang dilangsungkan di Millenium Stadium, Cardiff. Dan ternyata pencetak gol pertama bernama Steven Gerrard, dan pemain bernomor 10 adalah Michael Owen.
Di situ lah muncul ketertarikan saya terhadap sepakbola. Khususnya terhadap tim yang baru saja memenangkan pertandingan tersebut, Liverpool. Mulai dari situ setiap kali saya membeli FIFA atau Winning Eleven saya selalu memainkan Liverpool. Juga sering sekali saya jadi menonton pertandingan Liverpool selanjutnya.
Itulah tadi sedikit cerita bagaimana saya pertama kali mengenal Liverpool dan menjadi supporter dari tim bola yang dilihat dari jumlah trofi masih menjadi tim nomor satu di Inggris ini. Kedua pemain yang mencetak gol di pertandingan itu menjadi pemain favorit saya sepanjang masa, sekalipun Michael Owen sudah berpindah-pindah klub, bahkan ke klub rival yaitu Manchester United.
Tapi itulah arti dari sebuah kenangan. Itulah arti dari sebuah rasa cinta. Yang entah berawal dari mana, tapi terkadang datang tanpa permisi dan tak pernah mau pergi. Sekalipun performa Liverpool tidak selalu baik dan sering naik turun, tidak pernah sekalipun saya berhenti mendukungnya. Tidak pernah sekalipun saya berpikir untuk berpindah hati.
Mungkin itulah arti sesungguhnya dari cinta dan kesetiaan. Yang entah datang darimana, tapi selalu ada.
You'll Never Walk Alone
Notes.
We believe at least once before Gerrard retired, Liverpool will win the Premier League. We believe.
Waktu itu hari Minggu yang tenang, terasa seperti hari-hari biasa. Tapi hari ini saya memutuskan untuk menonton saluran yang tidak biasa. Karena sedang tidak ada kartun atau sejenisnya (waktu itu saya masih umur 10 tahun) makanya saya berhenti di channel yang sedang menyiarkan sepakbola.
Nah, waktu itu saya sama sekali gak ada minat sama sepakbola. Saya bukan anak yang sering main bola bareng temen, atau sejenisnya. Tapi entah kenapa hari itu saya coba buat nonton pertandingan yang baru aja dimulai itu.
Terlihat kedua kesebelasan memasuki lapangan, satu berbaju merah dengan tulisan Carlsberg di bagian dada, satu lagi mengenakan baju putih dengan tulisan Vodafone.
Pertandingan pun dimulai, kedua tim menyerang dan bertahan dengan cukup baik. Baik umpan-umpan jauh maupun tusukan ke tengah banyak terjadi. Namun setelah pertandingan berjalan beberapa puluh menit masih belum saja ada tim yang berhasil mencetak gol.
Akhirnya tim yang berseragam merah berhasil memecah kebuntuan pada menit ke 39. Sebuah chip shot dari luar kotak penalti yang tidak terlalu kencang tapi sangat terarah dilepaskan oleh pemain bernomor punggung 17 dan melambung ke sisi tiang jauh sehingga tidak dapat diantisipasi oleh kiper.
Pemain tersebut langsung berlari dan melepas bajunya, disambut oleh rekan-rekannya yang lain.
Di saat tim yang berseragam putih berusaha menyamakan kedudukan sepanjanga pertandingan. Ternyata harapan mereka menyamakan kedudukan lenyap sudah pada menit ke 86 saat pemain belakang mereka melakukan kesalahan saat menerima bola. Bola direbut oleh pemain berbaju merah lalu diteruskan ke pemain bernomor 10 yang kemudian berlari sangat kencang dan mencetak gol yang memastikan kemenangan.
Pemain tersebut melepaskan kepalan ke arah penonton disambut dengan komentar meriah dari komentator dan penonton yang bahagia karena kemenangan sudah hampir dipastikan.
Akhirnya, tim yang berkostum merah lah yang memenangkan pertandingan.
Selama pertandingan berjalan saya tidak tahu siapa yang bertanding, dan siapa yang mencetak gol. Hingga akhirnya komentator berkata di setelah peluit panjang berbunyi, "Liverpool won the Worthington Cup against Manchester United!!!". Barulah terpecahkan ternyata pertandingan final itu adalah pertandingan antara Liverpool melawan Manchester United memperebutkan Piala Liga Inggris (saat itu Worthington Cup) yang dilangsungkan di Millenium Stadium, Cardiff. Dan ternyata pencetak gol pertama bernama Steven Gerrard, dan pemain bernomor 10 adalah Michael Owen.
Di situ lah muncul ketertarikan saya terhadap sepakbola. Khususnya terhadap tim yang baru saja memenangkan pertandingan tersebut, Liverpool. Mulai dari situ setiap kali saya membeli FIFA atau Winning Eleven saya selalu memainkan Liverpool. Juga sering sekali saya jadi menonton pertandingan Liverpool selanjutnya.
Itulah tadi sedikit cerita bagaimana saya pertama kali mengenal Liverpool dan menjadi supporter dari tim bola yang dilihat dari jumlah trofi masih menjadi tim nomor satu di Inggris ini. Kedua pemain yang mencetak gol di pertandingan itu menjadi pemain favorit saya sepanjang masa, sekalipun Michael Owen sudah berpindah-pindah klub, bahkan ke klub rival yaitu Manchester United.
Tapi itulah arti dari sebuah kenangan. Itulah arti dari sebuah rasa cinta. Yang entah berawal dari mana, tapi terkadang datang tanpa permisi dan tak pernah mau pergi. Sekalipun performa Liverpool tidak selalu baik dan sering naik turun, tidak pernah sekalipun saya berhenti mendukungnya. Tidak pernah sekalipun saya berpikir untuk berpindah hati.
Mungkin itulah arti sesungguhnya dari cinta dan kesetiaan. Yang entah datang darimana, tapi selalu ada.
You'll Never Walk Alone
Notes.
We believe at least once before Gerrard retired, Liverpool will win the Premier League. We believe.
Friday, April 5, 2013
MDE
Lagi-lagi
saya dapet beberapa perenungan di tengah lamunan sebelum tidur saya. Kali ini
tentang ujian.
Ya,
saat ini FK Unpad sedang menghadapi UTS, yang seperti kita semua tahu, untuk
kebanyakan orang, kurang menyenangkan. Di UTS ini ada beberapa mata kuliah yang
diuji, antara lain CRP (research), BHP (etika kedokteran), PHOP (kesehatan
masyarakat), dan tentunya tak ketinggalan yang paling besar porsinya adalah
MDE, yaitu materi medis itu sendiri.
Dulu
waktu masih sekolah, SMA apalagi SMP atau SD, rasanya setiap menghadapi ujian
itu tenang. Karena konsekuensi yang akan kita dapat saat ujian adalah, antara
nilai baik atau buruk. Saat kita mendapat nilai baik ya berarti kita mendapatkan
kebanggaan dan rasa puas. Saat nilai kita buruk? Mungkin kita bakal kecewa,
ditertawai teman-teman, dimarahi orangtua, atau paling parah tidak naik kelas. Saat
kita ujian masuk perguruan tinggi? Konsekuensi terparah adalah kita tidak
lulus.
Tetapi
ada yang berbeda di sini. Saat kita disodorkan pertanyaannya. Mungkin sebagian
besar teman-teman tidak menyadari, tapi sebenernya kita disodorkan 200 nyawa
orang saat itu. Ya, semua pilihan yang kita jawab pada lembar jawaban akan
diminta pertanggung jawabannya saat kita menjadi dokter nanti. Pilihan yang
salah, bisa berarti nyawa yang hilang. Salah melingkari, bisa berarti kita
membunuh satu orang, bahkan lebih. Berlebihan? Coba kita bahas yang satu ini.
Anggaplah
kita mempunyai pertanyaan sebagai berikut:
Which
of the following antihypertension is contraindicated in pregnant woman?
a.
Hidrochlorthiazid
b. Nifedipine
c.
Hidralazin
d.
Captropil
e.
Methyldopa
Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah (D) yaitu captopril. Anggap kita memilih (E) yang
berarti menganggap (D) aman. Lalu kita berikan kepada seorang wanita hamil.
Captopril adalah obat antihipertensi yang masuk kategori pregnancy D yang
berarti HANYA boleh digunakan dalam LIFE-THREATENING
condition. Penggunaan obat ini dalam masa kehamilan dapat menyebabkan cacat
janin bahkan kematian.
Ini
hanya satu dari 200 soal MDE yang dihadapi. MDE juga tidak hanya datang sekali,
tapi berkali-kali. Setiap jawaban yang salah akan mengarahkan kita ke treatment atau kesimpulan yang salah
suatu saat nanti. Keputusan yang salah berarti kita menghancurkan seseorang
yang sudah menaruh kepercayaannya di tangan kita. Pantaskah kita sebagai calon
dokter untuk melakukan itu?
Banyak
yang
tidak sadar akan hal ini. Bahkan saya sendiri pun baru saja
menyadarinya.
Kami terlalu banyak hanya berpatokan untuk mendapat nilai sekedar lulus
saja. Kami terlalu sibuk mengurusi urusan kami sendiri dengan segala
kegiatan dan kesibukan yang menuntut seluruh pikiran juga tenaga.
Padahal seharusnya, ilmu lah yang jauh lebih penting dibandingkan nilai.
Ilmu lah yang akan membawa kita melaksanakan ibadah ini, melakukan
kebaikan ini untuk orang banyak.
Mudah-mudahan
ini dapat menjadi renungan kita semua bahwa kita belajar bukan hanya untuk diri
kita sendiri, bukan untuk harta, bukan hanya untuk keluarga atau orang-orang
terdekat kita.
We study for the sake
of humanity...
Monday, March 25, 2013
Pictures from Oppek
Little memories from Oppek.
Times when we were met as a stranger, but then fight together as a family
Monday, February 18, 2013
Medis!
Hari ini saya baru saja menggapai salah satu mimpi-mimpi
kecil saya. Mimpi itu bernama Divisi Medis Asy-Syifaa!
Medis
adalah singkatan dari Medical Islam. Divisi Medisi ini memilliki fokus
melakukan pengkajian yang bersifat medis yang berorientasi pada islam. Memasuki
divisi ini adalah salah satu cita-cita saya sejak saya memasuki FK Unpad.
Bahkan jauh sebelum itu, melakukan kajian terhadap hubungan agama dengan science adalah cita-cita saya sejak
dulu. Banyak sekali misteri yang tidak terpecahkan dan tidak terjawabkan bagi
saya, seperti mengapa babi haram, mengapa kita tidak boleh memelihara anjing,
mengapa kita sebaiknya tidur miring ke kanan, mengapa kita tidak boleh makan
sambil berdiri, dan masih banyak sekali misteri agama yang masih belum
terpecahkan oleh akal logika kita.
Tentunya, yang menjaga semua itu untuk kita
tetap percayai kebenarannya adalah iman. Imanlah
yang menjaga kepercayaan kita terhadap segala sesuatu yang Islam ajarkan pada
kita. Tentunya banyak sekali orang yang tidak setuju dengan pernyataan ini.
Banyak sekali scientist yang seiring
dengan bertambahnya pengetahuan yang ia miliki, makin jauh ia dari Sang
Pencipta. Alasannya tentu saja tidak jauh dari, “tidak logis”, atau, “tidak ada
bukti”. Mungkin kita bisa mengingat beberapa orang pendahulu kita, sebut saja
Semmelweis. Beliau adalah orang yang pertama menyatakan bahwa mencuci tangan
itu penting selama melakukan prosedur medis untuk menjaga situasi tetap
aseptik. Saat beliau mengemukakan hal tersebut, banyak sekali ilmuwan yang
menertawakannya, mencemooh, bahkan menghina. Bahkan ia harus menghabiskan
sebagian waktunya di rumah sakit jiwa dan meninggal dalam keadaan yang tidak
menyenangkan. Beberapa waktu setelah ia meninggal, Joseph Lister menemukan
kembali hasil kerjanya dan memopulerkannya. Dan ternyata, terbuktilah tingkat
infeksi di rumah sakit turun sangat drastis setelah para klinisi mencuci
tangan, yang juga ditambah dengan sterilisasi alat-alat.
Intinya adalah, hanya karena
tidak ada buktinya dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa
membuktikannya atau mengalaminya, tidak menjadikan
sebuah hal salah. Akan datang
suatu hari di mana semua rahasia yang kita pertanyakan dan kita ragukan selama
ini diungkapkan. Dan saat hari itu tiba, seperti apakah diri yang akan engkau
bawa? Akankah engkau membawa keangkuhan juga kejeniusan karena ribuan
penelitian dan jutaan pemecahan ilmiah yang kau lakukan? Ataukah kau akan
membawa kerendahan hati bahwa ilmu yang kau miliki hanyalah setetes air di
tengah samudera lautan yang Allah miliki?
Hari ini adalah sebuah titik,
titik awal. Titik awal dari sebuah cerita, sebuah kontribusi, yang tidak hanya
akan menjadi omong kosong belaka. Medis adalah titik awal dari jutaan
pertanyaan yang tidak pernah terjawab selama ini. Dan saya benar-benar tidak
bisa berhenti untuk bersyukur dan bergerak untuk melakukan sesuatu. So, once again, ask yourself, how do you
want to be remembered?
Labels:
FK Unpad,
Life's Story,
Medical Islam
Sunday, December 30, 2012
Tutorial
Mungkin ada sebuah sistem baru di FK Unpad yang saya dapatkan
sangat berbeda dengan sistem-sistem yang pernah saya jalani semua ini.
Sistem itu bernama TUTORIAL
Tutorial adalah sebuah sistem yang mengutamakan diskusi, keproaktifan, kerjasama sekaligus kemandirian, juga kevalidan.
Sistemnya begini, kami dibagi ke 24 kelompok kecil, masing-masing beranggotakan kurang lebih 12 orang. Lalu, kami diberi case-case yang nantinya akan kami bahas juga diskusikan langsung di tempat juga di luar ruangan.
Sejauh ini sudah 3 kasus yang kami dapatkan yaitu Anorexia Nervosa, Lactose Intolerance dan yang malam ini sedang saya kerjakan, Obesity. Ketiga kasus tersebut pada dasarnya sama, berlandaskan FBS (Fundamental Biomedical Science)yang sama yaitu biokimia dan nutrisi.
Hal positif yang bisa diambil dari sistem ini tentunya adalah menuntut kerjasama sekaligus kemandirian. Kita dituntut bisa bekerja sama sebagai kelompok, tapi juga memutuskan apa yang perlu kita pelajari sendiri, karena di dalam tutorial kita tidak boleh bertanya pada tutor, kita harus mencari tahu sendiri segala yang tidak kita ketahui. Sistem ini juga menuntut keaktifan dalam level yang sangat tinggi. Kemampuan untuk menilai keabsahan dari suatu informasi juga sangat dilatih di sini, yang tentunya akan sangat berguna di masa depan mengingat ganasnya media massa juga sistem informasi saat ini.
Tapi ada beberapa hal yang mungkin biarpun tidak tepat disebut kekurangan, tapi bisa dibilang cukup merepotkan. Karena tidak boleh bertanya saat tutorial, banyak tanda tanya yang muncul di kepala dan terkadang kita kesulitan mendapatkan informasi tersebut, hingga akhirnya banyak informasi yang masuk dan kita tidak tahu yang mana yang pasti benar. Akhirnya dalam belajar penuh keragu-raguan.
Tutorial ini adalah bagian yang sangat penting dari kehidupan di FK Unpad ini, dan di sinilah semuanya bermula, daya analisis juga pengetahuan, sebagai seseorang yang akan menjadi dokter di masa depan. Di sinilah kami diuji seberapa pantas kami duduk di FK Unpad ini.
Banyak sekali hal yang saya dapatkan dalam waktu yang sangat singkat ini, tapi satu hal yang pasti, pertarungan baru saja dimulai.
Sistem itu bernama TUTORIAL
Tutorial adalah sebuah sistem yang mengutamakan diskusi, keproaktifan, kerjasama sekaligus kemandirian, juga kevalidan.
Sistemnya begini, kami dibagi ke 24 kelompok kecil, masing-masing beranggotakan kurang lebih 12 orang. Lalu, kami diberi case-case yang nantinya akan kami bahas juga diskusikan langsung di tempat juga di luar ruangan.
Sejauh ini sudah 3 kasus yang kami dapatkan yaitu Anorexia Nervosa, Lactose Intolerance dan yang malam ini sedang saya kerjakan, Obesity. Ketiga kasus tersebut pada dasarnya sama, berlandaskan FBS (Fundamental Biomedical Science)yang sama yaitu biokimia dan nutrisi.
Hal positif yang bisa diambil dari sistem ini tentunya adalah menuntut kerjasama sekaligus kemandirian. Kita dituntut bisa bekerja sama sebagai kelompok, tapi juga memutuskan apa yang perlu kita pelajari sendiri, karena di dalam tutorial kita tidak boleh bertanya pada tutor, kita harus mencari tahu sendiri segala yang tidak kita ketahui. Sistem ini juga menuntut keaktifan dalam level yang sangat tinggi. Kemampuan untuk menilai keabsahan dari suatu informasi juga sangat dilatih di sini, yang tentunya akan sangat berguna di masa depan mengingat ganasnya media massa juga sistem informasi saat ini.
Tapi ada beberapa hal yang mungkin biarpun tidak tepat disebut kekurangan, tapi bisa dibilang cukup merepotkan. Karena tidak boleh bertanya saat tutorial, banyak tanda tanya yang muncul di kepala dan terkadang kita kesulitan mendapatkan informasi tersebut, hingga akhirnya banyak informasi yang masuk dan kita tidak tahu yang mana yang pasti benar. Akhirnya dalam belajar penuh keragu-raguan.
Tutorial ini adalah bagian yang sangat penting dari kehidupan di FK Unpad ini, dan di sinilah semuanya bermula, daya analisis juga pengetahuan, sebagai seseorang yang akan menjadi dokter di masa depan. Di sinilah kami diuji seberapa pantas kami duduk di FK Unpad ini.
Banyak sekali hal yang saya dapatkan dalam waktu yang sangat singkat ini, tapi satu hal yang pasti, pertarungan baru saja dimulai.
Dokter?
Halo! Hari ini saya mau cerita sedikit nih!
Gak kerasa setaun perjuangan di bangku kelas 3 SMA sudah terlewati, banyak banget rintangan dan tantangan selama setaun kemarin. Satu tahun di mana saya benar-benar belajar. Nerdy abis pokoknya.
Well,ada beberapa hal yang pengen saya ungkapkan. Terutama soal cita-cita saya.
Waktu kecil cita-cita pertama saya adalah menjadi astronot. Kenapa? Simpel aja, karena saya pikir astronot itu keren, bisa pergi jauh melebihi siapapun di dunia ini. Bisa menjelajahi tempat-tempat yang gak pernah dijamah oleh siapa pun. Lalu entah kenapa saya hilang interest terhadap astronot dan beralih ke bidang fisika. Mungkin kayak sebagian besar anak sd juga yang paling banter tau rumus fisika itu E=mc2. Yah, paling enggak waktu itu saya udah nyoba cari tau kalo itu artinya Energi sama dengan massa dikali kecepatan cahaya yang dikuadratkan, biarpun belum terbayang apa arti semua itu.
Ternyata seiring waktu berlalu, saya menemukan hati saya dalam bidang kimia. Ini adalah sebuah penemuan yang cukup berharga bagi diri saya sendiri. karena saya menemukan passion saya dalam bidang itu. Tabel periodik dan sifat-sifatnya bukan masalah sama sekali, karena saya sangat menikmati setiap detik dari pelajaran kimia itu. Bahkan, hal ini berlanjut sampai saya SMA. Di kelas 2, saya mengikuti Olimpiade Kimia biarpun hanya tembus tingkat wilayah dan kota, itu pengalaman yang cukup berharga.
Awalnya saya sudah memutuskan kalau kimia lah bidang yang bakal saya ambil di kuliah nanti. Entah itu Teknik Kimia, atau Farmasi, atau bahkan FMIPA Kimia. Tapi ternyata ada satu hal yang saya renungkan lagi. Biarpun saya benar-benar tertarik dalam dunia kimia, ada satu hal yang kurang, saya ingin mengabdi secara langsung kepada masyarakat.
Ya, mungkin biarpun saya tidak bisa dibilang social butterfly, tapi saya adalah orang yang cukup menikmati pekerjaan sosial yang dekat dengan masyarakat. Melayani juga menolong sesama memberikan kepuasan tersendiri dibandingkan hanya menghasilkan kesuksesan atas nama diri sendiri. Pengalaman kecil saat PROSPEK (Program Sepekan Pengabdian Masyarakat) di SMP Salman Al Farisi dulu selalu mengingatkan saya betapa berharganya sebuah senyuman juga kata terima kasih dari orang-orang yang kita tolong. Dan di momen ini lah saya memutuskan bahwa saya ingin menjadi seorang dokter.
Pada awalnya, sekali pun banyak orang yang menganggap profesi dokter adalah profesi yang sangat mulia, ternyata pilihan ini juga mengundang komentar buruk dari beberapa orang. Pilihan Fakultas Kedokteran yang selalu menjadi pilihan favorit di SNMPTN menjadikan dokter seakan puncak dari kepintaran seseorang, sehingga banyak orang yang sebenarnya tidak terlalu berminat atau memiliki kemampuan di bidang lain malah mengambil Fakultas Kedokteran.
Bukan hanya sekali saya mendengar teman saya berkata, “Kenapa sih semua pengen jadi dokter?”, dan tentunya sangat sering juga saya mendengar kata dokter di sekolah dan di tempat bimbel saya.
Tapi, untuk saya pribadi, pilihan menjadi dokter bukanlah sebuah pilihan yang didasarkan gengsi atau penilaian orang lain. Pengalaman-pengalaman di masa lalu membuat saya sangat kagum terhadap dokter. Selain jawaban klise seperti “ingin menolong sesama” atau “ingin berguna bagi orang lain”, alasan saya ingin menjadi dokter juga karena saya memiliki janji pada almarhum kakek saya, yang saat ia sakit dulu ia bertanya apakah saya ingin menjadi seorang dokter, dan saya mengiyakan. Dan saat beliau meninggal, saya berada di suatu tempat yang sangat jauh. Dan saya berjanji akan memenuhinya.
Tapi selain itu juga, satu hal yang membuat saya kagum terhadap ilmu kedokteran juga adalah karena ilmu kedokteran mempelajari kemampuan untuk mempertahankan sesuatu yang paling berharga yang paling dimiliki umat manusia. Bukan harta atau pun jabatan, melainkan nyawa. Ya, saat kita kehilangan nyawa kita, kita kehilangan segala-galanya yang kita miliki di dunia itu. Dan memiliki kemampuan itu, pastinya merupakan sesuatu yang sangat membanggakan. Dan tentu saja passion sangat penting saat kita memilih sebuah profesi, dan di sinilah saya menemukan passion saya.
Dunia kedokteran belum dimulai sama sekali untuk saya, tapi saya mempunyai visi untuk masa depan. Saya ingin menjadi dokter yang mengabdi pada masyarakat, dan bukan hanya berperan untuk membantu menyembuhkan masyarakat, tetapi saya juga ingin mendidik masyarakat agar mereka dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Saya ingin memperbaiki sistem kesehatan yang kacau balau di negeri kita ini. Karena pendidikan juga kesehatan pastinya adalah fondasi kemajuan suatu bangsa.
Terlalu muluk? Mungkin. Tapi bukan berarti tidak bisa. Ini negara kita dan ini tanggung jawab kita. Dan ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Karena masa depan yang cerah membutuhkan keringat dan air mata. So ask yourself, how do you want to be remembered?
Be the change you wish to see in the world
-Mahatma Gandhi-
Gak kerasa setaun perjuangan di bangku kelas 3 SMA sudah terlewati, banyak banget rintangan dan tantangan selama setaun kemarin. Satu tahun di mana saya benar-benar belajar. Nerdy abis pokoknya.
Well,ada beberapa hal yang pengen saya ungkapkan. Terutama soal cita-cita saya.
Waktu kecil cita-cita pertama saya adalah menjadi astronot. Kenapa? Simpel aja, karena saya pikir astronot itu keren, bisa pergi jauh melebihi siapapun di dunia ini. Bisa menjelajahi tempat-tempat yang gak pernah dijamah oleh siapa pun. Lalu entah kenapa saya hilang interest terhadap astronot dan beralih ke bidang fisika. Mungkin kayak sebagian besar anak sd juga yang paling banter tau rumus fisika itu E=mc2. Yah, paling enggak waktu itu saya udah nyoba cari tau kalo itu artinya Energi sama dengan massa dikali kecepatan cahaya yang dikuadratkan, biarpun belum terbayang apa arti semua itu.
Ternyata seiring waktu berlalu, saya menemukan hati saya dalam bidang kimia. Ini adalah sebuah penemuan yang cukup berharga bagi diri saya sendiri. karena saya menemukan passion saya dalam bidang itu. Tabel periodik dan sifat-sifatnya bukan masalah sama sekali, karena saya sangat menikmati setiap detik dari pelajaran kimia itu. Bahkan, hal ini berlanjut sampai saya SMA. Di kelas 2, saya mengikuti Olimpiade Kimia biarpun hanya tembus tingkat wilayah dan kota, itu pengalaman yang cukup berharga.
Awalnya saya sudah memutuskan kalau kimia lah bidang yang bakal saya ambil di kuliah nanti. Entah itu Teknik Kimia, atau Farmasi, atau bahkan FMIPA Kimia. Tapi ternyata ada satu hal yang saya renungkan lagi. Biarpun saya benar-benar tertarik dalam dunia kimia, ada satu hal yang kurang, saya ingin mengabdi secara langsung kepada masyarakat.
Ya, mungkin biarpun saya tidak bisa dibilang social butterfly, tapi saya adalah orang yang cukup menikmati pekerjaan sosial yang dekat dengan masyarakat. Melayani juga menolong sesama memberikan kepuasan tersendiri dibandingkan hanya menghasilkan kesuksesan atas nama diri sendiri. Pengalaman kecil saat PROSPEK (Program Sepekan Pengabdian Masyarakat) di SMP Salman Al Farisi dulu selalu mengingatkan saya betapa berharganya sebuah senyuman juga kata terima kasih dari orang-orang yang kita tolong. Dan di momen ini lah saya memutuskan bahwa saya ingin menjadi seorang dokter.
Pada awalnya, sekali pun banyak orang yang menganggap profesi dokter adalah profesi yang sangat mulia, ternyata pilihan ini juga mengundang komentar buruk dari beberapa orang. Pilihan Fakultas Kedokteran yang selalu menjadi pilihan favorit di SNMPTN menjadikan dokter seakan puncak dari kepintaran seseorang, sehingga banyak orang yang sebenarnya tidak terlalu berminat atau memiliki kemampuan di bidang lain malah mengambil Fakultas Kedokteran.
Bukan hanya sekali saya mendengar teman saya berkata, “Kenapa sih semua pengen jadi dokter?”, dan tentunya sangat sering juga saya mendengar kata dokter di sekolah dan di tempat bimbel saya.
Tapi, untuk saya pribadi, pilihan menjadi dokter bukanlah sebuah pilihan yang didasarkan gengsi atau penilaian orang lain. Pengalaman-pengalaman di masa lalu membuat saya sangat kagum terhadap dokter. Selain jawaban klise seperti “ingin menolong sesama” atau “ingin berguna bagi orang lain”, alasan saya ingin menjadi dokter juga karena saya memiliki janji pada almarhum kakek saya, yang saat ia sakit dulu ia bertanya apakah saya ingin menjadi seorang dokter, dan saya mengiyakan. Dan saat beliau meninggal, saya berada di suatu tempat yang sangat jauh. Dan saya berjanji akan memenuhinya.
Tapi selain itu juga, satu hal yang membuat saya kagum terhadap ilmu kedokteran juga adalah karena ilmu kedokteran mempelajari kemampuan untuk mempertahankan sesuatu yang paling berharga yang paling dimiliki umat manusia. Bukan harta atau pun jabatan, melainkan nyawa. Ya, saat kita kehilangan nyawa kita, kita kehilangan segala-galanya yang kita miliki di dunia itu. Dan memiliki kemampuan itu, pastinya merupakan sesuatu yang sangat membanggakan. Dan tentu saja passion sangat penting saat kita memilih sebuah profesi, dan di sinilah saya menemukan passion saya.
Dunia kedokteran belum dimulai sama sekali untuk saya, tapi saya mempunyai visi untuk masa depan. Saya ingin menjadi dokter yang mengabdi pada masyarakat, dan bukan hanya berperan untuk membantu menyembuhkan masyarakat, tetapi saya juga ingin mendidik masyarakat agar mereka dapat meningkatkan kualitas hidup mereka. Saya ingin memperbaiki sistem kesehatan yang kacau balau di negeri kita ini. Karena pendidikan juga kesehatan pastinya adalah fondasi kemajuan suatu bangsa.
Terlalu muluk? Mungkin. Tapi bukan berarti tidak bisa. Ini negara kita dan ini tanggung jawab kita. Dan ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Karena masa depan yang cerah membutuhkan keringat dan air mata. So ask yourself, how do you want to be remembered?
Be the change you wish to see in the world
-Mahatma Gandhi-
Saturday, October 29, 2011
Aku Ingin Seorang Teman - Eka Budianta
Aku ingin seorang teman
yang senyumnya bertahan
dalam gemuruh kota dan sunyi desa
Aku ingin seorang teman
yang tidak putus-asa di musim kemarau
dan tidak sombong di musim hujan
Aku ingin seorang teman
yang nafasnya tetap teratur
dalam keributan dan keheningan
Aku ingin seorang teman
yang bisa memisahkan urusan pribadi
dan kepentingan banyak orang.
Kalau boleh aku ingin memilih teman
yang tetap berpikir jernih
di dalam keruhnya zaman
yang sanggup mendengar
pujian maupun ejekan
yang tetap punya harapan
pada saat orang lain ketakutan
yang tetap bersih dan sehat
pada saat semua jadi jorok dan sakit-sakitan
Tetapi aku tahu semua teman bisa pergi
untuk sementara atau selamanya
Seorang teman bisa berkelit,
bisa jadi pikun atau pura-pura lupa
Sementara aku sendiri juga bisa mati
sebelum rumah persahabatan
selesai kubangun untuknya.
Karena itu aku ingin seorang teman
yang bersedia tinggal di hati-kecilku
dan memberiku ruang di dalam hatinya.
yang senyumnya bertahan
dalam gemuruh kota dan sunyi desa
Aku ingin seorang teman
yang tidak putus-asa di musim kemarau
dan tidak sombong di musim hujan
Aku ingin seorang teman
yang nafasnya tetap teratur
dalam keributan dan keheningan
Aku ingin seorang teman
yang bisa memisahkan urusan pribadi
dan kepentingan banyak orang.
Kalau boleh aku ingin memilih teman
yang tetap berpikir jernih
di dalam keruhnya zaman
yang sanggup mendengar
pujian maupun ejekan
yang tetap punya harapan
pada saat orang lain ketakutan
yang tetap bersih dan sehat
pada saat semua jadi jorok dan sakit-sakitan
Tetapi aku tahu semua teman bisa pergi
untuk sementara atau selamanya
Seorang teman bisa berkelit,
bisa jadi pikun atau pura-pura lupa
Sementara aku sendiri juga bisa mati
sebelum rumah persahabatan
selesai kubangun untuknya.
Karena itu aku ingin seorang teman
yang bersedia tinggal di hati-kecilku
dan memberiku ruang di dalam hatinya.
Subscribe to:
Posts (Atom)






