Monday, December 7, 2015

HIV/AIDS Tanpa Pertambahan Infeksi dan Tanpa Diskriminasi, Bukanlah Sebuah Mimpi

HIV/AIDS Tanpa Pertambahan Infeksi dan Tanpa Diskriminasi,
Bukanlah Sebuah Mimpi

            “HIV? Buat apa? Kita kan keluarga baik-baik!”
            Begitulah sebuah penggalan iklan layanan masyarakat yang belum lama ini dirilis. HIV/AIDS merupakan singkatan dari dua hal yang berkaitan. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus golongan lentivirus yang dapat menyebabkan penyakit kepada manusia. Orang yang terkena infeksi HIV belum tentu menimbulkan gejala. Seringkali dalam hitungan tahun barulah muncul gejala dari infeksi HIV tersebut. Pada tahap lanjut, infeksi ini dapat berkembang dan menimbulkan kondisi yang disebut Acquired Immundeficiency Virus (AIDS). AIDS membuka gerbang besar bagi infeksi oportunistik oleh bakteri, virus, parasit, bahkan jamur.
            Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia hingga September 2014, mayoritas kasus AIDS terjadi pada golongan usia 20-29 tahun dengan angka 18.352 orang. Sedangkan untuk pembagian menurut jenis kelamin, lebih dari setengah penderitanya adalah laki-laki. Berdasarkan pembagian wilayah, DKI Jakarta menduduki peringkat teratas angka kumulatif HIV/AIDS dengan 40.259 orang. Jawa Timur menyusul setelahnya dengan 28.225 orang, Papua 26.235 orang, dan Jawa Barat 17.698 orang.


Permasalahan dalam HIV/AIDS

            Permasalahan yang paling pertama muncul tentunya adalah masalah kesehatan. Kondisi dengan tingkat imun yang rendah menyebabkan seseorang rentan terkena penyakit. Infeksi-infeksi, bahkan yang umumnya tidak berbahaya, dapat menyerang orang dengan AIDS dan menyebabkan respon yang fatal. Hal ini tentunya terjadi karena tubuh tidak memiliki pertahanan terhadap infeksi yang masuk.
            Dari segi ekonomi, seseorang yang terkena AIDS tingkat lanjut dapat kehilangan produktivitas. Kehilangan produktivitas dapat menyebabkan gangguan finansial bagi keluarga atau orang yang ditanggung. Gangguan finansial ini dapat berujung kepada kriminalitas yang dapat menyebabkan masalah sosial, yang akan kita bahas lebih lanjut.
            Dari segi sosial, mungkin di sinilah letak sebagian besar masalah. Masalah pertama adalah penyebab penyakit itu sendiri. Perilaku berganti pasangan seksual adalah salah satunya.Tentunya  kebiasaan tersebut dapat menyebabkan keretakan dalam keluarga. Hasilnya, anak menjadi korban dari ketidakharmonisan keluarga. Dalam jangka panjang, anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bermasalah dapat tumbuh menjadi orang yang memiliki gangguan emosional.
            Salah satu penularan HIV juga melalui penggunaan jarum yang bergantian. Perilaku ini didorong oleh berbagai faktor, antara lain pergaulan, krisis kepercayaan diri, tingkat stress yang tinggi, krisis kepribadian dan lain-lain. Faktor risiko tersebut adalah faktor risiko yang melekat dalam sosok pemuda, menjadikannya begitu rentan tertular HIV. Penderita HIV/AIDS juga hingga saat ini masih mendapat pengucilan dari masyarakat. Banyak masyarakat yang takut untuk berada dekat dengan penderita HIV/AIDS. Berbicara saja rasanya segan, apalagi jika ada kontak fisik. Penderita HIV/AIDS seringkali mendapat pengucilan berupa pemecatan, larangan mengikuti kegiatan umum, dan sebagainya. Padahal, banyak sekali penderita HIV yang dapat memiliki kehidupan normal layaknya orang sehat dan berkeluarga.          


Idealisme dan potensi pemuda

            Sebagai seorang mahasiswa kedokteran, saya merasakan betapa besar potensi yang dimiliki seorang mahasiswa. Seorang mahasiswa pada umumnya memiliki pandangan yang sangat ideal terhadap tatanan kemasyarakatan. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, seringkali idealismenya terkikis oleh realita dunia kerja. Karena itu, alangkah baiknya langkah yang dilakukan organisasi pemuda maupun pemerintah adalah bagaimana cara agar idealisme yang dimiliki pemuda dapat tertanam untuk waktu yang lama.
            Dalam pandangan saya, pemuda adalah mereka yang berani memiliki mimpi dan punya semangat untuk meraihnya. Di negara maju, banyak orang yang berusia lanjut tetapi masih memiliki jiwa pemuda. Mereka masih berani bermimpi dan punya semangat untuk mencapai mimpi tersebut. Semangat besar yang dimiliki pemuda membuat mereka yang berpikiran positif cocok untuk menggerakkan hati dan pikiran banyak orang. Sayangnya, belum banyak gerakan dalam skala besar yang dilakukan oleh pemuda. Memang sudah ada program-program yang dilakukan oleh beberapa organisasi mahasiswa, tapi jarang yang memberikan efek jangka panjang. Gerakan-gerakan sosial yang berhubungan dengan kegiatan HIV/AIDS secara signifikan sejauh ini lebih banyak dilakukan oleh organisasi sosial atau pemerintah.
            Kita perlu mengambil contoh dari luar agar bisa melangkah ke depan. Mari kita tengok Joint United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) yang menggerakkan 12 organisasi pemuda global dan regional yang bekerja dalam bidang kesehatan reproduksi serta 16 komunitas pemuda yang terbentuk dalam UNAIDS Youth Advisory Forum. Dengan prinsip think global but act local, forum ini bertujuan untuk menentukan arah yang jelas bagi para pemuda untuk bergerak bersama dalam membasmi HIV/AIDS. Fokus mereka sebagai pemuda terpelajar adalah advokasi kepada pemerintah dengan mengajukan sebuah kerangka strategis (framework) melalui advokasi. Prinsip yang layak kita anut bersama juga dalam pemberantasan HIV adalah prinsip zero new HIV infections, zero discrimination and zeri AIDS-related deaths.Suatu visi yang layak diperjuangkan.
           

Peran keluarga

            Keluarga memiliki peranan penting dalam penanggulangan HIV/AIDS di masyarakat. Kita dapat melihat dari 4 pendekatan kesehatan.
            Dari sisi preventif dan promotif, keluarga merupakan garis terdepan pertahanan terhadap HIV/AIDS. Perilaku seks bebas dan penggunaan narkoba dapat dicegah dengan memberikan pendidikan dini kepada anak, serta melakukan pengawasan yang diperlukan. Keluarga yang tidak harmonis dapat menjadi sumber gangguan perilaku pada anak dan remaja. Penularan HIV/AIDS pada bayi juga dapat dicegah dengan melakukan deteksini pada ibu hamil. Jawa Barat adalah salah satu provinsi yang mewajibkan deteksi HIV pada ibu hamil. Deteksi ini bertujuan agar penularan secara maternal dapat dihindari sehingga bayi lahir bebas HIV. Keluarga juga menjadi sarana pendidikan kehidupan yang sangat penting bagi anak dan remaja. Orangtua memiliki kewajiban mendidik anaknya agar tidak salah dalam pergaulan dan kemasyarakatan.
            Dari segi kuratif, belum banyak jurnal yang memberikan data pasti mengenai terapi untuk kesembuhan total dari HIV/AIDS. Untuk infeksi HIV, penggunaan jangka panjang dari highly active antiretroviral therapy (HAART) terbukti dapat menghambat perkembangan HIV, terutama jika dimulai dini. Untuk AIDS, Timothy Ray Brown, adalah salah satu atau mungkin satu-satunya orang yang sembuh total dari AIDS. Brown berhasil sembuh dengan melakukan bone marrow transplant dari seseorang dengan gen bawaan yang resisten terhadap HIV.
            Dari segi rehabilitatif, keluarga memiliki peran vital. Mulai dari hal yang paling dasar yaitu dukungan. Dukungan keluarga bisa jadi menjadi motivasi paling utama bagi seorang penderita HIV/AIDS untuk tetap hidup. Dukungan finansial juga menjadi penyokong yang penting dalam kelangsungan hidup penderita HIV/AIDS.


HIV/AIDS dalam masyarakat

            Satu hal yang paling penting adalah, penderita HIV/AIDS adalah manusia. Manusia memiliki hak hidup dan potensi yang masih dapat diberikan, sekalipun dia dalam kondisi sakit sekalipun.
            Andrew Pulsipher adalah salah satunya. Mengetahui dirinya HIV sejak berusia 8 tahun, Andrew kini sudah memiliki istri dan 3 orang anak yang semuanya HIV negatif. Andrew adalah bukti bahwa penderita HIV memiliki potensi dan hak kehidupan yang sama dengan manusia normal, hanya saja dengan usaha yang lebih. Andrew harus menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin untuk mensupresi penyebaran virus di tubuhnya. Tetapi dengan semua perjuangan itu, Andrew dapat menjalankan kehidupan sehari-hari, bekerja, memiliki keluarga, dan beraktivitas sebagaimana biasanya. Andrew bahkan kini sudah berani untuk membuka diri terhadap penyakitnya, dengan alasan dia ingin mengajak masyarakat untuk lebih paham mengenai HIV/AIDS.
            Lain ceritanya dengan LJ, di usia 7 tahun dia sudah harus dipanggil oleh Sang Pencipta dalam kondisi memprihatinkan. Kedua orangtua LJ sudah meninggal pada tahun 2012, sehingga LJ dirawat seorang diri oleh kakaknya, VC (24). VC, LJ sudah beberapa kali diusir warga dari tempat tinggal mereka saat diketahui bahwa LJ terkena HIV. Oleh anak-anak dan tetangga juga, mereka dikucilkan dan sering diolok-olok. Untungnya masih ada rumah sakit yang menerima saat LJ jatuh sakit. Pegawai rumah sakit tersebut bahkan mengumpulkan uang agar LJ dapat tetap makan. Tetapi akhirnya LJ tidak tertolong dan meninggal dalam usia dini.
            Pelajaran di atas menunjukkan kita betapa besar peran masyarakat dalam penanganan masalah HIV/AIDS. Keluarga adalah lini pertama dalam penanganan, mulai dari tempat berteduh, dukungan finansial, dan yang paling penting dukungan emosional. Keluarga bagi sebagian besar orang adalah alasan utama untuk  tetap bertahan hidup. Lebih jauh, pemuda memiliki peran dan potensi besar dalam penanganan HIV/AIDS. Dimulai dengan menjaga diri sendiri agar tidak tertular, juga menjadi inspirasi positif bagi pemuda lainnya. Ilmu agama yang kuat perlu dimiliki oleh seorang pemuda sebagai pondasi dalam bergaul di masyarakat. Pondasi yang kuat akan mempertahankan kegigihan pemuda dalam menahan gelombangan negatif yang datang dari pergaulan bebas di masyarakat.
            Pemuda sesungguhnya adalah tonggak bangsa yang memiliki kekuatan perubahan. Visi zero new HIV infections, zero discrimination and zeri AIDS-related deaths bukanlah susunan kata tanpa arti di hadapan pemuda. Pemuda memiliki potensi ledakan  perubahan saat mereka mau bersatu menggandengkan tangan dan berkolaborasi. Seperti yang bapak bangsa kita, Ir. Soekarno, pernah serukan, “Berikan aku 1000 orangtua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!”
            Hidup pemuda Indonesia!

No comments:

Post a Comment