Tuesday, June 25, 2013

Puncak Manglayang



Langit terlihat sangat cerah, hari pemilihan walikota Bandung. Saya tidak ikut memilih, bukan karena apatis atau malas, tapi karena digolputkan oleh administrasi. Pagi itu saya sibuk di rumah saat orang lain masih tidur, menyiapkan barang-barang yang akan dibawa hari ini. Hari ini saya dan teman-teman akan mendaki Gunung Manglayang. Sleeping bag, carrier bag, tenda, webbing, semuanya sudah ketemu. Sayangnya saya belum juga bisa menemukan syal angkatan kesayangan yang biasanya selalu saya bawa setiap kali naik gunung.


                Akhirnya saya pergi ke Jatinangor dari Bandung. Waktu itu sekitar pukul 8 pagi. Semua orang masih bersiap-siap. Rencananya kami akan berangkat jam 1 siang. Sampai di Bale, teman-teman ada yang sudah siap, ada juga yang masih tidur. Kami mencoba dulu berlatih mendirikan tenda karena tenda yang ini baru dan cukup besar, sepertinya cukup untuk menampung 9-10 orang. Kami memastikan lagi siapa saja yang akan ikut hari ini, karena tentunya itu sangat penting untuk mempertimbangkan berapa banyak tenda dan sleeping bag yang perlu kita sewa. Kami pun menyewa 2 buah angkot untuk mengantarkan kami ke Kaki Gunung manglayang. Hari ini yang akan pergi adalah kami ber-14, mahasiswa FK Unpad 2012. Saya, Irfan, Arvin, Irham, Mushlih, Adi, Fadhil, Idon, Surya, Pavan, Syes, Naga, JJ, dan Indirran. Nama 5 orang terakhir adalah mahasiswa KPBI yang berasal dari Malaysia. Setelah mengecek lagi semua peralatan, siaplah kami untuk pergi! Mari kita mulai dengan membaca basmallah


Para petualang Nostra


 Bismillahirrahmanirrahim...


                Peralatan yang kami bawa lengkap, tapi tentunya tidak terlalu banyak juga berhubung kami hanya akan pergi selama semalam. Peralatan yang perlu dibawa jika ingin menginap di Manglayang adalah sebagai berikut:

WAJIB
  • ·         Tas (diutamakan tas carrier karena akan lebih nyaman)
  • ·         Pakaian ganti 1 set
  • ·         Jaket tebal
  • ·         Ponco atau jas hujan
  • ·         Celana panjang (yang nyaman saja, disarankan tidak memakai jeans)
  • ·         Sarung tangan (medannya menuntut menggunakan kedua tangan)
  • ·         Kaus kaki
  • ·         Sepatu + sandal
  • ·         Sleeping bag
  • ·         Makanan berat untuk 2 kali makan
  • ·         Makanan ringan secukupnya (usahakan yang banyak energi seperti cokelat,gula merah, dsb)
  • ·         Tenda
  • ·         Uang secukupnya (sewa pickup kurang lebih 150ribu sampai ke Jalan Raya Bandung-Sumedang)
  • ·         Senter + baterai cadangan
  • ·         Obat-obatan pribadi
  • ·         Tenda
  • ·         Tisu
  • ·         Garam (ditaburkan di sekitar tenda untuk menjauhkan binatang melata)
  • ·         Kamera (tentunya tidak mau kehilangan momen kan?)
  • ·         Golok (berguna untuk menebas ranting, atau melindungi dari babi hutan)
Optional
  • ·         Topi atau kupluk
  • ·         Korek api
  • ·         Kayu bakar
  • ·         Handuk
  • ·         Kartu
Akhirnya perjalanan dimulai jam 2 siang! Kami ber-14 pergi menggunakan angkot terlebih dahulu untuk mencapai Kaki Gunung Manglayang. Puncak Manglayang ini dapat dicapai melalui 2 rute, yaitu Batu Kuda atau Baru Bereum. Saya sudah melalui rute Batu Kuda dan yang saya ingat medannya tidak terlalu curam tetapi panjang. Kali ini kami akan melalui rute Baru Bereum. Berhentilah angkot tepat di jalan yang sudah mulai berbatu-batu saja dan menanjak. Setelah turun kami membawa seluruh barang bawaan kami dan mulai berjalan.


Pukul 2 lebih itu untungnya matahari tidak terlalu terik dan udara terasa sejuk, tidak menyulitkan kami lebih jauh untuk berjalan naik. Jalanan yang berbatu terkadang menyulitkan beberapa teman yang memakai sepatu olahraga yang sol-nya tidak terlalu bergerigi. Kami beristirahat beberapa kali. Kami juga sempat mampir ke sebuah warung dan meminjam teko untuk membuat kopi serta golok untuk menebas ranting dan lain-lain. Kurang lebih 30 menit kemudian kami berhasil sampai ke Kaki Gunung.
Kaki Gunung rute Baru Bereum


Di situ kami melepas lelah sebentar, ternyata kami baru sampai kakinya saja, perjalanan bahkan belum dimulai. Karena ada warung, kami minum sebentar dan juga salat asar. Kami melanjutkan perjalanan lagi pada pukul 4. Ekspektasi kami adalah dengan 2 jam kami sudah sampai puncak, jadi seharusnya sebelum gelap kami sudah sampai dan bisa segera mendirikan tenda.


Akhirnya perjalanan pun dimulai. Jujur saya sangat excited karena mendaki ini adalah hobi saya dan ini adalah impian saya untuk bisa naik gunung bersama-sama teman-teman dari FK Unpad. Akhirnya di akhir tahun pelajaran ini, bisa juga direalisasikan. Mudah-mudahan ini hanyalah perjalanan pertama yang akan diikuti dengan perjalanan-perjalanan yang tidak kalah seru selanjutnya!


Langkah pertama pendakian
Langkah awal kami bertemu dengan sungai kecil yang airnya sangat jernih, kami melewati sungai itu cukup dengan 1 langkah lebar saja. Medan selanjutnya masih belum terlalu sulit, hanya jalan setapak yang di sekitarnya masih rerumputan saja bukan jurang. Seiring kami berjalan, jalan setapak

itu semakin curam, untungnya karena semalam tidak hujan maka jalanan yang kami lewati hanya sedikit licin saja. Nah, setelah berjalan kurang lebih 30 menit, mulailah medannya cukup sulit. Kami mulai dihadang dengan jalan tanah dengan tingkat kemiringan 45-50 derajat. Untungnya di setiap jalan tersebut sudah ada pijakan-pijakan yang dibuat oleh para pendahulu. Kemudian kami melanjutkan lagi, masuklah kami ke sebuah daerah yang penuh dengan bambu di sekitarnya sehingga beberapa kali tas saya menyangkut dan kami harus sedikit menunduk. Setelah melewati beberapa medan yang cukup curam, 45 menit sudah berlalu, kami berhenti di daerah yang sedikit luas, kami berhenti sejenak di sana.


Fadhil yakin saat mencapai puncak akan kurus
Tidak semua dari kami sering mendaki gunung, beberapa sangat jarang. Salah satu teman kami, Fadhil, mengalami kesulitan selama perjalanan ini. Mungkin karena memang badannya cukup besar dan tidak terlalu sering berolahraga, ditambah medan yang memang cukup berat pasti sangat menguras tenaga sekali. Tapi di balik itu saya melihat semangat juang yang sangat besar yang ditunjukkan olehnya, sekalipun dia berkali-kali minta berhenti juga mengeluh karena capek, tidak pernah dia menyerah. Teman-teman menempatkan diri di belakangnya dan menyemangatinya tanpa lelah. Bahkan salah satu teman kami, Idon, tidak berhenti berteriak-teriak sepanjang perjalanan. Memang sih dia itu orangnya kerjaannya ngomong terus. Saya melihat banyak sekali rasa perjuangan dan rasa persahabatan yang ditunjukkan, hanya dengan berjalan melalui jalan setapak ini. 


Setelah istirahat beberapa menit, waktu sudah menunjukkan pukul 4.50. Kami punya waktu satu jam lebih sedikit untuk mencapai puncak sebelum gelap menutupi langkah kami. Mulailah kami berjalan kembali. Medan yang kami hadapi sekarang sudah jauh lebih sulit dari yang pertama. Sangat curam. Hampir semua medan yang kami lalui kemiringannya lebih dari 60 derajat, hanya ada beberapa jalan pendek yang cukup datar. Sekarang juga tidak hanya tanah, tetapi batuan juga mulai muncul sehingga kami harus mendaki dan memanjat, dengan membawa seluruh barang-barang. Kami juga harus berhati-hati saat menarik tumbuhan untuk membantu naik, karena banyak juga tumbuhan yang berduri di sini. Sebenarnya medan seperti ini adalah medan favorit saya karena membutuhkan kekuatan tangan serta fleksibilitas yang tinggi untuk melaluinya sehingga sangat menantang!


Medan yang cukup menantang
Semakin jauh kami berjalan, udara semakin segar menerpa kami. Kabut mulai muncul dan gemuruh awan terdengar dari kejauhan. Kami harus berjalan lebih cepat. Kami mempercepat langkah kami hingga akhirnya kami melewati daerah curam tadi. Kami mulai bertemu lagi dengan jalan setapak yang kemiringannya 30-40 derajat. Langkah kami terasa lebih ringan dari tadi. Maju, dan maju terus. Hingga akhirnya puncak gunung tidak terlihat lagi jika kami menengok ke depan, yang artinya, kami sudah dekat! Tetapi jika mungkin ada yang pernah mendengar sebuah quote bahwa orang yang berniat menjelajahi 100 desa, akan berhenti di desa ke-90. Begitulah hukumnya berlaku. Seiring kami mendengar kata-kata, “Puncak sudah dekat!”, saat itu pula langkah kami terasa semakin berat. Lutut serasa bergetar, pijakan sudah tidak lagi benar. Keringat bercucuran dan tubuh terasa lemas untuk dibawa naik dan naik lagi. Jalan licin, beberapa pohon menghadang kami kembali. Undakan-undakan tanah yang tadi saya lewati hanya dengan satu langkah, sekarang saya harus menaruh lutut terlebih dahulu barulah bisa naik. Sekali lagi saya menaruh lutut dan mendorong tubuh lagi. Dan saat saya baru akan memijakkan kaki sekali lagi ke undakan selanjutnya, saya baru sadar tidak ada undakan selanjutnya. Pandangan yang dari tadi mengarah ke bawah, supaya tidak melihat seberapa jauh lagi ke depan, sekarang menengok tepat lurus ke depan. 


Tidak ada pohon, tidak ada gunung, yang ada hanyalah sebidang tanah kosong yang cukup luas yang dikelilingi oleh jurang. Hamparan pemandangan membentang di depan kami, sayangnya kabut yang tebal menutupinya sehingga keindahannya masih belum terasa. Tepat sebelum hari  gelap, kami berhasil mencapai puncak! Kaki terasa sangat lemas, napas pun terengah-engah, semua orang terduduk dengan tasnya di bawah, mencoba mengumpulkan lagi tenaga yang sudah habis karena dikeluarkan semuanya di akhir. Tetapi kami tidak bisa terlalu lama beristirahat, kabut sudah datang dan gelap juga semakin menutup matahari. Waktunya mendirikan tenda. Segera kami keluarkan kedua tenda yang kami bawa dan kami mendirikan tenda di dua tempat yang terpisah agak jauh, karena sebenarnya tempat ini sangat kecil dan dikelilingi oleh jurang. Ada tempat lain di mana kami bisa mendirikan tenda juga, tetapi pemandangannya tentu tidak seindah tempat ini. Waktu menunjukkan pukul 5.59, tepat sekali sesuai jadwal. 


Akhirnya dalam waktu kurang lebih 30 menit kami berhasil mendirikan kedua tenda, tenda yang cukup besar dan sangat nyaman. Kami masukkan semua tas ke dalam tenda. Setelah beristirahat sejenak, ternyata sudah memasuki waktu Isya. Kami salat berjamaah lalu dilanjutkan dengan makan nasi bungkus yang kami bawa. Sebagian besar dari kami membawa nasi dari Katineung, saya sendiri membawa Nasi Padang yang berisi rendang, terong, perkedel kentang, serta telur dadar. Ini adalah makanan kami sehari-hari, tapi entah kenapa hari ini terasa lebih nikmat, jauh lebih nikmat. Makan bersama yang disertai tawa juga cerita, entah mengapa malam ini begitu berharga. 


Tidak terlalu banyak yang kami lakukan malam itu, kami berusaha menyalakan api unggun. Tapi rupanya, letaknya yang tidak ditutupi pohon sama sekali, serta ranting yang masih basah karena hujan beberapa hari yang lalu, menyulitkan kami untuk menyalakan api unggun tersebut. Akhirnya kami kembali ke tenda masing-masing dan mengobrol sambil melahap makanan ringan. Malam itu entah mengapa terasa sangat hangat. Belum pernah rasanya saya merasa sehangat itu saat naik gunung. Apa mungkin karena banyak orang di tenda ini? Tapi ternyata saat saya membuka pintu tenda, udara dingin menusuk tulang. Ternyata kemampuan menahan dingin tenda ini sangat baik, tidak sia-sia saya membelinya! Udara yang sangat dingin di luar ternyata tidak terasa sedikitpun di dalam. Saya juga menengok ke bawah, kabut tebal masih menutupi pemandangan. 


Suara sudah makin sedikit terdengar, satu per satu teman-teman pun tertidur. Karena tadi meminum kopi saya jadi kesulitan tidur. Akhirnya sekitar pukul 00.30 barulah saya bisa tertidur. Ternyata, seperti biasanya yang terjadi di tengah alam, udara menjadi lebih dingin pada pukul 2-3 pagi. Udara dingin mulai terasa. Saya yang tadinya hanya memakai kaus dan celana pendek dan tidak menggunakan sleeping bag saya, akhirnya mulai masuk ke dalam sleeping bag. Dingin mulai terasa, untungnya masih bisa teratasi. Kami pun melanjutkan tidur.

Terdengar suara azan dari kejauhan, ternyata azan pun masih terdengar sangat jelas di tempat ini. Beberapa orang terbangun. Kami berjalan keluar dan kabut yang sejak kemarin menutupi pemandangan di depan kami akhirnya tersingkap. Hamparan lampu-lampu dari bagian timur Bandung memenuhi pemandangan di depan kami. Terlihat dari sini stadion baru kebanggaan warga kota Bandung, Gelora Bandung Lautan Api. Pemandangan ini terlihat sangat indah dari tempat ini. Kurang lebih 300 derajat pemandangan kami merupakan hamparan kota serta pegunungan. Sisanya di belakang kami masih ada beberapa pohon yang menutupi. Bulan yang penuh masih terlihat di atas. Angin kencang menggoyangkan tenda kami beberapa kali. 


Dalam hati saya menyadari, betapa rasa dingin ini menyatu dengan tubuh saya. Rasa dingin ini adalah kenangan masa kecil saat seringkali orangtua saya membawa kemping, juga saya bersama sekolah pergi kemping dan naik gunung bersama-sama. Angin dingin serta udara sejuk inilah yang membuat saya selalu merindukan tempat ini, selalu merindukan alam. Perasaan ini yang menjadikan saya satu dengan mereka. Bernapas dengan mereka, dan bergerak seiring dengan gerakan mereka. Betapa indahnya dan betapa rindunya saya dengan perasaan ini.


Semua orang keluar dengan celana panjang dan jaket tebalnya. Saya masih dengan celana pendek dan kaus, dengan kamera tentunya. Berusaha mengabadikan pemandangan yang luar biasa di hadapan ini. Tapi ternyata setelah beberapa lama cukup dingin juga, jadi saya mengganti pakaian dengan celana panjang serta jaket FK Unpad Unite.

Me with Bendera Nostra



Matahari mulai muncul, menyingkap lebih jauh pemandangan tadi. Awan-awan bergerak membentuk barisan dihiasi warna jingga dan merah muda yang terbiaskan dari fajar yang menyingsing. Sangat indah. Kami mulai mengambil beberapa foto, lalu beberapa lagi, dan beberapa lagi, dan ternyata sangat banyak foto yang kami ambil. Kami mengeluarkan bendera angkatan kami, FK Unpad 2012 Nostra. Kami buka dan kibarkan di puncak ini. Kami akan mengibarkannya di setiap perjalanan kami. Itu adalah janji bahwa kami akan selalu membawanya ke tempat tertinggi. Itu pun adalah janji bahwa sejauh apapun kita pergi, kita tak boleh lupa tempat kita kembali dan berjuang. 
Fajar dari perkemahan kami

Para petualang dengan bendera Nostra


Matahari sudah naik, dingin tergantikan oleh panas. Gelap tergantikan oleh cahaya terang. Kami semua mulai membuka jaket. Setelah kami mulai bersantai kembali, ternyata ada satu hal. Tempat ini bukanlah puncak tertinggi.


Ya, ternyata ini bukanlah puncak sesungguhnya dari Gunung Manglayang, masih ada puncak satu lagi, puncak sejati. Maka kami tentunya tidak mau setengah-setengah, saat kami mendaki sebuah gunung, puncak adalah tempat yang harus dicapai. Kami segera membereskan tenda serta barang-barang, berkemas menuju Puncak “Sejati” Manglayang. 


Waktu menunjukkan pukul  7.30. Kami menargetkan agar sebelum tengah hari kami sudah berada di kaki gunung kembali. Perjalanan hari ini dimulai dengan berjalan turun. Cukup jauh turunan yang kami lewati, lalu kami kembali naik. Puncak Manglayang ini terlihat dari tempat kami berkemah kemarin. Agak terpisah sedikit saja. Medan yang kami lalui hari ini tidak terlalu sulit, hanya beberapa tempat kami harus sedikit memanjat seperti kemarin. Tapi selain itu, banyak jalan yang cukup landai. Hari itu kami menghirup udara yang jauh lebih segar. Mungkin karena saat itu pagi hari, sementara kemarin kami mendaki pada siang hari. Kalau seperti kata Dekan kami, oksigennya terasa manis. Tidak memakan waktu terlalu lama, 1 jam kemudian kami berhasil mencapai puncak sesungguhnya. Ada papan bertuliskan “Puncak Manglayang”, serta tanah kosong yang cukup luas. Bedanya, tempat ini dikelilingi oleh pepohonan sehingga pemandangannya tidak seindah tempat kemarin. Tanahnya dipenuh dedaunan dan ada bekas api unggun. Sayangnya kami menemukan banyak sampah di tempat ini, sampah yang ditinggalkan oleh para pendaki yang tidak bertanggung jawab. Selain itu ada papan yang menunjukkan arah ke Batu Kuda. 


Seperti biasa, kami menikmati sebentar tempat ini, berfoto-foto, dilanjutkan dengan makan makanan yang masih ada. Di papan yang menunjukkan Puncak Manglayang, tertulis bahwa tempat ini berada 1818 mdpl. Kaki gunung berada pada 1195 mdpl. Berarti kami menempuh perjalanan melewati ketinggian 623 meter. 

Puncak "Sejati" Manglayang

Bendera Nostra @ Puncak Manglayang


Setelah puas bermain-main di puncak, sudah waktunya pulang. Waktu sudah pukul setengah sembilan dan sebelum zuhur kami harus sudah di kaki gunung. Kembalilah kami turun, sambil menyempatkan ziarah ke sebuah makam yang entah makam siapa tetapi sepertinya leluhur di daerah situ. Perjalanan turun pastinya terbayang oleh siapapun lebih cepat. Benar. Tapi ternyata tidak lebih mudah. Kalau naik membutuhkan tenaga yang sangat besar, turun membutuhkan konsentrasi yang sangat besar. Kalau naik banyak menggunakan tenaga kaki, turun jauh lebih menggunakan tenaga tangan. Banyak tempat terutama yang curam kami lalui dengan sliding. Sangat seru, sampai saking serunya saya menabrak teman yang di depan. Saat mencapai tempat berkemah kemarin, kami mengambil trash bag serta teko yang kami tinggalkan sementara di sana. Lalu kami melanjutkan perjalanan turun. Total perjalanan untuk sampai ke Puncak Manglayang menghabiskan waktu 3 jam. Saya memperkirakan untuk turun kita akan membutuhkan waktu 2 jam 15 menit. Turun jauh lebih cepat dari naik, kami tidak terlalu banyak beristirahat. Dan tidak terasa sampailah sudah di kaki gunung, 2 jam seperempat sesuai perkiraan. Sebagian teman kami masih ada yang di belakang. Saat naik kami menunggu supaya tidak terpisah, tapi saat turun tidak menjadi terlalu masalah karena semua sudah tahu jalannya, dan kami harus menghubungi kendaraan yang akan kami tumpangi terlebih dahulu.


Di kaki gunung kami singgah sebentar di warung. Sebagian yang lain membersihkan diri di sungai kecil yang sangat jernih. Kami melahap gorengan serta minuman yang ada di warung. Saya sempat mengobrol dengan ibu warung yang biasa dipanggil Emak. Emak bercerita bahwa tempat ini tidak pernah sepi, setiap hari pasti selalu ada yang naik, terutama dari Unpad. Di akhir minggu tempat ini lebih ramai lagi dengan orang-orang paling tidak dari Bandung, dan tempat lain. Saya juga bertanya apakah Emak punya nomor telepon angkot untuk dihubungi. Dan ternyata Emak punya nomor pickup yang bisa disewa dengan harga 150 ribu, yang berarti harganya sama dengan dua angkot kemarin. Langsung saja kami ambil pickup tersebut. Beberapa lama kemudian datanglah pickup tersebut dan berangkatlah kami ke kembali ke Bale. Sampai Bale kami membayar biaya sewa pickup tersebut dan menurunkan barang-barang. 


Perjalanan ini adalah sebuah cerita. Badan kami terasa sangat pegal, tapi hati kami terasa sangat segar. Terisi oleh kebahagiaan dan kepuasan. Pendakian gunung bukanlah kegiatan berjalan biasa, itu adalah sebuah petualangan. Alam adalah tempat di mana kita dapat menghapuskan kompleksitas hidup sejenak dan kembali kepada sejatinya kita sebagai manusia, yang bergantung kepada alam. Tempat di mana akan terlihat sifat asli dari seseorang. Tempat di mana manusia akan saling bertarung dan saling berbagi. Perjalanan ini adalah perjalanan kecil, untuk sebuah awal yang besar. Sebuah kekuatan, sebuah perjuangan, yang pastinya akan terkenang di hati orang-orang yang menjalaninya. Sebuah pengalaman yang manis, yang tak akan terlupakan. Sebuah waktu, yang akan menyatukan hati kita. 


Ingatlah teman, Manglayang hanyalah batu pijakan kecil. Petualangan besar menantikan orang-orang besar untuk menjadikannya ada. Mereka menantikan kita. 


Manglayang, 23-24 Juni 2013
Aditya Nugraha Nurtantijo
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran
                                                                                                                       

3 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Mantap masbroo.. Manglayang sebuah pemanasan untuk petualangan selanjutnya :D

    ReplyDelete